Kembali ke Kelas
Oleh: Didik Winarko
(Pengurus GBL Bidang Publikasi dan Pemasaran)
Hari itu
ia datang
lebih awal dari biasanya,
seperti seseorang
yang ingin
mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu
namun tak tahu caranya.
Kunci ruang kepala
tak lagi berputar di tangannya.
Bukan karena hilang, melainkan karena dunia
diam-diam mengganti pintunya tanpa bertanya.
Ia berjalan
menyusuri selasar, menyapa dinding-dinding sekolah yang hafal suaranya
saat memberi
keputusan, saat menahan lelah,
saat
berpura-pura kuat, dan saat menjaga
supaya
beban tidak jatuh ke pundak lain.
Peraturan turun seperti hujan, dingin dan tak memilih
siapa.
Ia menerimanya
dengan bahu yang tak lagi muda, dengan dada yang menyimpan lebih banyak diam daripada
kata.
Di ruang kelas,
spidol bergetar
di jarinya. Bukan gugup,
melainkan karena usia
tak pandai menyembunyikan rasa.
Namanya dipanggil
dengan nama yang jujur tanpa jabatan, dan untuk sesaat
ia kehilangan sesuatu
yang bahkan tak sempat ia rindukan.
Pintu pensiun
mulai berderit, ia bisa
mendengarnya
dari detik jam yang berjalan lirih,
seolah mengingatkan:
tak semua
perjalanan
boleh selesai
dengan pilihan sendiri.
Namun ia tetap
berdiri, menghadap murid-murid yang belum
tahu apa-apa tentang rasa
kalah
yang harus diterima dengan jernih.
Ia mengajar lagi,
sambil diam-diam belajar bagaimana caranya melepaskan
tanpa membenci.
Di papan tulis,
ia menulis
pelan— bukan pelajaran, melainkan cara bertahan
di dunia yang
terus berubah tanpa menunggu siapa pun siap.
Ia masih berdiri di kelas
dan ia paham:
pengabdian
tak selamanya diakhiri
tepuk tangan.
Waru, Desember 2025
