Membaca Sekolah Lewat Langkah: Praktik Baik Literasi Berjalan di Sekolah Dasar
Oleh: Titien Hardiana, S. Pd., M. Pd.
(Pembina GBL | Pengawas Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Sidoarjo)
Banyak pihak masih menganggap peran
pengawas sekolah hanyalah sosok yang datang membawa instrumen dan pulang dengan laporan
administrasi. Namun, bagi saya, setiap kunjungan ke sekolah merupakan sebuah
proses "membaca" secara utuh. Menuliskan refleksi ini membuat saya
menyadari satu hal penting. Literasi bukan hanya soal teks di dalam buku,
melainkan kemampuan membaca situasi, lingkungan, dan emosi dalam sebuah
ekosistem pendidikan.
Dalam melaksanakan pendampingan pada
Sekolah Dasar di Korwil Tulangan, langkah pertama saya mulai dengan pengamatan tanpa batas. Saya memilih
untuk tidak langsung duduk di kursi empuk ruang tamu, melainkan memilih untuk
terus berjalan. Menjelajahi setiap jengkal sekolah. Mulai dari ruang kepala
sekolah, ruang guru, hingga seluruh kelas. Saya juga memperhatikan sudut-sudut
yang sering terlupakan seperti toilet, UKS, gudang, tempat parkir, musala
bahkan kantin. Mengapa hal ini saya lakukan? Karena bagi saya, kebersihan
toilet dan kerapian gudang adalah "teks" yang menceritakan bagaimana
karakter serta budaya sekolah tersebut dibangun.
Selama berkeliling, saya tidak
membiarkan ide menguap begitu saja. Literasi adalah tentang dokumentasi yang
cepat. Untuk itu, sering kali saya langsung memberikan saran secara lisan
kepada pihak sekolah yang mendampingi. Antara lain Kepala Sekolah, guru, bahkan
penjaga sekolah. Saya meminta kepala sekolah atau guru untuk mencatat poin
tersebut saat itu juga. Metode "Literasi Berjalan" ini memastikan
setiap temuan memiliki solusi instan. Hal tersebut juga terekam dengan baik
dalam ingatan maupun catatan mereka sebagai bahan perbaikan.
Interaksi saya pun tidak terbatas
pada struktural formal saja. Saya meluangkan waktu untuk berbincang dengan
penjaga sekolah dan penjual makanan di kantin. Mereka adalah saksi bisu
keseharian sekolah yang sangat jujur. Dari mereka, saya sering mendapatkan
potret nyata tentang bagaimana warga sekolah berinteraksi. Inilah yang saya
sebut sebagai literasi sosial, yaitu memahami sekolah dari perspektif yang
paling akar rumput.
Setelah data "terbaca"
secara menyeluruh, barulah kami duduk bersama. Kepala sekolah, seluruh guru
kelas, guru PJOK, Guru PAI bahkan penjaga sekolah terlibat. Di momen inilah
sebuah dialog bermakna terjadi antara kami. Saya tidak datang sebagai hakim
yang mencari kesalahan, melainkan hadir sebagai mitra bertumbuh. Saya sampaikan
temuan positif untuk diapresiasi dan area yang perlu diperbaiki bersama. Fokus
saya tetap pada proses pembelajaran guru serta kinerja sekolah secara total.
Saya mengajak mereka berdialog tentang hambatan yang menyesakkan dada sekaligus
menggali kekuatan yang selama ini mungkin mereka abaikan.
Sebagai bentuk literasi
administratif yang akuntabel, saya meminta guru mencatat hasil pertemuan dalam
Berita Acara Pendampingan di akhir hari. Dokumen ini bukan sekadar syarat
formalitas bagi saya. Berita acara tersebut merupakan "Jurnal Sejarah"
perkembangan sekolah yang kami tandatangani bersama sebagai pakta komitmen
untuk masa depan.
Bagian yang paling menggetarkan
hati adalah sesi refleksi di penghujung diskusi. Saya biasanya bertanya,
"Apa yang Bapak atau Ibu rasakan dengan kehadiran saya hari ini?".
Jawaban mereka sangat beragam dan jujur. Ada rasa lega karena didengarkan
hingga munculnya semangat baru karena mendapatkan solusi yang konkret. Respon
tersebut menjadi bahan bakar semangat bagi saya untuk terus mengabdi.
Validasi atas praktik ini semakin
diperkuat dengan kuesioner yang saya bagikan pada awal Desember 2025. Responden
terdiri dari Kepala Sekolah dan guru. Terdapat 208 jawaban yang hanya
menuliskan identitas asal Sekolah. Salah satu pertanyaan pada no.10. Pendampingan
yang saya berikan berfokus pada peningkatan kualitas
pembelajaran yang berdampak langsung pada murid. Data akurat menunjukkan
bahwa tingkat kepuasan kepala sekolah dan guru berada pada 60.6 % Sangat Puas, 38,9 % Puas dan 0,5 % cukup puas.
Pencapaian ini menyadarkan saya bahwa keberhasilan pendampingan tidak diukur
dari banyaknya kekurangan yang ditemukan. Keberhasilan nyata dilihat dari
seberapa besar perubahan positif yang terjadi setelah saya melangkah keluar
dari gerbang sekolah.
Praktik baik ini mengajarkan saya bahwa literasi dalam kepengawasan adalah seni membaca sekolah dengan hati. Saya belajar untuk mencatat dengan empati dan bertindak dengan solusi. Di sekolah, saya bukan hanya seorang pengawas, melainkan mitra yang tumbuh bersama mereka semua.
Sidoarjo, 20/12/2025