SLOW LIVING
Oleh : Supriyanto, SE. M.Pd
(Wakil Sekretaris GBL Sidoarjo)
Di sela kesibukan kerja dan bermasyarakat sepertinya jiwa ini
butuh waktu untuk sendiri dan menyendiri atau lagi trend disebut slow
living. Menyendiri itu untuk refleksi diri tentang apa yang sudah kita kerjakan
untuk kehidupan duniawi. Sebagai seorang guru IPS tentunya slow living
yang saya pilih sesuai dengan keilmuan saya yaitu melakukan perjalanan salah
satunya berkunjung ke situs sejarah
seperti candi.
Mengapa candi? Menurut saya candi itu penuh misteri mulai dari pemilihan letak geografis yang sangat sunyi dan terpencil seperti candi Jolotundo yang dilengkapi dengan petirtaan letaknya di lereng Gunung Penanggungan yang sunyi dan berlimpah mata air. Sampai sekarang airnya tak pernah surut walaupun musim kemarau bahkan air ini menurut informasi kualitasnya sangat bagus sangat jernih setelah air zam-zam.
Saya mencoba untuk
membasuh muka saya dengan air yang ada disitu dan sangat segar sekali sejuk
airnya, eh reflek kok saya kok meminum langsung airnya dari pancuran dan segar
sekali rasanya di tubuh
ini, entah kenapa saya tak terfikirkan tentang kuman-kuman di air yang belum dimasak ini alhamdulilah
tubuh saya baik-baik saja setelah meminum air tersebut.
Aktivitas di
candi dan petirtaan Jolotundo
sangatlah bermacam-macam.
mulai dari orang yang menyalakan dupa sampai ada yang mandi melakukan
penyucian diri di pancuran. Semua punya keyakinan masing-masing ketika
melakukan ritual tersebut tetapi saya tidak ingin ikut keduanya tetapi saya
selalu teringat tausiyah Gus Baha.
Menurut Gus
Baha tidak ada Nabi kecuali di
antara ibadahnya itu jalan-jalan (فَسِيرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ) sehingga
semua nabi pernah melakukan perjalanan internasional Rasululah Muhammad SAW
pernah jalan-jalan sampai ke Syam padahal beliau orang Mekkah. Nabi Ibrahim yang orang Syam pernah
perjalanan sampai ke Mekkah karena diantara kearifan itu dimulai dari
jalan-jalan kita ngerti orang yang macam-macam makanya di antara kebaikan umatku kata nabi itu (سِيَاحَة
فِي الأَرْضِ) sering berkelana tapi untuk mengambil pelajaran.
Dari tausiyah
yang disampaikan Gus Baha saya semakin yakin untuk selalu jalan-jalan. Awalnya sendiri saja
namun akhirnya saya dapat satu follower yaitu istri saya karena cerita-cerita
perjalanan saya yang menakjubkan sehingga membuat tertarik untuk ikut dengan
saya. Dari jalan-jalan ini akhirnya melahirkan tulisan human interest
yang bertema budaya dan dimuat
di harian Surya tentang candi dan petirtaan Jolotundo.
