Dari Kelas yang Sunyi ke Kelas yang Hidup

Dari Kelas yang Sunyi ke Kelas yang Hidup

Oleh: Septaria Lailatul Mukarromah

 

Saya masih ingat, dulu suasana kelas saya terasa biasa saja.
Ada buku, ada kegiatan membaca, tapi sering kali semuanya terasa seperti rutinitas.

Siswa membaca karena diminta, menulis karena tugas. Tidak lebih dari itu.

 

Kadang saya juga bertanya dalam hati,
“Apakah ini yang disebut literasi?”

 

Sampai akhirnya, saya mulai sering mendengar nama Bapak Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd, hadir dalam berbagai cerita tentang perubahan, tentang literasi yang perlahan mulai hidup di sekolah-sekolah.

 

Awalnya, saya tidak langsung merasa ada perubahan besar. Semuanya seperti berjalan biasa saja.

 

Tapi ternyata, perubahan itu datang pelan-pelan.

Saya mulai melihat siswa saya berbeda.


Ada yang mulai bertanya tentang isi bacaan,
ada yang mulai berani menulis dengan caranya sendiri,
meskipun masih sederhana.

Di situ saya sadar,
ternyata literasi bukan soal seberapa banyak buku yang dibaca,
tapi seberapa dalam mereka memahami dan merasakan.

 

Dan jujur saja,
yang berubah bukan hanya siswa saya.
Saya juga ikut berubah.

 

Saya mulai mencoba mengajar dengan cara yang berbeda.
Tidak hanya memberi tugas membaca,
tapi juga mengajak mereka berdiskusi,
mendengar pendapat mereka,
dan menghargai setiap proses belajar mereka.

 

Memang tidak selalu mudah.
Ada hari di mana kelas tetap terasa sepi,
ada siswa yang belum tertarik,
dan ada juga rasa lelah sebagai guru.

 

Tapi di tengah itu semua,
saya tetap melihat harapan.

 

Harapan dari siswa yang mulai berani berbicara,
harapan dari tulisan-tulisan kecil yang mereka buat,
dan harapan dari perubahan yang pelan tapi nyata.

 

Saya merasa,
inilah jejak yang sebenarnya.
Bukan sesuatu yang besar dan langsung terlihat,
tapi sesuatu yang tumbuh perlahan dan menetap.

 

Bagi saya, Bapak Tirto Adi, M.Pd bukan hanya tentang jabatan atau program.
Lebih dari itu, beliau seperti pengingat,
bahwa pendidikan itu harus bermakna,
dan literasi adalah salah satu jalannya.

 

Sekarang, saya tidak lagi melihat literasi sebagai kewajiban.
Saya melihatnya sebagai kebutuhan.
Bukan hanya untuk siswa, tapi juga untuk saya sendiri.

 

Dan kalau boleh jujur,
saya masih terus belajar sampai sekarang.

Belajar menjadi guru yang lebih sabar,
lebih mau mendengar,
dan lebih peka terhadap proses belajar siswa.

 

Saya percaya,
apa yang sudah dimulai ini tidak akan berhenti begitu saja.

Akan ada banyak guru lain yang melanjutkan,
akan ada banyak siswa yang tumbuh dengan cara berpikir yang lebih baik,
dan akan ada banyak cerita yang lahir dari gerakan ini.

 

Harapan saya sederhana,
semoga semangat literasi ini tetap hidup,
tidak hanya sebagai program,
tapi sebagai budaya yang benar-benar dirasakan.

 

Dan untuk Bapak Tirto Adi,
terima kasih sudah memulai langkah ini.

Langkah yang mungkin tidak selalu terlihat,
tapi sangat terasa bagi kami
yang menjalaninya setiap hari di dalam kelas.


 

Bionarasi


Septaria Lailatul Mukarromah adalah seorang guru yang berasal dari Sidoarjo. Ia memiliki ketertarikan dalam dunia pendidikan, khususnya pada pengembangan literasi dan pembelajaran Bahasa Inggris. Dalam kesehariannya, ia berusaha menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan bermakna bagi peserta didik. Ia percaya bahwa setiap siswa memiliki potensi yang bisa berkembang jika diberikan ruang untuk berpikir dan berekspresi. Selain mengajar, ia juga senang menulis sebagai bentuk refleksi dari pengalaman di kelas. Baginya, menjadi guru adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.

Previous Post Next Post