Oleh : Nuraini,S.Pd.Gr.
(SMPN 1 Gedangan)
Mengajar
merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan. Bukan hanya sekadar pekerjaan. Melainkan
sudah menjadi sebuah hobi dan pashion. Bertahun-tahun saya mengajar Bahasa
Indoneia di tingkat SMP, tidak pernah jenuh bahkan selalu ingin mencoba suatu
hal baru untuk terus mengembangkan program pembelajaran yang menyenangkan dan
bermakna bagi murid. Termasuk salah satunya adalah praktik pembelajaran dengan
sistem Tutor Sebaya.
Sistem
pembelajaran Tutor Sebaya adalah cara belajar bersama di mana siswa yang
lebih memahami materi membantu teman yang masih mengalami kesulitan. Dengan
cara ini, suasana belajar menjadi lebih akrab, bahasa yang digunakan lebih
mudah dipahami, dan siswa lebih berani bertanya. Metode ini biasanya dilakukan
dalam kelompok kecil dan dapat meningkatkan keaktifan belajar, kerja sama, rasa
percaya diri, serta kemampuan berkomunikasi siswa.
Sebagai guru Bahasa Indonesia saya menyadari bahwa keterampilan menulis, membaca, bertanya merupakan suatu hal yang sangat berkaitan. Namun pada kenyataannya siswa masih sering ragu dan takut dalam bertanya. Ketakutan dan keraguan dalam bertanya inilah yang mengakibatkan kurangnya pemahan dan rendahnya keterampilan literasi yang dimiliki siswa. Oleh karena itu saya memilih program / metode pembelajaran Tutor Sebaya.
Dengan kegiatan ini anak-anak menjadi lebih terbuka, tidak malu
bertanya kepada teman sebayanya/teman sekelasnya. Kegiatan ini mengembangkan
keterampilan berbicara, diskusi kelompok, serta pemahaman yang lebih mendalam/bermakna
karena didapat secara langsung dari teman yang dipercaya, dengan gaya bahasa
seumuran dan komunikasi efektif yang berlangsung dua arah, menjadikan siswa
lebih mudah memahami suatu teori.
Pengalaman yang pernah saya lakukan ketika mengajar di kelas 7, materi tentang Cerita Rakyat. Dalam cerita rakyat itu harus didapatkan pemahaman secara terperinci mengenai unsur-unsur cerita. Baik unsur intrisnik muapun unsur ekstrinsik. Dalam memahami kedua unsur ini kecendrungan siswa mengalami kesulitan dalam memahami unsur-unsur intrinsik teks cerita rakyat.
Dalam unsur-unsur intrinsik tersebuat terdapat banyak sekali bagian/ rincian yang lebih kompleks dari jenisnya. Hal ini menyebabkan nilai awal saat UH menunjukkan dibawah rata-rata, hanya sekitar 68-76 point. Disatu sisi ada beberapa siswa yang memiliki nilai cukup menonjol yakni antara 87-98 point. Para siswa yang memiliki nilai/point baik inilah yang kemudian memberikan inspirasi pada saya untuk menjadikan mereka I–Smart atau Tutor Sebaya bagi rekan-rekannya.
Selain berdasarkan point/nilai kriteria lain
yang saya pertimbangkan untuk memilih Tutor ini adalah kecakapan/keterampilan
berbicara, rasa percaya diri, memiliki keterampilan bekerja sama dan
berkordinasi yang baik, serta mampu menghormati dan bertoleransi yang tinggi
terhadap sesama, ramah, dan yang terpenting memiliki motivasi/ semangat dan
tanggung jawab yang tinggi terhadap suatu tugas yang diembankan.
Ada beberapa
langkah yang saya lakukan untuk menerapkan program Tutor Sebaya antara lain
1.
Membagi mereka dalam beberapa
kelompok kecil (4-5 murid)
2.
Dalam masing-masing kelompok
kecil saya tempatkan 1 Tutor
3.
Tutor diberikan tugas untuk memimpin
diskusi
4.
Naskah / materi yang dibahas
berbentuk teks tulis dan video naratif
5.
Mengajukan pertanyaan
6.
Memecahkan masalah/ menjawab
soal yang ada dalam kelompok tersebut
7.
Kemudian guru memberikan
evaluasi berupa tes lisan, tulis, maupun produk.
Setelah melakukan kegiatan program Tutor sebaya selama kurang lebih
dua minggu
(2 x
2JP + 2x3JP), Saya melakukan UH. Alhamdulillah hasilnya menunjukkan perbaikan
nilai secara signifikan. Para siswa memiliki nilai rata-rata di atas KKM. Yang
awalnya rerata 67-76 point naik menjadi rerata 80-90 point. Presentase kenaikan
mencapai 40 porsen. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang baik dan perlu
dilanjutkan untuk memperbaiki nilai siswa agar mencapai signifikansi yang lebih
tinggi.
Diagaram menunjukkan peningkatan nilai setelah dilakukan kegiatan/ program Tutor Sebaya
Perlu disadari tidak ada suatu metode/ program yang baik 100 porsen, demikian juga dengan program pembelajaran dengan konsep Tutor Sebaya ini. Ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan penggunaan Tutor Sebaya dalam proses pembelajaran antara lain, siswa menjadi lebih termotivasi untuk berperan sebagai tutor sebaya karena merasa dipercaya dan dihargai kemampuannya.
Metode
ini juga dapat meringankan tugas guru, sebab siswa yang memiliki pemahaman
lebih baik ikut membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan belajar. Bagi
siswa yang berperan sebagai tutor, kegiatan ini sekaligus menjadi sarana
remedial dan pengayaan materi sehingga pemahamannya semakin mendalam serta
motivasi belajarnya meningkat.
Selain itu, pembelajaran dengan tutor sebaya bersifat efisien karena
dalam waktu yang bersamaan lebih banyak siswa dapat memperoleh bantuan. Metode
ini juga mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan meningkatkan kepercayaan
diri siswa, baik sebagai tutor maupun sebagai peserta belajar. Siswa pun
menjadi lebih berani dan tidak sungkan untuk bertanya ketika belum memahami
materi, karena dibimbing oleh teman sebayanya sendiri.
Penggunaan tutor sebaya juga dapat menumbuhkan minat dan motivasi
siswa untuk mengembangkan kemampuan mengajar sehingga menjadi bekal menuju
sikap guru yang profesional. Proses pembelajaran menjadi lebih akrab, santai,
dan menyenangkan karena interaksi dilakukan antar sesama siswa, sehingga suasana
belajar terasa lebih nyaman dan efektif.
Dampak negatif/ kelemahan dari totor sebaya ini antara lain kurangnya penguasaan materi dari Tutor, sehingga memungkinkan kekurangjelasan/kekurangpahaman dari siswa lainnya. Selanjutnya bagi Tutor kadang merasa kurang serius karena harus mengajari teman sebayanya. Bagi guru sendiri secara keilmuan menyebabkan ia kurang pro aktif, karean ia membebankan/mendelegasikan tugas mengajarnya pada siswa yang ditunjuk sebagai Tutor Sebaya tersebut. Terlepas dari kelebihan dan kekurangnnya, yang pasti program ini sangat beramanfaat terutama untuk tujuan pembelajaran kooperatif dan meningkatakn karakter kerja sama.
“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” (William Arthur Ward). Yang terakhir dari saya, mengutip dari kata mutiara William Arthur Ward, bahwa seorang guru memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter, pola pikir, dan semangat belajar peserta didik yang sedang berada pada masa transisi penting dalam hidupnya.
Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjelaskan dengan penuh kesabaran, memberi contoh melalui sikap dan tindakan, serta menumbuhkan keteladanan dalam keseharian. Lebih dari itu, guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi, membangkitkan rasa percaya diri, dan menyalakan semangat belajar siswa agar berani bermimpi dan berusaha meraih masa depan yang lebih baik.
Dengan ketulusan, kreativitas, dan komitmen yang kuat,
guru menjadi sumber inspirasi yang akan dikenang dan memberi pengaruh positif
sepanjang hayat peserta didik. Guru hebat melahirkan tutor hebat, bermutu, dan
berkarakter. Salam semangat untuk seluruh guru di Indonesia.



