Pendidikan Kita: Menjemput Nalar yang Tertinggal di Balik Angka


Pendidikan Kita: Menjemput Nalar yang Tertinggal di Balik Angka

Oleh: Titien Hardiana

(Pembina GBL | Pengawas Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Sidoarjo)

 

RATA-RATA nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2025 memberikan tamparan kecil yang cukup menyentak bagi kita semua. Dari 3,5 juta siswa, untuk 3 mata Pelajaran wajib memiliki nilai yang bervariasi.  Bahasa Inggris 24,93,  Matematika di angka 36,10 dan Bahasa Indonesia mencapai 55,38.  Angka-angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah jeritan diam dari ruang kelas kita.

 Kita harus berani melakukan refleksi dengan jujur. Benarkah angka-angka ini hanya soal kecerdasan siswa? Ataukah ini merupakan potret dari proses pembelajaran dan kompetensi guru yang selama ini belum terselesaikan ?

Berdasarkan data Nota Keuangan APBN 2025, meskipun negara telah mengalokasikan triliunan rupiah untuk tunjangan profesi bagi sekitar 1,2 juta guru ASN yang tersertifikasi, realita capaian akademik siswa masih menunjukkan tantangan yang besar. Hal ini diperkuat oleh data Dapodik yang menunjukkan bahwa meski kualifikasi akademik guru kita mayoritas sudah memenuhi standar S1, kompetensi riil dalam mengajar nalar masih menjadi ruang perbaikan yang mendalam.

 Sudah menjadi rahasia umum bahwa pembelajaran di kelas kita masih sering terjebak dalam pola procedural fluency. Guru lebih banyak melatih siswa untuk menghafal langkah-langkah teknis tanpa memahami esensi dari ilmu tersebut. Akibatnya, saat siswa dihadapkan pada soal yang menuntut interpretative skills dan penyelesaian masalah kompleks, mereka langsung kehilangan arah. Pembelajaran belum secara konsisten melatih reasoning atau penalaran yang menjadi fondasi utama berpikir kritis. Kita seolah-olah mengajar mereka cara menggunakan pisau. Namun tidak pernah mengajar cara memotong bahan makanan yang berbeda-beda.

Jika kita sepakat bahwa kompetensi guru adalah kunci, maka sistem pelatihan guru saat ini perlu kita bedah bersama secara tenang. Selama ini, banyak pelatihan guru yang tidak berbasis data dan cenderung bersifat "satu ukuran untuk semua". Materi yang diberikan seringkali hanya tumpukan konsep dan teori yang terlihat indah di atas kertas namun asing di ruang kelas. Ada jurang besar atau gap yang lebar antara teori yang diterima dengan keterampilan nyata yang dimiliki oleh guru. Guru akhirnya hanya berhenti pada tahap memahami definisi. Tetapi gagap saat harus mempraktikkannya di depan siswa.

Kesenjangan ini semakin diperparah dengan hadirnya pelatih-pelatih "instan" yang belum pernah merasakan dinamika di dalam kelas yang sesungguhnya. Inkompetensi dalam melatih guru sebenarnya bisa lebih berbahaya daripada sebuah kejahatan. Karena menyebarkan pemahaman yang keliru secara massal. Pelatih yang ideal seharusnya adalah seorang praktisi yang paham kondisi lapangan dan mampu memberikan solusi melalui concrete examples. Tanpa pengalaman nyata mengajar, pelatihan hanya akan menjadi retorika tanpa ruh yang tidak menyentuh akar permasalahan guru. Kita membutuhkan ahli yang mampu menjembatani teori akademik dengan realitas pedagogis yang seringkali tidak terduga.

Lantas, dari mana kita harus memulai perubahan besar ini agar tidak sekadar menjadi wacana? Langkah operasional adalah melakukan Needs-Based Training atau pelatihan berbasis kebutuhan nyata. Dimulai dari data; lihat di mana titik lemah siswa, lalu fokus pelatihan guru pada area spesifik tersebut. Pelatihan tidak perlu membahas terlalu banyak teori yang muluk-muluk dan membingungkan. Lebih baik kita fokus pada konsep-konsep mendasar atau core concepts yang langsung bisa dipraktikkan guru pada pertemuan kelas berikutnya.

Solusi nyata yang bisa segera dilakukan adalah penguatan komunitas belajar melalui model Lesson Study. Dalam model ini, guru tidak belajar secara teoretis, melainkan melakukan praktik nyata secara kolaboratif bersama teman sejawat. Mereka merancang penilaian bersama, mengamati proses mengajar, dan melakukan refleksi berdasarkan respons siswa secara langsung. Cara ini jauh lebih efektif karena bersifat kontekstual dan berfokus pada student-centered learning. Guru belajar dari praktik, oleh praktik, dan untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka sendiri setiap harinya.

Selain itu, setiap pelatihan harus memiliki sistem follow-up atau tindak lanjut yang konsisten dan berkelanjutan. Jangan biarkan guru berjalan sendirian setelah pelatihan selesai tanpa ada pendampingan yang berarti. Di sinilah peran kepala sekolah dan  pengawas bertransformasi menjadi seorang instructional coach atau pelatih instruksional. Kepala sekolah atau Pengawas masuk ke kelas bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memberikan umpan balik yang membangun. Melalui pendampingan yang intensif, guru akan merasa didukung untuk mencoba metode baru yang lebih menantang bagi nalar siswa.

Kita perlu mendorong terciptanya Assessment Literacy atau literasi asesmen yang kuat di kalangan pendidik. Guru harus mampu merancang alat ukur yang tidak hanya menguji ingatan, tetapi menguji kemampuan siswa dalam menganalisis informasi. Penilaian harus bervariasi dan mampu memantik rasa ingin tahu siswa terhadap isu-isu nyata di sekitar mereka. Jika kita mampu memperbaiki cara kita menilai, maka secara otomatis cara kita mengajar pun akan ikut berubah ke arah yang lebih dalam. Mari kita jadikan refleksi ini sebagai titik balik untuk memberikan pendidikan yang lebih bermakna bagi generasi masa depan.

"Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa TKA bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah komitmen kita untuk memberikan hak pendidikan yang berkualitas bagi setiap anak. Mari kita berhenti mengejar hasil instan dan mulai berinvestasi pada proses berpikir siswa. Jika kita berhasil membangun nalar mereka sejak dini, maka kita tidak hanya sedang menyiapkan siswa untuk mendapatkan angka baik tetapi kita sedang menyiapkan generasi yang siap memecahkan masalah di masa depan."

 

Sidoarjo, 11 Januari 2026

Previous Post Next Post