Ketika Kegelisahan Menemukan Kata

 

Ketika Kegelisahan Menemukan Kata

Oleh: Yayuk Dian Mandasari, S.Pd., M.Pd.
(Kepala SMPN 1 Jabon)

 

Menjelang akhir tahun, kegelisahan kerap datang tanpa diundang. Di tengah ritme kerja sebagai kepala sekolah yang dipenuhi rapat, laporan, dan target kinerja, saya sering berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.

“Apakah semua kesibukan ini sungguh menghadirkan perubahan yang bermakna bagi peserta didik dan guru? Ataukah saya hanya terjebak dalam rutinitas yang rapi di atas kertas, tetapi miskin jejak pada karakter dan cara berpikir?”

Konflik batin itu tidak mudah saya abaikan. Kesibukan kerja yang padat justru memperkuat rasa khawatir dalam diri saya terhadap arah pendidikan. Saya takut esensi pendidikan yang sesungguhnya terlewatkan di tengah rutinitas dan tuntutan administratif.

Kegelisahan tersebut memuncak ketika saya mulai menuliskan resolusi menyongsong tahun 2026. Saya membuka kembali catatan tahun-tahun sebelumnya dan mendapati banyak resolusi yang belum sepenuhnya tercapai. Bukan karena saya tidak berusaha, tetapi karena saya terlalu tergesa mengejar hasil tanpa menyiapkan proses yang matang.

Dari refleksi itu saya menyadari bahwa resolusi sering kali lahir dari semangat sesaat, bukan dari kesadaran yang mendalam. Di titik inilah saya merasa perlu berhenti, menimbang ulang, dan jujur pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya ingin saya ubah.

Dalam perenungan itu, satu kata terus muncul dan menuntut perhatian yaitu literasi. Selama ini membaca dan menulis memang menjadi bagian dari keseharian saya, tetapi belum sepenuhnya saya posisikan sebagai fondasi perubahan.

Padahal, dari membaca saya belajar melihat persoalan dengan lebih luas dan tidak tergesa mengambil kesimpulan. Sementara dari menulis, saya dipaksa untuk merapikan pikiran, menata emosi, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan. Saya mulai memahami bahwa literasi bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan cara berpikir dan bersikap.

Refleksi tersebut membawa saya pada kesadaran yang lebih dalam yaitu resolusi pribadi saya sebagai kepala sekolah tidak boleh berhenti pada ranah individu. Jika ingin berdampak, resolusi itu harus hidup dan bergerak bersama warga sekolah. Sekolah adalah ekosistem pembelajaran, tempat gagasan saling bertemu dan tumbuh.

Karena itu, saya memilih menjadikan literasi sebagai jalan bersama yang kami tempuh secara kolektif di sekolah, bukan sekadar program yang dijalankan untuk memenuhi target tertentu. Literasi saya posisikan sebagai budaya yang mengakar dalam keseharian guru dan peserta didik, serta hadir dalam proses belajar, refleksi, dan pembentukan karakter.

Dari kegelisahan itu lahir sebuah solusi konkret. Menyongsong tahun 2026, kami menyiapkan buku antologi cerpen karya kepala sekolah, guru, dan peserta didik dengan tema “Kerja Keras.” Tema ini merepresentasikan nilai ketekunan, kesabaran, dan semangat belajar yang kami hidupi setiap hari melalui kisah dan pengalaman.

Proses menulis antologi ini menjadi ruang refleksi kolektif. Guru menuliskan pengalaman pengabdiannya dengan jujur, peserta didik mengekspresikan mimpi, kegelisahan, dan harapannya, sementara saya menuliskan perjalanan kepemimpinan yang penuh pembelajaran.

Dalam proses itu, saya melihat bagaimana literasi bekerja secara nyata dan melatih ketekunan, menumbuhkan keberanian bersuara, serta membangun empati. Menulis tidak lagi sekadar tugas, melainkan sarana bertumbuh bersama.

Dari konflik batin, saya menemukan kejelasan arah. Literasi menjadi pijakan untuk menata resolusi melalui membaca, menulis, dan berkarya bersama. Resolusi 2026 tidak lagi bersifat pribadi, tetapi diwujudkan dalam karya yang melibatkan banyak pihak.

Saya kini semakin percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau program megah. Terkadang, ia lahir dari keberanian untuk mengakui kegelisahan, merefleksikannya dengan jujur, lalu mengubahnya menjadi solusi yang sederhana namun berkelanjutan.

Bagi saya, masa depan tidak cukup hanya direncanakan. Masa depan perlu dibaca dan ditulis secara sadar. Masa depan juga harus diperjuangkan bersama dengan literasi sebagai fondasi perubahan.


Sidoarjo, 3 Januari 2026

 
Terlahir di Banyuwangi pada 25 Juli 1981, Yayuk Dian Mandasari, S.Pd., M.Pd., yang memilih nama pena D14N, menautkan pengabdian pendidikan dengan denyut literasi. Sebagai Kepala SMP Negeri 1 Jabon, ia percaya bahwa kata-kata mampu membentuk cara berpikir dan menumbuhkan karakter. Latar Pendidikan Kimia dan Teknologi Pendidikan memperkaya sudut pandangnya dalam memaknai pembelajaran. Karyanya pernah terbit di Majalah Idea Dwija dan Jawa Pos. Tiga buku antologi, yaitu Kisah Dunia Faris, Jejak Adab di Setiap Langkah, dan Menanam Harapan dan Menulis Masa Depan menjadi saksi perjalanannya merawat makna melalui tulisan. Ia hadir di Instagram @b.dian_a4ik.

Previous Post Next Post