Dari Kursi Belakang ke Halaman Pertama

 


Dari Kursi Belakang ke Halaman Pertama

Oleh Intan Febriani S.Pd.

(Peserta Workshop Menulis bersama GBL, Guru SMP Negeri 6 Sidoarjo)

 

Pagi itu, suasana di SMP Negeri 6 Sidoarjo terasa seperti biasa. Angin sejuk menyapa dari sela-sela dedaunan. Menyelinap lembut ke tiap sudut-sudut sekolah. Suara bel masuk tiba-tiba memecah keheningan. Seluruh siswa masuk kelasnya masing-masing. Langkah kaki bergegas terdengar di lorong, pintu-pintu kelas mulai tertutup, dan pelajaran pun dimulai.

 

Aku berdiri di depan kelas VIII C, memandang anak-anak yang masih tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Suara bisik-bisik, tawa kecil, dan gesekan kursi bercampur menjadi satu, memenuhi ruang kelas. Beberapa siswa tampak menguap sambil menyandarkan kepala di meja, sebagian lagi sibuk berbicara tanpa memperhatikan sekitar. Pemandangan itu terasa begitu akrab, terlalu akrab seolah menjadi rutinitas yang tak pernah berubah.

 

Di sudut belakang, dekat jendela yang sedikit terbuka, Dicky duduk santai bersama teman-temannya.

 

Dicky memang selalu di sana.

 

Dari tempatnya, ia lebih sering tertawa dan bergurau daripada memperhatikan pelajaran. Sesekali ia menoleh ke luar jendela, membiarkan pikirannya melayang entah ke mana. Padahal, aku tahu, dibalik sikapnya yang acuh itu, Dicky sebenarnya anak yang mampu. Ia cepat memahami jika mau fokus. Hanya saja, fokus itu jarang sekali ia pilih.

 

Hari itu, entah mengapa, aku merasa tidak ingin semuanya berjalan seperti biasa. Entah mengapa aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda.  Satu hal yang terus berputar di benakku belakangan ini, yaitu banyak siswa belum tertarik membaca. Terlihat dari kebiasaan mereka saat bersantai, tidak ada satu pun yang memegang atau pun menggenggam buku di tangannya.

 

Aku mengambil spidol, lalu menulis di papan tulis. Suara gesekan spidol di papan tulis terdengar jelas di tengah riuh kelas yang perlahan mereda.

 

“Hari ini kita mulai dari satu halaman.”

 

Anak-anak langsung memperhatikan. “Apa itu, Bu?” tanya salah satu siswa. Aku tersenyum. “Kita membaca. Satu halaman saja.”

Beberapa langsung mengeluh.

“Bu, ngapain sih…”

“Bosan, Bu…”

Dan seperti biasa, Dicky adalah yang paling keras bersuara.

“Ngapain baca, Bu? Mending main game,” katanya santai sambil tertawa.

Aku tidak marah. Aku hanya mengulang, “Satu halaman saja. Tidak lama.”

 

Hari pertama tidak berjalan mulus. Banyak yang hanya membuka buku tanpa benar-benar membaca. Dicky bahkan terlihat hanya membolak-balik halaman buku dengan malas. Begitu pula dengan yang lain. Ada yang bahkan tertidur di atas buku yang belum mereka baca sama sekali.

 

Namun aku tidak berhenti. Hari kedua, aku menulis lagi kalimat yang sama.

 

“Hari ini kita mulai dari satu halaman.”

 

Anak-anak mulai terbiasa, walaupun masih terpaksa.

 

Beberapa hari kemudian, sekolah kami mendapat kunjungan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Tirto.

 

Beliau tidak langsung menuju ruang kepala sekolah. Beliau justru melangkahkan kakinya menyusuri halaman sekolah. Langkahnya tenang dengan sepatu yang terdengar pelan menyentuh lantai koridor. Ia tidak terburu-buru. Pandangannya menyapu lingkungan sekitar, seolah benar-benar ingin memahami suasana yang ada.

 

Saat masuk ke kelas kami, beliau melihat ke arah papan tulis. Goresan tinta spidol warna merah buatanku rupanya menarik perhatiannya. Ia membaca pelan tulisan itu.

“Hari ini kita mulai dari satu halaman.” Ucapnya.

 

Suaranya lembut dan hangat. Wajahnya teduh mengingatkanku pada sosok pendidik yang penuh keteladanan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.

 

Beliau menoleh ke arahku, lalu tersenyum kecil.

“Bagus sekali, Bu,” katanya.

 

Tidak lama, beliau mendekati siswa. “Apa kalian sudah membaca hari ini?” tanyanya. Suaranya tidak keras, tapi membuat kelas seketika tenang.

Beberapa siswa mengangguk pelan. Dicky hanya diam.

 

Pak Tirto tidak menunjuk atau memaksa. Ia hanya berkata,

“Tidak harus banyak. Satu halaman saja sudah cukup untuk memulai.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi terasa berbeda ketika beliau mengucapkannya.

 

Hari-hari berikutnya, aku tetap menulis kalimat yang sama di papan tulis. Dan perlahan, perubahan kecil mulai terlihat. Ada siswa yang mulai benar-benar membaca. Ada yang mengerutkan dahi saat memahami isi bacaan. Ada pula yang diam-diam tersenyum karena menikmati cerita. Bahkan, ada pula yang terlihat membolak-balik halaman dengan cepat, seolah tak sabar mengetahui kelanjutan kisah yang mereka baca.

 

Namun Dicky masih sama. Ia tetap terlihat tidak tertarik.

 

Suatu hari, saat teman-temannya membaca, Dicky bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan menuju belakang kelas. Ia mengambil sebuah buku secara acak dari tumpukan. Awalnya hanya karena bosan.

 

Ia pun membuka halaman pertama.

 

Lalu kedua.

 

Lalu ketiga.

 

Tanpa ia sadari, ia mulai membaca.

“Apa yang terjadi selanjutnya ya?” Gumamnya pelan.

 

Hari itu, untuk pertama kalinya, Dicky membaca lebih dari satu halaman.

 

Keesokan harinya, tanpa disuruh, ia mengambil buku yang sama. Ia mulai menunggu waktu membaca. Aku memperhatikan itu, tapi tidak ada kata-kata yang kuucapkan. Hanya senyuman kecil yang terpahat di bibirku.

 

Beberapa minggu kemudian, Pak Tirto datang lagi. Seperti biasa, tanpa pemberitahuan.

 

Beliau masuk ke kelas kami dan melihat suasana yang berbeda. Anak-anak membaca dengan lebih tenang. Beliau tersenyum. Terlihat rasa senang dan bangga dari raut wajahnya.

 

“Tulisan di papan itu masih ada?” Tanyanya.

 

Aku mengangguk.

 

Dicky tiba-tiba mengangkat tangan.

“Pak… Aku sudah baca lebih dari satu halaman,” katanya pelan.

 

Kelas sedikit terdiam. Pak Tirto tersenyum hangat.

“Bagus sekali,” ucapnya lembut. “Semua yang besar, dimulai dari yang kecil.”

 

Sejak saat itu, Dicky berubah. Ia masih duduk di kursi belakang, dekat jendela, tetapi kini tangannya lebih sering memegang buku. Bahkan, ia mulai bercerita kepada temannya tentang kisah yang ia baca.

 

Suatu hari, aku melihat Dicky menulis sesuatu di buku tulisnya.

 

“Lagi apa, Dik?” tanyaku.

 

“Coba nulis, Bu. Sedikit saja,” jawabnya.

 

Aku tersenyum. Terbesit rasa bangga yang luar biasa dalam hatiku. Siswa yang mulanya paling keras menolak ini rupanya bisa takluk dengan buku yang sempat ia tentang. Hari itu aku menyadari sesuatu. Perubahan tidak selalu datang dari siswa yang rajin. Kadang, justru dari mereka yang paling menolak.

 

Aku kembali melihat papan tulis.

“Hari ini kita mulai dari satu halaman.”

Kalimat sederhana itu masih sama. Namun, maknanya sudah berbeda.

 

Dan dari situlah, aku percaya. Perubahan besar memang bisa saja dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti dari satu halaman buku yang dibaca dengan sungguh-sungguh dan hati yang benar-benar hadir di dalamnya.

 

PROFIL PENULIS


Intan Febriani lahir di Jember, 24 Februari 1998. Menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jember. Saat ini (tahun 2026) mengabdi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 6 Sidoarjo.

 

Dalam keseharian, berusaha menghadirkan pembelajaran yang sederhana namun bermakna bagi siswa. Terus belajar mengembangkan diri melalui pengalaman mengajar di kelas.

 

Bagi Intan Febriani, menulis merupakan cara untuk merefleksikan pengalaman serta menyampaikan gagasan secara jujur dan apa adanya.
Previous Post Next Post