Oleh: Abdullah Makhrus
"Bagaimana mungkin orang bisa menulis berbobot jika ia tidak suka membaca buku atau bacaan lain yang berbobot? Membaca dan menulis adalah dua keterampilan bahasa yang menjadi tulang punggung literasi. Membaca menyerap pengetahuan, menulis memproduksi pengetahuan" (Dr. Much Khoiri, M.Si)
MEMBACA buku diakui atau tidak memang belum menjadi kebiasaan banyak orang di Indonesia. Kalau tidak percaya, coba tanya lima orang di sekitar Anda. Buku apa yang mereka baca dalam bulan ini selain buku rekening?
Memang demikianlah kenyataannya. Mungkin Anda yang membaca tulisan ini pun kadang punya banyak buku di tumukan rak buku. Namun, kebanyakan belum sempat membacanya. Alasannya banyak sekali dan sebanyak apa pun alasannya, ia akan tetap berada pada posisi yang benar. Jenenge ae alasan rek!
Menyikapi urusan kebiasaan membaca, ada hal yang sangat menarik pada tulisan "Buku dan Literasi Harga Mati!" di buku "Menyuarakan Creative (Nonfiction) writing dari Ruang Ketiga" karya guru menulis saya, Abah Khoiri.
Beliau bercerita, bahwa dalam sebuah diskusi literasi Nusantara di SBO-TV pada bulan April 2017, terungkap secara gamblang. Salah satu penyebab penting rendahnya melek literasi masyarakat kita, salah satunya adalah tidak tersedianya buku di samping minat membaca bukunya rendah.
Ketidaktersediaan buku di rumah, tempat kerja, atau bahkan taman bacaan masyarakat bisa menjadi bagian penyebabnya. Termasuk tidak terbiasanya kita healing ke taman baca atau perpustakaan di sekitar kita.
Mari coba refleksi pada diri kita sendiri. Sebulan terakhir, belanja buku apa dan dimana membelinya? Sudahkah menganggarkan belanja buku setiap bulan? Kapan merencanakan meminjam buku jika memang tidak ada rencana membeli buku bulan ini?
Jika itu tidak kita kita lakukan, lantas sejauh apa peran kita mempercepat budaya literasi menyebar ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat kita? Karena itu, mari menjadi teladan. Teladan dalam membaca buku. Rasa-rasanya patut menjadi bahan renungan dari sebuah pepatah Arab, bahwa:
"Satu teladan lebih baik dari pada seribu nasihat".
Tanpa mengesampingkan peran penting dari nasihat, sungguh kesesuaian antara nasihat yang baik dengan keteladanan tentu akan menjadi poin sangat penting untuk mendukung pembiasaan literasi berjalan optimal.
Kita berharap semoga buku-buku tersedia berlimpah di sekitar kita. Jika kita tak mampu membeli buku dalam jumlah banyak. Setidaknya satu buku dalam satu bulan mestinya kita programkan.
Kalaupun Anda tak sempat membeli buku karena keterbatasan anggaran, bisa saja kita tukeran buku bacaan. Setelah itu tulislah sedikit ulasan untuk meyakinkan bahwa Anda memang sudah membacanya dengan kesungguhan.
Untuk penyediaan sumber bacaan di sekolah, kita bisa mengajak orang tua berperan serta menyediakan bahan buku bacaan agar anak-anak tidak kehabisan sumber membaca. Orang tua pasti senang kok bila anaknya jadi senang membaca.
Masih panjang perjuangan membudayakan literasi di sekitar kita. Tapi, Anda ndak perlu khawatir. Kita akan mulai bergerak bersama. Tepat seperti kata Abah Khoiri, "Membangun budaya literasi itu ibarat menanam biji tumbuhan, yang masa panennya tidak harus didekatkan dengan masa tanam."
Kalau mau cepet panen , tanam kelapa sawit. Sebagaimana kata Bapak e, "Saya kira ke depan kita harus tanam kelapa sawit. Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Bener enggak? kelapa sawit itu pohon. Ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida."
Lho, kok bablas mrene rek. Balik neh, lebih enak mana, menanam kelapa sawit apa menanam kebiasaan membaca? Hayo, siapa yang bisa jawab?!
