Menembus Sekat Psikologis dalam Menulis

Menembus Sekat Psikologis dalam Menulis
Oleh: Abdullah Makhrus
 

Jika Anda menjadi anggota sebuah grup dan Anda hanya "mengintip", menjadi silent reader tulisan demi tulisan di grup, maka itu bermanfaat untuk meningkatkan semangat menulis. Tapi, tidak akan membuat Anda bisa menulis. Menulis hanya bisa dengan terus menulis. Bukan dengan mengintip" (Prof. Ngainun Naim)


SAYA mengamati di beberapa grup pegiat literasi ada penulis yang sangat aktif menulis. Terus terang sebenarnya saya iri juga melihatnya. Seperti tidak pernah kehabisan energi untuk terus menulis. Namun, ada juga yang antusias hanya membaca saja. Sesekali memberi komentar atau memberi emoticon jempol, love, atau stiker-stiker lucu lainnya.

Namun, saya yakin ada banyak para peenulis pemula yang sebenarnya sudah terpantik untuk ingin ikut menulis gara-gara ada yang share tulisan. Namun sayangnya, mereka merasa terhambat karena persoalan psikologis saat hendak menulis.

 
Menurut salah satu guru menulis saya, Prof. Ngainun, persoalan psikologis yang acap kali menghinggapi penulis pemula adalah rasa takut, malu, nggak pede, ngerasa tulisannya belum bagus-bagus amat atau perasaan lainnya. Jika perasaan ini dipelihara, yakinlah seumur hidup Anda tidak akan berhasil menulis.


Saya nggak lagi medhen-medheni para penulis pemula. Karena memang tahap ini akan selalu dilewati. Jika Anda mampu melewati hambatan ini, Anda pasti akan menghasilkan tulisan.

 
Sejelek apapun tulisan Anda, jika itu orisinil buatan Anda, pasti Anda akan bangga. Daripada tulisan Anda bagus, tapi nggak pernah ditulis, nggak pernah dipublish. Hanya terbayangkan jadi tulisan yang beterbangan di angan-angan. Sambil menggerutu, sakjane aku mau arep nulis ngene lan ngunu.


Ketahuilah, tulisan awal dari seorang penulis pemula memang tidak bisa langsung bagus. Karena tulisan bagus lahir dari praktik nulis yang dilakukan rutin dan istikamah. Mau sebulan sekali, seminggu sekali atau lebih dari itu.


Jika Anda bingung mulai dari mana. Maka, bacalah sebuah buku kesukaan Anda. Tulislah setiap mendapat inspirasi dari buku tersebut. Tulisan ini pun lahir setelah saya membaca buku berjudul "Menulis Itu Mudah".

 
Mari hilangkan hambatan psikologis. Mulailailah dengan menuli.  Tulis, share, mintalah masukan, lakukan perbaikan. Tidak usah malu, karena itu bagian dari proses belajar menulis. Anda seharusnya malu kalau tidak menulis padahal sudah berlama-lama berada di grup menulis.

 

Trus, arep nulis kapan neh nek nggak saiki dulur? Monggo langsung di gas...


Catatan istilah:

medhen-medheni: menakut-nakuti 

neh: lagi

saiki: sekarang

dulur: saudara

sakjane: sebenarnya 

arep: mau

ngene lan ngunu: begini dan begitu


*) Abdullah Makhrus adalah penulis 12 buku solo dan antologi, guru sekaligus trainer menulis dan motivasi. Ketua Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo. 

1 Comments

  1. Mantap Kang! Saya merasa beneran. Jadina gak2 ngshare-ngeshare tukisan di grup. Isin, he he he

    ReplyDelete
Previous Post Next Post