PRAKTIK BAIK LITERASI SMPN 3 PORONG
Oleh: Amaliah, S.S., M.Pd.
(Sekretaris GBL)
Agustus 2025 menjadi titik balik bagi semangat literasi di SMPN 3 Porong. Setelah beberapa bulan disibukkan dengan berbagai agenda manajerial, saya merasa inilah saatnya untuk kembali ke akar. Akarnya yaitu mendampingi murid-murid saya bertumbuh melalui kata-kata.
Saya mengumpulkan mereka, anak-anak hebat yang tergabung dalam Duta Literasi, dan para pengurus OSIS. Mereka murid-murid yang memiliki ketertarikan tulus pada dunia kepenulisan. Di sebuah sudut sekolah, kami memulai sebuah perjalanan kecil yang kelak akan menjadi bagian dari napas School Religious Culture (SRC) di sekolah kami.
Ruang Berbagi yang Fleksibel
Kami tidak terikat pada kaku nya jadwal kelas. Terkadang, kami memanfaatkan Kamis pagi saat matahari masih malu-malu. Inilah wwaktu yang memang dijadwalkan sekolah untuk pembiasaan literasi. Di lain waktu, saat riuh rendah suara istirahat di hari Sabtu terdengar, kami berkumpul secara santai.
Dalam lingkaran itu, tidak ada sekat antara murid yang berbeda suku, ras agama. Kami duduk setara, saling berbagi pengalaman, perasaan, dan keresahan mereka selama berada di lingkungan sekolah.
Mengangkat Tema Moderasi dan Toleransi
Tema yang saya pilih selama beberapa bulan ini sangat krusial bagi masa depan mereka: Toleransi dan Moderasi Beragama. Di tengah keberagaman latar belakang siswa, saya ingin mereka memahami bahwa perbedaan bukanlah jurang, melainkan jembatan.
Praktik baik ini kami mulai dengan langkah sederhana: berbicara. Sebelum jemari mereka menyentuh kertas atau gawai, saya menggali pemikiran mereka. Conohnya:
"Apa arti toleransi menurutmu saat melihat temanmu yang berbeda keyakinan sedang berdoa?"
"Pernahkah kalian merasa bangga menjadi bagian dari keberagaman di SMPN 3 Porong?"
Diskusi lisan ini adalah cara saya "memancing" kejujuran emosional mereka. Saya ingin tulisan mereka memiliki jiwa, bukan sekadar rangkaian kata yang indah namun hampa.
Setelah pemikiran mereka tergali, tantangan berikutnya adalah menuangkannya ke dalam tulisan yang menarik. Saya memberikan kebebasan bagi para penulis muda ini untuk memilih jalannya sendiri, yaitu bisa berupa fiksi berbasis realita.
Mereka bisa mengambil kejadian nyata tentang toleransi di sekolah. Seperti saat murid saling menjaga ketenangan saat waktu ibadah tiba. Lalu mengemasnya menjadi cerita pendek dengan bumbu narasi yang menyentuh. Bisa pula sebagai fiksi murni. Murni dalam artian bebas imajinatif. Bagi mereka yang memiliki imajinasi, saya bebaskan mereka menciptakan tokoh dan latar baru yang merepresentasikan moderasi beragama menurut versi mereka sendiri.
Buah dari Ketulusan
Melihat mereka berdiskusi tentang bagaimana mengakhiri sebuah cerpen bertema moderasi adalah pemandangan yang mengharukan. Melalui pena, mereka belajar menjadi manusia yang lebih empati.
Inisiatif menulis bersama ini bukan sekadar mengejar selesainya sebuah buku atau artikel, melainkan upaya saya sebagai kepala sekolah sekolah untuk memastikan bahwa nilai-nilai religi dan karakter yang kami usung dalam SRC School benar-benar meresap ke dalam sanubari murid. Di SMPN 3 Porong, kami tidak hanya mencetak pembaca, tetapi juga penulis masa depan yang memiliki hati seluas samudera toleransi.
"Literasi adalah cara kita memanusiakan manusia, dan SRC adalah ruang di mana nilai-nilai kemanusiaan itu bertemu dengan ketakwaan."