SLOW LIVING

Sumber gambar: https://travel.kompas.com/read/2023/06/17/200800627/petirtaan-jolotundo-candi-dengan-kolam-pemandian-di-kaki-gunung-penanggungan

SLOW LIVING

Oleh : Supriyanto, SE. M.Pd

(Wakil Sekretaris GBL Sidoarjo)

 

Di sela kesibukan kerja dan bermasyarakat sepertinya jiwa ini butuh waktu untuk sendiri dan menyendiri atau lagi trend disebut slow living. Menyendiri itu untuk refleksi diri tentang apa yang sudah kita kerjakan untuk kehidupan duniawi. Sebagai seorang guru IPS tentunya slow living yang saya pilih sesuai dengan keilmuan saya yaitu melakukan perjalanan salah satunya berkunjung ke situs sejarah seperti candi.

Mengapa candi? Menurut saya candi itu penuh misteri mulai dari pemilihan letak geografis yang sangat sunyi dan terpencil seperti candi Jolotundo yang dilengkapi dengan petirtaan letaknya di lereng Gunung Penanggungan yang sunyi dan berlimpah mata air. Sampai sekarang airnya tak pernah surut walaupun musim kemarau bahkan air ini menurut informasi kualitasnya sangat bagus sangat jernih setelah air zam-zam. 

Saya mencoba untuk membasuh muka saya dengan air yang ada disitu dan sangat segar sekali sejuk airnya, eh reflek kok saya kok meminum langsung airnya dari pancuran dan segar sekali rasanya di tubuh ini, entah kenapa saya tak terfikirkan tentang kuman-kuman di air yang belum dimasak ini alhamdulilah tubuh saya baik-baik saja setelah meminum air tersebut.

Aktivitas di candi dan petirtaan Jolotundo sangatlah bermacam-macam. mulai dari orang yang menyalakan dupa sampai ada yang mandi melakukan penyucian diri di pancuran. Semua punya keyakinan masing-masing ketika melakukan ritual tersebut tetapi saya tidak ingin ikut keduanya tetapi saya selalu teringat tausiyah Gus Baha.

Menurut Gus Baha tidak ada Nabi kecuali di antara ibadahnya itu jalan-jalan (فَسِيرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ) sehingga semua nabi pernah melakukan perjalanan internasional Rasululah Muhammad SAW pernah jalan-jalan sampai ke Syam padahal beliau orang Mekkah. Nabi Ibrahim yang orang Syam pernah perjalanan sampai ke Mekkah karena diantara kearifan itu dimulai dari jalan-jalan kita ngerti orang yang macam-macam makanya di antara kebaikan umatku kata nabi itu (سِيَاحَة فِي الأَرْضِ) sering berkelana tapi untuk mengambil pelajaran.

Dari tausiyah yang disampaikan Gus Baha saya semakin yakin untuk selalu jalan-jalan. Awalnya sendiri saja namun akhirnya saya dapat satu follower yaitu istri saya karena cerita-cerita perjalanan saya yang menakjubkan sehingga membuat tertarik untuk ikut dengan saya. Dari jalan-jalan ini akhirnya melahirkan tulisan human interest yang bertema budaya dan dimuat di harian Surya tentang candi dan petirtaan Jolotundo.

Previous Post Next Post