Jejak Langkah Pertama Menjadi Penulis Pemula
Oleh: Abdullah Makhrus
SAYA tidak mengira hingga sejauh ini akhirnya bisa menjadi penulis. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dulu, doktrin dalam pemikiran saya, yang punya peluang menjadi penulis itu guru Bahasa Indonesia. Karena tiap hari ia berkecimpung di dunia kebahasaan.
Namun, akhirnya saya menyadari dan berkesimpulan bahwa siapa pun bisa menjadi penulis. Asal punya niat dan tekad. Saya sendiri memiliki background pendidikan di bidang teknik.
Pelajaran kesukaan saya matematika, bukan bahasa Indonesia. Kuliah awal saya di Kampus Politeknik Elektronika ITS Surabaya Jurusan Teknik Telekomunikasi. Nggak nyambung sama sekali dengan dunia tulis menulis.
Ingatan saya terbawa pada tulisan terindah pertama yang pernah saya buat. Tulisan itu bernama surat cinta saat di Sekolah Menengah Pertama(SMP). Itu pun ditolak oleh pujaan hati. Hahaha...
Prediksi saya, mungkin dia menolak karena tulisan surat cinta saya waktu itu terlalu absurd. Surat gombalan cinta yang hanya cocok jadi gombal atau keset kamar mandi. Wkwkwk.
Balik lagi, bagaimana bisa nyambung, lulusan teknik malah terjebak jadi penulis. Joko sembung naik becak. Tibake isok, Cak.
Terceburnya saya di dunia literasi setidaknya ada tiga penyebab gara-gara mengikuti tiga kegiatan pelatihan menulis.
Pertama, saya pernah mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) yang digawangi oleh Tendi Murti pada 10 Mei 2017. Kegiatannya full online melalui sosmed telegram. Seingat saya, satu mentor mendampingi lima belas anggota.
Yang paling saya ingat di kegiatan ini waktu itu, semua peserta diwajibkan menulis sebuah komitmen. Saya menganggapnya sebagai tulisan niat dan harus di publish di Facebook (sosmed terkenal pada jaman mbiyen)
Isinya harus tertulis kalimat ini, "Pada tanggal 10 Mei 2017(tanggal start belajar), saya degan IKHLAS mengizinkan diri saya menjadi PENULIS dengan menerbitkan minimal satu buku pada tanggal 14 September 2018(tanggal target jadi buku) dan menjadikan Best Seller atau lebih baik dari itu." Di atasnya diberikan foto, dan di bawahnya ada tanda tangan penulis ikrar menjadi penulis.
Foto tulisan komitmen menjadi penulis
Bisa dibayangkan, saya yang belum lancar menulis waktu itu sudah dimintai komitmen nulis niat sambil berkoar-koar ke khalayak. Saya kira itu hal yang paling memalukan tetapi harus dilakukan.
Karena itu bagian dari kurikulum pelatihan. Ya, mau tidak mau saya manut saja. Karena prinsip saya, kalau mau sukses harus manut sama petunjuk guru atau mentornya.
Dari sinilah mulai latihan menulis satu tulisan demi tulisan. Jangan ditanya bagaimana kualitas tulisan awal. Hmmm.. sungguh memalukan. Tapi dari sini, lompatan awal tulisan demi tulisan saya hasilkan.
Kedua, kegiatan workshop menulis yang diadakan komunitas Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo di BPMTV Kwangsan yang menghadirkan guru penulis Abah Dr. Much Khoiri, M.Si dan mas Eko Prasetyo.Komandan GBL waktu itu seingat saya Pak Bambang.
Kedua narasumber ini makin menguatkan saya untuk terus mencoba menulis. Apalagi, waktu itu Abah Khoiri memamerkan banyaknya buku karya beliau. Itu semakin memprovokasi saya untuk terus menulis dan menghasilkan karya.
Akhirnya saya berhasil menerbitkan buku. Buku pertama saya adalah buku Antologi. Nulis buku hasil keroyokan. Satu tulisan jadi satu buku. Enteng juga ya. Hehehe.
Foto kover buku: Buku antologi pertama dalam sejarah penulis
Ketiga, pelatihan menulis di sekolah SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo. Waktu itu menghadirkan wartawan Jawa Pos, Pak Arif(alm).
Di sesi akhir, beliau memberikan tantangan. "Siapa yang mau tulisannya masuk Jawa Pos? Saya tunggu satu minggu." Saya pun langsung angkat tangan dan menyanggupi, akhirnya di akhir deadline saya kirim tulisan itu.
Dengan sedikit polesan dari beliau, muncullah tulisan saya di Jawa Pos. Bayangkan, baru belajar nulis di media cetak, langsung tayang di Jawa Pos dan dibaca ribuan orang.
Bukan main senangnya waktu itu. Inilah yang makin mengompori saya untuk terus menulis hingga hari ini.
Akhirnya, saya berkesimpulan. Siapa pun bileh bermimpi menjadi penulis dan menerbitkan buku. Setidaknya satu buku seumur hidup Anda. Itu sebagai bukti prasasti yang menunjukkan bahwa kita pernah eksis, keberadaan pernah ada di dunia.
Untuk yang bermimpi menjadi penulis dan menghasilkan karya buku pertama siapa pun berhak dan layak mewujudkannya. Maka, tips praktis untuk menjadi penulis pemula menurut versi saya caranya gampang.
Pertama, bulatkan niat dan tekad.
Kedua, aktiflah untuk menulis secara istikamah.
Ketiga, posting dan publikasikan tulisan kita ke khalayak.
Keempat, mintalah masukan dari sesama penulis, terlebih pada guru menulis yang Anda pilih.
Terakhir, teruslah praktik menulis karena rahasia menjadi penulis hanya satu yaitu 5P. Praktik..Praktik..Praktik..Praktik..Praktik.
Jangan mimpi menjadi penulis apabila kita hanya mencukupkan diri hanya mengikuti ratusan pelatihan, namun tak pernah praktik menulis.
Serius dan masih berminat jadi penulis dan menerbitkan buku pertama Anda? Ayo budhal....
*) Abdullah Makhrus adalah penulis 12 buku. Trainer, Teacher, Writer. Ketua Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo. Portofolio tulisan lainnya bisa dilihat di www.abdullahmakhrus.com. 081333148884



Pengalaman perjuangan yang mengesankan
ReplyDeleteSemangat yang harus ditularkan.
ReplyDelete