Refleksi Praktik Baik Literasi 2025: Menjaga Nilai Hormat di Tengah Arus Zaman
Oleh: Yupiter Sulifan
(Ketua Bidang Penulisan dan Editing Pengurus GBL Sidoarjo)
Refleksi praktik baik literasi selama tahun 2025 untuk kali ini saya mencoba menyoroti tentang budaya dan karakter anak-anak dan remaja terutama terhadap orang yang lebih tua. Berikut pemaparannya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai sopan santun pada generasi muda kerap mencuat. Media sosial sering menampilkan perilaku remaja yang dianggap kurang menghargai orang lain, individualistis, bahkan abai terhadap etika. Namun, di balik berbagai potret tersebut, masih banyak praktik baik yang patut direfleksikan dan dijadikan teladan, salah satunya adalah sikap hormat anak-anak dan remaja kepada orang yang lebih tua.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menjumpai anak-anak dan remaja yang secara spontan mencium tangan atau bersalaman (salim) ketika bertemu orang yang lebih tua. Menariknya, sikap ini sering dilakukan meskipun mereka tidak mengenal secara personal orang yang ditemuinya. Tanpa diminta dan tanpa rasa canggung, mereka menunjukkan gestur hormat yang sarat makna. Perilaku sederhana ini menjadi refleksi bahwa nilai adab dan etika masih hidup dan tertanam kuat dalam keseharian generasi muda.
Praktik salim bukan sekadar kebiasaan fisik, melainkan bentuk literasi budaya dan moral. Anak-anak belajar membaca situasi sosial, memahami posisi diri, serta mempraktikkan nilai penghormatan melalui tindakan nyata. Dalam konteks literasi yang lebih luas, hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks atau angka, tetapi juga membaca nilai, norma, dan kearifan lokal yang hidup di masyarakat.
Refleksi Praktik Baik Literasi 2025 menjadi relevan ketika kita menyadari bahwa pendidikan karakter sejatinya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Kebiasaan mencium tangan orang yang lebih tua umumnya berakar dari teladan orang tua di rumah, penguatan di sekolah, serta budaya masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap hari.
Di sekolah, praktik baik ini dapat diperkuat melalui pembiasaan, keteladanan guru, serta integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi model sikap dan perilaku. Ketika guru menyapa dengan santun, menghargai sesama, dan menampilkan akhlak terpuji, siswa secara tidak langsung belajar literasi sikap yang akan mereka bawa ke luar ruang kelas.
Di era digital, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi nilai di tengah paparan budaya global yang beragam. Namun, perilaku hormat yang masih tumbuh di kalangan anak-anak dan remaja menjadi penanda optimisme. Ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak sepenuhnya tercerabut dari akar budayanya. Mereka masih mampu mempraktikkan nilai luhur dalam kehidupan nyata, bukan hanya memahami konsep secara teoritis.
Refleksi ini mengingatkan kita bahwa praktik baik literasi sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana, namun bermakna. Tugas kita sebagai pendidik dan orang dewasa adalah menjaga, menguatkan, dan mewariskan nilai tersebut secara konsisten. Dengan demikian, literasi di tahun 2025 tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, beradab, dan berbudaya. Semoga
