MENJAGA BUDAYA LITERASI DI SEKOLAH

MENJAGA BUDAYA LITERASI DI SEKOLAH
Oleh: Dra. Fety Susilawatie, M.Pd.

Sekolah sebagai  bagian dari agent of change memiliki peran yang cukup krusial dalam ikut membangun generasi muda  yang maju dan berkarakter. Lingkungan sekolah yang terstruktur , memiliki berbagai program kerja dan kegiatan yang sistematis, akuntabel dan holistic memberikan banyak kontribusi. 

Salah satunya membentuk dan membangun peserta didik yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan akhlak luhur yang sangat didambakan bangsa dan negaranya. Sudah seharusnya segenap warga sekolah saling bahu-membahu untuk dapat melaksanakan tugas mulia ini. 

Program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah satu dari program yang digagas pemerintah Indonesia, yang perlu kita dukung dalam penerapannya di sekolah. Sekolah memiliki tugas sebagai pelaksana utama dari program literasi nasional ini. Inovasi dan kreativitas dari warga sekolah sangat diperlukan agar pelaksanaannya menjadi lebih menarik, efektif dan kebermanfaatannya menjadi lebih terasa. Ke depan dapat menjadi suatu budaya yang melekat pada kehidupan peserta didik sebagai generasi penerus bangsa ini.

Saya mengambil judul “Menjaga Budaya Literasi di Sekolah”, karena saya merasa di mana pun saya ditugaskan, saya memiliki kewajiban untuk terus melakukan berbagai kegiatan yang dapat membangun budaya literasi. Termasuk menjaganya agar tidak semakin melemah karena pengaruh kemajuan jaman dengan  berbagai tantangan literasi di dalamnya. 

Saya menyadari bahwa budaya literasi sudah ada di lingkungan sekolah, namun perlu terus dipelihara, dipertahankan, ditingkatkan dan dilindungi dari faktor-faktor yang dapat melemahkannya di antaranya distraksi digital, kehadiran AI, minimnya minat baca, dll.

Beberapa upaya yang sudah saya lakukan untuk ikut menjaga budaya literasi di sekolah, dan saya yakin juga telah diupayakan dan dilaksanakan teman-teman lainnya antara lain : 

UKBI
Uji kemahiran berbahasa Indonesia adalah program rutin yang diikuti sekolah setiap tahun, untuk memotivasi peserta didik (kelas X-XI-XII) dalam mengasah kemampuan berbahasa Indonesia, kemampuan berliterasi dengan menggunakan Bahasa Indonesa dan tentunya juga untuk meningkatkan rasa nasionalisme mereka terhadap keberadaan dan fungsi bahasa Indonesia. Sekolah memberi reward bagi peserta didik yang berhasil meraih nilai unggul hingga istimewa.

Program Pembiasaan
Program yang ditata sedemikian rupa oleh pihak sekolah sehingga peserta didik disetiap hari akan melaksanakan pembiasaan yang lengkap, mulai dari literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi digital, dan literasi Al Qur’an. Kemudian menuliskan pendapatnya dalam buku literasi pribadi masing-masing, dan akan dikoreksi dalam jangka waktu tertentu oleh tim GLS sekolah.

SATELIT (Sabtu Literasi)
Merupakan program yang memberi wadah dan memotivasi segenap warga sekolah (GTK dan peserta didik) untuk mengirimkan karya literasinya tanpa takut salah dan penuh rasa percaya diri. Namun dengan penekanan merupakan karya sendiri dan bukan karya orang lain atau AI. Artikel-artikel tersebut akan disimpan dalam perpus digital sekolah yang dibuat dengan google site. Maka, dalam satu tahun sekali dapat dibuat menjadi satu buku antologi.

Mengaktifkan keberadaan dan manfaat mading sekolah dan mading kelas
Merupakan tempat/media untuk berbagi informasi penting, unjuk karya literasi peserta didik, membangun kreativitas peserta didik, membangun rasa percaya diri dan memotivasi pengembangan potensi diri hingga meraih prestasi, melalui tampilan karya literasi, juara-juara lomba, kegiatan sekolah, dan berbagai informasi penting lainnya.

Memberi motivasi dan tauladan agar dapat menjadi guru dan tenaga kependidikan yang literat
Seorang GTK yang literat adalah guru dan tenaga kependidikan yang memiliki dan menerapkan kecakapan literasi yang luas, mendalam, konstektual , efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Sehingga ia akan dapat menciptakan lingkungan yang kaya literasi, terus berinovasi dalam karya literasinya, dan menjadi role model bagi peserta didiknya dalam mengembangkan potensi literasi mereka. 

Mengadakan peringatan Bulan Bahasa dengan berbagai kegiatan yang bernuansa literasi
Upaya sekolah untuk terus mengembangkan kemampuan literasi peserta didik dan warga sekolah dengan berbagai lomba literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi digital seperti cipta dan baca puisi, konten kreator, membuat komik digital, bedah buku, pemilihan duta literasi dan duta baca. Semua dilaksanakan dalam nuansa peringatan Bulan Bahasa.

Seminar karya ilmiah GTK sekolah
Merupakan upaya untuk terus memotivasi GTK di sekolah agar dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan rajin membuat karya tulis ilmiah, artikel ilmiah, laporan praktik baik. Untuk kemudian didesiminasikan kepada teman-teman sejawat di sekolah melalui kegiatan seminar karya ilmiah GTK sekolah, hingga akhirnya dibukukan menjadi satu buku antologi karya ilmiah GTK sekolah.

Saya merasa bahwa tugas menciptakan dan menjaga budaya literasi di sekolah adalah hal yang tak boleh dianggap sepele, karena pengaruh kedepannya akan sangat terasa bagi bangsa kita di era kemajuan  jaman yang semakin masif. 

GLS yang menjadi dasar bagi pembentukan budaya literasi di lingkungan sekolah, tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan literasi warga sekolah, namun juga dapat menumbuhkembangkan budi pekerti dan nilai-nilai karakter bangsa  pada diri peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 

Jika karakter generasi penerus bangsa ini kuat dan unggul, maka masa depan bangsa dan negara Indonesia akan cerah dan kokoh. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa literasi adalah pondasinya (input), karakter generasi muda sebagai outputnya, dan masa depan bangsa merupakan akumulasi hasil dari upaya membangun generasi penerus bangsa yang literat dan berkarakter.
Previous Post Next Post