Literasi yang Membumi: Kisah Tirto dan Nasihat Seorang Ibu
Oleh: Lucky Eka Kumara, S.Pd.
(Peserta workshop menulis bersama GBL, Guru SMP Negeri 2 Sedati)
Di sebuah desa
yang sunyi dengan aliran irigasi yang mengalir tenang, hiduplah seorang anak
laki-laki bernama Tirto. Ayahnya seorang petani sekaligus penjaga pengairan
(Jogo Tirto), begitu warga menyebutnya. Dari ayahnya, Tirto mewarisi semangat
mengabdi dan kesederhanaan hidup. Sementara ibunya merupakan sosok inspiratif
yang menanamkan nilai literasi sejak dini. Dari ibunya, ia belajar bahwa buku
adalah jendela dunia.
“Kamu sekolah di
mana saja yang penting mau belajar, rajin membaca, pasti jadi orang,” pesan
ibunda setiap hari.
Tirto kecil tidak
tumbuh dalam kemewahan. Keluarganya hidup sederhana. Namun kesederhanaan itu
justru membentuk karakter dan daya juangnya. Ketika teman-temannya
berbondong-bondong masuk sekolah negeri, ibu Tirto justru memasukkannya ke
sekolah swasta. Banyak yang meremehkan. Namun Tirto hanya diam. Ia memilih
percaya pada nasihat ibunda.
Hari-hari pertama
di SMP swasta terasa berat bagi Tirto. Kelasnya masuk siang. Jam kosong begitu
banyak. Ia melihat teman-temannya bermain, bercanda, dan membuang waktu. Sebuah
pertanyaan besar muncul di benaknya, “Sekolah seperti ini, aku mau jadi apa
nanti?”
Perasaan cemas
dan gelisah menyelimuti hatinya. Ia iri pada teman-teman lain yang bersekolah
di negeri dengan fasilitas lengkap. Apakah pilihan ibunda keliru? Apakah ia
akan tertinggal? Tirto hampir putus asa.
Namun suatu pagi,
ketika matahari baru saja terbit, ia teringat pesan ibunda. “Rajin membaca,
pasti jadi orang.” Tirto mengambil napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak
larut dalam kegelisahan. Setiap pagi sebelum sekolah dimulai pada siang hari,
ia mulai meminjam buku dari teman-temannya. Ia membaca dengan tekun. Lalu ia
menulis resume dari setiap buku yang dibacanya.
Perlahan, ia
mulai menikmati setiap lembar buku. Kata-kata asing menjadi sahabat.
Cerita-cerita baru menjadi guru. Tulisannya pun semakin rapi dan bermakna.
Tirto menyimpan semua resume buatannya di perpustakaan keluarga. Ia tersenyum
melihat tumpukan kertas usang itu. “Ini hikmah ketika aku mengikuti arahan
ibu,” ujarnya kemudian.
Perjuangan belum
berakhir. Tirto kuliah di IKIP Surabaya. Ia aktif di organisasi kemahasiswaan,
mengikuti diskusi ilmiah, dan terus menulis. Pada 1988, bahkan sebelum resmi
menjadi sarjana, ia sudah mulai mengajar di berbagai sekolah swasta. Gajinya
kecil. Fasilitas minim. Namun ia tidak mengeluh. Ia mengingat ayahnya yang
setia menjaga air mengalir ke sawah warga—tanpa pamrih, hanya karena panggilan
hati.
Tahun 1998,
setelah delapan tahun mengabdi di sekolah swasta, Tirto mendaftar sebagai PNS
guru dan diterima. Penempatan pertamanya di SMA Negeri 3 Taman, Sidoarjo. Di
sinilah titik penting kariernya dimulai.
Namun konflik
terbesar sebenarnya bukan dari luar. Ia adalah dari dalam diri Tirto sendiri.
Antara rasa cukup dan keinginan terus belajar. Antara pencapaian dan kerendahan
hati. Antara kesibukan dan pengabdian. Banyak godaan untuk berhenti berkarya.
Banyak tawaran yang lebih menggiurkan. Namun Tirto selalu kembali pada satu
prinsip: “Ojo rumongso iso, nanging iso rumongso.” Jangan
merasa bisa, tetapi harus bisa merasakan.
Meskipun deretan
penghargaan dan jabatan tinggi telah ia raih, Tirto tetaplah sosok yang
membumi. Ia dikenal sebagai pribadi yang low profile. Tidak ada
mobil mewah atau pakaian mencolok. Ketika wartawan datang untuk mewawancarai,
ia sering menjawab dengan senyum sederhana, "Tulis saja pengabdiannya,
bukan saya. Saya hanya biasa-biasa saja." Ia lebih memilih untuk tidak
tampil di papan nama atau spanduk. Baginya, ketenaran adalah beban, sedangkan
keteladanan adalah amal.
Di balik
kesibukannya menggagas kebijakan pendidikan, Tirto tidak pernah meninggalkan
dua sahabat setianya: Salat Duha dan Salat Tahajud. Setiap sepertiga malam
yang terakhir, ketika lingkungannya masih diselimuti gelap paling pekat, Tirto
sudah bangun. Bukan karena sulit tidur, tapi karena rindu pada munajat. "Tahajud
adalah senjata orang lemah sekaligus kekuatan orang yang sibuk," ujarnya.
Sementara sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri dua rakaat Duha. Ia
percaya bahwa literasi tanpa ruhani akan kering, dan kesuksesan tanpa berkah
akan sirna.
Tirto tidak
menyerah. Ia terus menulis. Hingga kini, 34 judul buku dan lebih dari 500
artikel telah ia hasilkan. Lebih dari 31 penghargaan ia raih di tingkat
kabupaten, provinsi, hingga nasional. Pada 2001, ia menjadi Juara 1 Lomba Karya
Tulis Ilmiah Integrasi Imtaq dan Iptek tingkat nasional. Pada 2008, ia terpilih
sebagai Kepala Sekolah Berprestasi. Pada 2025, ia dianugerahi The Best
Inspiring Leader of Change.
Namun kebanggaan
terbesarnya bukanlah semua itu. Ia paling bangga ketika bisa menggagas
gerakan-gerakan strategis untuk pendidikan. One Year One Innovation berhasil
menghimpun 336 inovasi. Gerakan Membaca Serentak 80.000 Pelajar tercatat di
Rekor MURI. Pada 2022, ia menginisiasi penerbitan 567 buku sekaligus, juga
tercatat di Rekor MURI. Pada 2023, gerakan konten video pembelajaran
menghasilkan 4.763 konten. Sidoarjo pun menjadi kabupaten pertama di Indonesia
yang sukses menyelenggarakan Kurikulum Merdeka lulus empat semester.
Semua itu ia
lakukan dengan hati yang rendah. Tirto percaya bahwa hard skill dan soft
skill harus beriringan. Pendidikan memiliki dua tugas utama:
humanisasi dan harmonisasi. Memanusiakan manusia. Membentuk manusia seutuhnya.
Ia pun pernah
menjadi kepala dinas di masa pandemi Covid-19. Waktu paling sulit. Banyak nyawa
terancam. Sekolah tutup. Guru dan murid cemas. Namun Tirto tidak mundur. Ia
mengingat ayahnya yang tak pernah berhenti menjaga air meski musim kemarau. Ia
mengingat ibunya yang terus menanamkan nilai literasi semasa kecil.
Kesuksesan Tirto tidak akan lengkap tanpa cerita tentang sang istri, Sudarwanti. Seorang guru swasta biasa yang setia menemani masa-masa sulit. Sudarwanti tidak pernah mengeluh. Ia yang membukakan pintu setiap kali Tirto pulang larut malam dari rapat dinas. Ia yang dengan sabar mendampingi anak-anak Tirto belajar saat sang suami sedang menyelesaikan naskah bukunya yang ke-34.
Bahkan, ketika Tirto merasa
ragu mengikuti program inovasi, Sudarwanti mengingatkannya bahwa tidak pantas
seorang pemimpin yang mengajarkan keberanian justru takut pada mimpinya
sendiri. Dukungan itulah yang membuat Tirto menangis tersedu saat menerima
penghargaan The Best Inspiring Leader of Change. Di atas panggung,
ia berbisik, "Penghargaan ini untuk ibu yang mengajari saya membaca, ayah
yang mengajari saya mengabdi, dan istri yang mengajari saya bahwa cinta sejati
adalah saling mengangkat."
Hingga kini,
Tirto masih mengabdi. Ia terus belajar. Ia terus menulis. Ia terus
menginspirasi. Bagi Tirto, kesuksesan bukanlah tentang jabatan atau
penghargaan. Kesuksesan adalah ketika ia bisa memberi manfaat bagi banyak
orang. Seperti air irigasi yang mengalir dari ayahnya dulu.
“Jika dulu
perkuliahan saya tidak berkualitas, mungkin saya tidak bisa berada di titik
ini,” ujarnya penuh syukur. Namun semua yang tahu perjuangannya akan berkata,
“Bukan hanya kualitas perkuliahan, Tirto. Tapi kualitas hatimu yang tak pernah
padam.”
Maka dari seorang
anak desa yang bersekolah di tempat sederhana, lahirlah seorang pemimpin
perubahan. Dari nasihat seorang ibu yang gemar membaca, tumbuhlah seorang
penulis produktif. Dari keteladanan seorang ayah penjaga air, terciptalah
pengabdi sejati. Tirto membuktikan bahwa mimpi tak pernah mengenal asal-usul.
Yang dikenalnya hanyalah ketekunan, kerja keras, hati yang selalu rendah, dan
keimanan yang tak pernah goyah.
PROFIL PENULIS
Lucky Eka
Kumara lahir di Tulungagung, 17 Maret
1997, dan menyelesaikan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di
Universitas Negeri Surabaya. Pada tahun 2022, ia mengabdi sebagai guru
bahasa Indonesia di SMPN 2 Sedati, serta aktif sebagai anggota
Gerakan Literasi Spendati (SMPN 2
Sedati). Adapun karyanya, antara lain, antologi budaya Melodi
Pesisir serta antologi cerpen Gemerlap Semesta. Selain
itu, ia terus berusaha meningkatkan literasi sekolah melalui kegiatan menulis
rutin yang diadakan di setiap event, baik bersama
siswa maupun rekan sejawat. Ia percaya bahwa menulis adalah
cara membisikkan ide kepada dunia, satu kata demi satu kata.

