Refleksi Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan: Jejak Literasi di Sekolah Perjuangan dan Sekolah Rakyat.

Refleksi Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan: Jejak Literasi di Sekolah Perjuangan dan Sekolah Rakyat.
Oleh : Muhamad Hari Purnomo Hadi, S.Pd., M.Pd. 
(Pengawas Cabdin Wilayah Sidoarjo, Pengurus GBL Sidoarjo-Koordinator MKKS,MGMP SMA, MA, SMK, MK)

Sahabat literat, tiada terasa kita memasuki hari hari terakhir di tahun 2025. Sudahkah Anda melakukan refleksi diri 2025? Apa Resolusi Anda di tahun 2026?. Apapun itu, silakan Anda menuliskan, dan mengajak keluarga serta murid untuk menuliskan segala impian yang jelas, spesifik dan terukur di tahun 2026. Semoga Allah SWT. berikan jalan kesuksesan dan keberkahan untuk kita semua. Aamiin.  Akhir tahun seringkali datang sebagai jeda mendalam di antara dua tarikan napas, menghirup dan melepas. Lalu dalam diskusi di kamar tengah dipenuhi cermin bertuliskan hati, terjadi percakapan jujur antara kita dan diri kita sampai pada pertanyaan paling jujur: apa jejak karya dan manfaat yang telah kita tinggalkan ?. Apa kebaikan yang telah kita perjuangkan? siapa yang telah kita bantu dan gerakkan? Sudah siapkah bekal jika ini menjadi tahun terkahir pengabdian kita di dunia?

Pada titik inilah saya duduk, mengambil jeda, menoleh ke belakang, bukan untuk menangisi kesedihan atas kegagalan yang terjadi atau impian yang terlewat. Bukan juga untuk meratapi segala ujian yang Allah SWT. berikan, bukan!. Melainkan untuk memahami proses diri secara jujur. Untuk menginsyafi dan mensyukuri, hingga rasa haru menguasai hati: Ya Rabb, betapa kerasnya dan sulitnya jalan perjuangan ini, betapa melelahkan sekaligus membahagiakannya jalan yang telah saya lalui sebagai seorang pendidik yang selalu tersenyum dalam pikiran yang berperang. Pendidik yang konsisten memilih berintegritas, setia pada kerja nyata, karya mulia, setia pada tergerak, bergerak dan menggerakkan dengan kesabaran dan tanpa tendensi jabatan atau pujian, meski terkadang asing dan seringkali sendirian.

Segalanya bermula dari bergeraknya diri dan ketergerakan hati. Dari kegelisahan kecil yang terus mengetuk batin ketika melihat pendidikan sebagai kunci membangun peradaban berjalan belum sebagaimana mestinya. ketika literasi terasa asing  dan ketika idealisme seringkali dihadapkan pada realisme, dan ketika harapan sering kali kalah oleh keadaan. Pada titik ini, saya memilih untuk tidak mengutuk kegelapan. Sebab kegelapan tidak akan selesai hanya dengan kita mengutuknya. Keadaan tidak akan menjadi baik hanya dengan kita bicarakan dan kita hina. Saya lebih memilih menyalakan diri agar bisa menyinari kegelapan. Bukan dengan sinar saya, melainkan sinarNya yang terpantul lewat dengan kerja dan karya nyata saya.

Jejak literasi di Sekolah Perjuangan 
Allah SWT. memilih SMKN 1 Sidoarjo sebagai jalan pengabdian pertama, tempat saya berkarya selama 16 tahun, dan tahun ini pengabdian sebagai guru di sana harus saya akhiri. Sekolah ini bagi saya adalah sekolah perjuangan, tempat saya belajar menjadi pribadi dengan segala keterbatasan sebagai seorang guru muda. Di sanalah saya ditempa oleh tantangan, diuji oleh kesulitan, dan dibentuk oleh keadaan. Awal mendidik bukanlah fase indah dan romantis. Ia keras. Ia berat. Ia menguras tenaga dan pikiran. Namun justru di sanalah saya tergerak bahwa jika pendidikan ingin berubah, pendidiknya harus lebih dahulu sadar. Saya memilih bergerak, meski sendirian, meski pelan-pelan, meski  diragukan. Inovasi dan Literasi saya jadikan jalan sunyi. Menulis sebagai obat lelah, membaca di antara tugas, mencatat pengalaman agar tidak hilang ditelan rutinitas.

Buku demi buku lahir, tulisan demi tulisan terbit, bukan karena ingin dibayar, bukan karena ingin dikenal, tetapi karena ingin berbagi dan menggerakkan. Ingin memberi makna pada perluasan pengabdian, agar sama sama kita berjama’ah berjuang mendidik bangsa dengan kemuliaan dan keteladanan. Dan pelan-pelan, energi itu menyebar, gerak itu menular. Dimulai di kelas, kemudian di sekolah hingga  MGMP. Pada 2018 saat ada salah satu Penerbit buku mayor menyelenggarakan seleksi penulis buku ajar. Saya pun mengajak teman teman pendidik untuk berkolaborasi dan mendaftar. Alhamdulillah seorang rekan guru hebat bersedia. Lahirlah buku pertama yang mendapatkan kontrak professional. Bukan honor menulis yang menjadi tujuan saya, melainkan potensi tersebarkannya ilmu dan kebaikan dari sabang sampai Merauke. Bagi saya menulis adalah jalan pengabdian kepada Allah SWT., maka segala bonusnya, mari serahkan kepadaNya.

Di sekolah perjuangan ini, tantangan dan masalah pembelajaran demikian kompleks. Pola berpikir bertumbuh menuntun saya untuk menerimanya sebagai tantangan, memilih bertahan dan menjadikannya peluang untuk belajar dan terus belajar. Maka hasil dari segala ikhtiar itu adalah Inovasi dan Kolaborasi. Jika saya melihat ke belakang, bisa disimpulkan bahwa segala karya prestasi, dedikasi dan literasi saya lahir dari tantangan dan masalah yang berbuah inovasi dan kolaborasi ini. Puncaknya adalah tahun 2023 saat saya berhasil melalui beberapa tahap seleksi hingga menjadi terpilih menjadi Penulis Buku Siswa dan Buku Guru Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila kelas X oleh Pusat Perbukuan Kemenristekdikbud. Buku ini Allah SWT. siapkan menjadi buku tempat saya berbagi praktik baik pembelajaran yang selama ini saya lakukan di Sekolah Perjuangan saya. 

Pada bulan bahasa oktober tahun 2024 Saya bersama dengan Pak Marsiman dan Pak Majid memberikan motivasi, inspirasi dan membimbing rekan pendidik SMKN 1 Sidoarjo untuk menulis artikel dari A sampai Z, bahkan dari Nol hingga Sembilan. Kami awali kegiatan dengan pendampingan luring secara langsung. Kami berikan motivasi, inspirasi, teori dan praktik menulis. Setelah itu kami lakukan pendampingan secara langsung yang kemudian dilanjutkan pendampingan individual yang fleksibel. 
Alhamdulillah tahun 2025 para rekan yang kami dampingi berhasil menerbitkan artikel- artikel tersebut di Majalah Idea Dwija. Beberapa tulisan tersebut di antaranya sebagai berikut. Alernatif Pembelajaran Sejarah di SMK (Bu Eka), Magang Luar Negeri : Antara Peluang Emas dan Tantangan yang harus Dihadapi (Bu Ziah), Tantangan Guru Matematika SMK Zaman Now (Bu Siwi), Perkembangan Aksara Jawa di era Gen Z (Bu Ayuk) dan Pemimpin yang Menghamba dan Melayani (Bu Denok) dan Olah Raga untuk Kesehatan dan Kualitas Hidup (Pak Jefri). Alhamdulillah semoga Gerakan Literasi di SMKN 1 Sidoarjo semakin maju dan bermutu di tahun tahun berikutnya.

Jejak literasi di Sekolah Rakyat
Dari jejak karya dan dedikasi yang terus dirawat, datanglah amanah baru. Tahun ini saya dimutasi menjadi pengawas sekolah di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Cabang Dinas Wilayah Sidoarjo Surabaya. Bagi saya ini  bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai panggilan tanggung jawab untuk lebih meluaskan pengabdian. Saya sadar sesadar-sadarnya, jabatan adalah pengabdian. Jabatan adalah rumah kerendahan hati untuk semakin melayani. Jabatan adalah ruang yang Allah SWT. siapkan, agar diri lebih bemanfaat dan bermakna. Saya membawa ruh sekolah perjuangan itu kepada Amanah baru dengan terus melainkan perbaikan dengan bekal ketekunan, kejujuran, dan keyakinan. Bahwa pengawas bukan sekadar penilai atau pengontrol., Ia adalah sahabat, pendamping, penggerak, pemantik, motivator dan inspirator untuk belajar dan maju bersama sama.

Tidak lama setelah menjadi Pengawas Sekolah, datang kembali amanah yang meneguhkan kesadaran saya. Sebuah kepercayaan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk menulis modul pembelajaran  bagi murid Sekolah Rakyat.dari Sabang sampai Merauke. Sekolah Rakyat tentu masih sangat muda usianya. Pro dan Kontra mewarnai kehadirannya. Modul Pembelajaran di sini tentu memiliki manfaat yang strategis karena memandu murid untuk belajar yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan. Dalam proses menulis modul pembelajaran, mengajarkan saya Sekolah Rakyat adalah ikhtiar mulia untuk mengentaskan kemiskinan secara kultural. Jika selama ini bantuan Kemensos RI dalam rangka pengentasan kemiskinan lebih sering berupa bantuan tunai kepada keluarga, maka paradigmanya kemudian digeser menjadi pengentasan kemiskinan secara kultural melalui Pendidikan. 

Keluarga Pra-Sejahtera tetap dibantu dengan bantuan tunai. Namun yang dikuatkan secara kultural adalah generasi penerus keluarga tersebut diberikan Pendidikan dan pembelajaran terbaik melalui Sekolah Rakyat. Modul yang kami tulis inilah sebagai salah satu sumber belajar mereka. Hal ini mengajarkan saya bahwa pendidikan sejati adalah keberpihakan. Ia tidak hanya bertanya siapa yang paling pintar, tetapi lebih pada siapa yang paling membutuhkan. Segala yang saya pelajari dan alami di sekolah lama tentang kerja keras, inovasi, dan literasi kemudian menjadi bekal paling jujur dan berharga untuk menulis bagi anak-anak bangsa yang hidup dalam keterbatasan. Tentu saya menggunakan pendekatan, gaya menulis dan bahasa yang dibutuhkan  oleh murid di Sekolah Rakyat. Sebab di sini, literasi bukan sekadar kemampuan membaca atau menulis, tetapi sebuah jalan penuh semangat dan energi untuk memulihkan martabat, menyalakan harapan, dan membuka asa ke masa depan.

Refleksi Akhir Tahun: Menjadi Pendidik yang Mulia Karena Karya
Pak Anis Baswedan saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pernah menyampaikan satu kalimat yang terus Saya yakini kebenarannya, yakni : Guru Mulia karena Karya. Bagi saya mulia di sini tersebab oleh bagaimana Allah SWT. Berikan pahala dan keberkahan dalam setiap karya kita. Kini saya mengerti, bahwa pendidik yang mulia bukanlah yang paling sering disebut namanya, melainkan yang paling banyak meninggalkan jejak kebaikan dan karya. Ia Pendidik yang tergerak untuk sadar dan menyadarkan, bergerak untuk berubah dan mengubah, Menggerakkan untuk beraksi nyata. Ia sadar bahwa ilmu dan kebaikan tidak cukup berhenti pada diri sendiri. Ia menuliskannya, Ia menyebarkan dan merawatnya dengan jalan istiqomah. Antara Sekolah Perjuangan dan Sekolah Rakyat, saya menemukan makna pengabdian yang utuh, bahwa karya adalah bentuk doa yang paling jujur, dan literasi adalah warisan yang tak lekang oleh waktu. Akhir tahun 2025 bukanlah sebuay penutup. Ia adalah janji sunyi untuk terus menulis, terus tergerak, bergerak, terus menggerakkan demi pendidikan yang lebih baik dan bermutu untuk semua. Semoga Allah SWT. ridhoi dan berkahi kita semua. Aamiin.
Previous Post Next Post