Dari Sebuah Pertanyaan, Cara Pandang itu Berubah.

 
Dari Sebuah Pertanyaan, Cara Pandang itu Berubah.

Oleh: Dianita Rahma Laili

SAYA masih ingat betul hari itu. Kursi-kursi ditata rapi, spanduk bertuliskan English Olimpyad of MGMP Bahasa Inggris tergantung di depan, dan panitia beserta para guru dari berbagai sekolah di Sidoarjo tampak sibuk kesana kemari memastikan semuanya berjalan lancar.

Sebagai guru Bahasa Inggris, sebenarnya saya terbiasa berbicara di depan kelas. Namun entah mengapa, hari itu ada rasa berbeda. Mungkin karena kami akan kedatangan seorang tamu penting, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Bapak Dr. Tirto Adi, M.Pd. untuk membuka kegiatan Olimpiade.

Ketika beliau datang, saya agak kaget. Tidak ada kemewahan yang menyertai atau “pejabat banget”. Tidak ada jarak yang dibuat. Ia berjalan dengan langkah tenang, menyapa beberapa guru yang ia temui, bahkan sempat berhenti sejenak untuk berbincang ringan dengan siswa yang tampak tegang menjelang olimpiade dimulai.

Di situlah kesan pertama saya terbentuk, beliau bukan tipe pemimpin yang ingin dilihat tinggi, tetapi ingin dekat.

Acara dimulai, dan saat beliau diberi kesempatan untuk memberikan sambutan, ruangan yang sebelumnya riuh mendadak hening. Saya kira beliau akan berbicara panjang tentang kebijakan atau program dinas. Namun ternyata tidak. Beliau justru memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana,

“Menurut Bapak Ibu, kenapa anak-anak kita perlu belajar Bahasa Inggris?”, pertanyaan itu terdengar biasa. Tapi cara beliau mengucapkannya membuat kami berpikir ulang. Beliau tidak langsung memberi jawaban. Ia memberi ruang.

Sebagai guru, saya merasa dihargai. Seolah kami bukan sekadar pelaksana kurikulum, tapi bagian dari pemikir pendidikan itu sendiri. Yang paling saya ingat adalah bagaimana beliau menyinggung tentang literasi.

“Bahasa bukan hanya alat komunikasi,” katanya, “tapi jendela untuk melihat dunia.” Kalimat itu sederhana, namun bagi saya sangat dalam. Selama ini saya mengajar vocabulary, grammar, reading text. Tapi hari itu, saya diingatkan bahwa yang saya ajarkan sebenarnya lebih dari itu untuk siswa memahami dunia yang lebih luas. Sejak saat itu, cara saya mengajar perlahan berubah.

Tidak hanya di acara olimpiade MGMP Bahasa Inggris, saya juga beberapa kali melihat beliau hadir di kegiatan sekolah lainnya, seperti kegiatan aktualisasi ekstrakurikuler dan purnawiyata, kemudian adanya relawan dari Amerika, Michelle Le juga didatangi. Beliau juga selalu mengapresiasi dengan adanya pembukaan oleh MC dengan 3 bahasa.

Yang menarik, beliau tidak pernah datang hanya untuk “hadir”. Ia selalu mengamati seluruh rangkaian acara. Setelah acara selesai, beliau mendekati kami para guru dan berkata, “Anak-anaknya punya potensi besar. Tinggal bagaimana kita menjaga semangat mereka agar tidak padam di tengah jalan.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi seperti pengingat halus bahwa tugas kami tidak hanya berhenti untuk membimbing mereka menjadi MC saja.

Dari beberapa pertemuan itu, saya mulai memahami karakter beliau. Tenang, tapi penuh isi. Tidak banyak bicara, tapi setiap kata memiliki arah. Tegas, namun tetap memberi ruang untuk tumbuh.

Sebagai guru, saya sering merasa lelah dengan rutinitas. Namun setiap kali mengingat cara beliau memandang Pendidikan dengan kesabaran dan pemikiran yang matang, saya seperti diingatkan kembali alasan saya memilih profesi ini.

Bagi saya, Bapak Tirto Adi bukan hanya seorang Kepala Dinas. Ia adalah sosok yang diam-diam menyalakan cara berpikir baru. Bukan dengan instruksi yang kaku, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kami, para guru, mau tidak mau, belajar kembali.

Dan mungkin, di situlah letak kepemimpinannya yang paling kuat, ia tidak hanya menggerakkan sistem, tetapi juga menyentuh cara pandang orang-orang di dalamnya.






 

BIONARASI PENULIS

Saya adalah seorang guru Bahasa Inggris yang percaya bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi juga tentang menyentuh cara berpikir dan membangun kepercayaan diri siswa.

 

Sehari-hari, saya mengajar di jenjang SMP, khususnya kelas 7 dan 9, sekaligus menjalankan peran sebagai wali kelas.

Menulis menjadi salah satu cara saya merefleksikan pengalaman sebagai pendidik. Dari kelas, dari siswa, dan dari setiap proses yang saya jalani, saya belajar bahwa menjadi guru adalah perjalanan yang tidak pernah selesai, selalu ada ruang untuk tumbuh dan memperbaiki diri. Bagi saya, menjadi guru bukan hanya profesi, tapi juga bagian dari panggilan hati.

 

 

 

Previous Post Next Post