Hilangnya 'Kutu Buku'

Hilangnya 'Kutu Buku'

Oleh: Ahmad Suprayogi

Kehadiran teknologi yang penuh dengan digitalisasi memang sangat diperlukan di era Gen Z sekarang ini. Namun sayang seribu sayang, kehadiran generasi Coding dan AI (Artifcial Intelligence) ini telah mengkamuflase bahkan menghilangkan generasi hebat 'Kutu Buku'.

Aku berasal dari sebuah desa di Kota Tahu, yang kala itu belum ada listrik masuk desa, jalan masih tanah asli alias belum di aspal. Tatkala masih duduk di bangku sekolah dasar mendengar ucapan 'Kutu Buku' yang terbayang adalah kutu, binatang kecil yang biasa bersarang di rambut anak-anak yang kurang terawat. 

'Kutu Buku' menurutku waktu itu adalah binatang kecil yang suka memakan buku, sejenis Ngengat. 'Kutu Buku' ternyata julukan orang yang suka membaca buku, bukan hanya sekedar membaca tapi mendalami isinya secara detail. Sehingga orang yang suka membaca buku, sudah dipastikan pandai dalam belajar, baik dalam prestasinya.

Namun sungguh memprehatinkan, kondisi sekarang 'Kutu Buku' sudah tidak saya temukan lagi, ataukah saya yang kurang jauh 'pikniknya'. Saya kira tidak....? Mari kita lihat.....!

Dulu, saya punya teman penjual jamu keliling, di sela-sela botol jamunya diselipi beberapa buku bacaan, di antaranya buku bergambar anak-anak, cerita anak, dongeng, cerpen, teka-teki silang, bahkan buku pelajaran setingkat SD dan SMP pun ada.

Setiap kali jualannya berhenti di pos-pos desa, langsung di serbu oleh ibu-ibu dan anak-anaknya berebut buku, minum jamu sambil membaca buku, dengan asyiknya.

Kebetulan aku bekerja di Surabaya, saat libur kerja aku sempatkan pulang ke desa, sungguh pandangan sangat menarik kala itu. Pada posisi di terminal bus, masih banyak sekali anak-anak remaja, mahasiswa membawa buku-buku dengan riangnya. Bahkan di bus-bus kota dari Jembatan Merah menuju Terminal Purabaya/Bungurasih tahun 1983 masih banyak muda-mudi membaca buku.

Begitu juga waktu di dalam bus, dari kanan kiri bangku yang saya tempati masih banyak remaja hingga orang tua asyik membaca buku. Tak mau kalah akupun asyik membaca buku yang aku senangi, yakni Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf berjudul ‘Bahan Ajar Penting Untuk Menulis’ terbitan tahun 1980.

Sungguh kontras dengan isi hatiku. Waktu duduk di bangku sekolah menengah pertama, hingga menengah atas sangat benci sekali dengan tulis menulis/mengarang. Bahkan waktu pelajaran bahasa Indonesia aku sering ‘mbolos’. Tetapi anehnya aku suka sekali membaca buku bahasa Indonesia itu. Ternyata aku masuk perangkap ungkapan orang Jawa ‘Gething Nyandhing’ he.. he… he……

‘Gething Nyandhing’ muncul lagi di tempat aku bekerja, tugasku adalah memilah dan memilih surat dari koresponden, termasuk juga menerima buku-buku baru dari percetakan untuk diresensi. Di antaranya dari Gramedia, dari Mizan, dari Bina Ilmu, masih banyak lagi, hampir semua cetakan buku selalu kirim buku baru di tempatku bekerja untuk diresensi.

Banyak sekali judul-judul buku yang sangat menarik untuk dibaca, sangat menggiurkan. Dari situ aku mulai gemar membaca buku, setiap hari tidak lepas dari buku, belum habis yang aku baca, sudah datang lagi buku-buku yang lebih bagus untuk dilahap dari lembar per lembar. 

Tak terasa, dari tahun ke tahun kondisi tersebut telah aku tekuni, tak terasa lagi ternyata aku juga sering menulis walaupun tidak tersohor, mulai dari resensi buku, cerita anak, cerpen, anekdot hingga jadi pembuat TTS di beberapa majalah, termasuk juga majalah internal ITS.

Itu semua akibat sering membaca hingga menjadi ‘Kutu Buku’, sekarang ini aku sering beranekdot ‘terjerumus’ ke dalam literasi he he he ……………..

‘Kutu Buku’ memang sudah hilang, kondisinya sekarang sudah ter-kamuflase dalam dunia Gadget, Gen Z tenggelam dalam gawai yang mengasyikan. Ada video yang beredar, seorang guru lagi menjaga siswanya ujian mengatakan anak-anak sekarang pintar sekali.

Saat ujian yang dilakukan secara Daring dengan menggunakan HP masing-masing, 50 soal ujian bisa terselesaikan kurang dari 30 menit. Begitu ujian dilakukan secara manual, 50 soal di kertas 30 menit belum ada yang selesai. 

Melihat kondisi sekarang, kangen rasanya menjadi ‘Kutu Buku’ lagi, semoga ‘Kutu Buku’ bisa hidup lagi, tidak ter-kamuflase kedalam Gadget. Banyak siswa di sekolah yang khusu’ dengan gawainya, saya kira asyik dengan pelajarannya, eh ternyata main game. Ampun bos.*

*) Praktisi Jurnalis Sidoarjo

Previous Post Next Post