Berbagi Hati, Berbagi Rasa
Oleh : Insiyah
(Pengurus GBL Bagian Koordinator Pokja KKKS/KKG)
Berbagi hati memang berat, ditambah
berbagi rasa pasti semua membutuhkan keikhlasan dalam menjalaninya, walau
berdarah-darah bercapai ria tetap saja sebagai manusia biasa akan tetap menangis
bila harus berbagi hati dan berbagi rasa, tak semudah mulut berkata sabar jeng,
“kesabaranmu akan menemukan muaranya”. Dengan hati Ikhlas dan penuh tanggung
jawab kuterima warta harus berbagi hati dan rasa yang indah, maaf jangan salah
arti ya…
Memimpin satu lembaga saja
membutuhkan energi, waktu, dan ketulusan. Namun memimpin dua lembaga sekaligus
adalah amanah yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan manajerial. Dibutuhkan
hati yang lapang, empati yang dalam, serta kepekaan dalam memahami berbagai
karakter, kebutuhan, dan dinamika yang berbeda. Praktik baik “Berbagi Hati,
Berbagi Rasa” menjadi landasan utama dalam menjalankan peran kepemimpinan
di dua lembaga secara seimbang dan bermakna.
Berbagi hati dimaknai
sebagai kesediaan pemimpin untuk hadir secara utuh—mendengarkan, memahami, dan
merasakan apa yang dialami oleh warga lembaga, baik pendidik, tenaga
kependidikan, peserta didik, maupun orang tua. Sementara itu, berbagi rasa
adalah kemampuan untuk menyelami perasaan orang lain, merespons dengan empati,
serta memb see kebijakan dan keputusan dengan pendekatan kemanusiaan.
Bersikap sama dan adil
kepada semuanya tanpa membedakan status jabatan mereka, ini akan membantu
membangun kepercayaan,Kerjasama, dan moral kerja tim yang baik. Sama dan adil dalam
hal perlakuan,kesempatan,penghargaan,kritik dan umpan balik, hal ini akan
menciptakan lingkungan yang positif dan produktif.
Dalam memimpin dua lembaga,
praktik ini menjadi kunci agar tidak ada pihak yang merasa diabaikan. Setiap
lembaga memiliki identitas, budaya kerja, dan tantangan yang berbeda, sehingga
diperlukan keadilan emosional, bukan sekadar pembagian waktu secara
administratif.
- Komunikasi
yang Terbuka dan Hangat
Pemimpin berupaya membangun komunikasi dua arah yang jujur dan penuh penghargaan. Setiap masukan, keluhan, dan ide diperlakukan sebagai bagian dari proses bertumbuh bersama. - Kehadiran
yang Bermakna
Kehadiran tidak selalu diukur dari lamanya waktu, tetapi dari kualitas interaksi. Saat berada di masing-masing lembaga, pemimpin berusaha hadir sepenuh hati, fokus, dan responsif terhadap situasi yang ada. - Keadilan
dan Kepercayaan
Pembagian perhatian dan kebijakan dilakukan secara proporsional. Dengan memberikan kepercayaan kepada tim di masing-masing lembaga, roda organisasi tetap berjalan dengan baik meskipun pemimpin tidak selalu hadir secara fisik. - Empati
dalam Pengambilan Keputusan
Setiap keputusan diambil dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia yang terlibat, bukan hanya pada target atau capaian lembaga.
Praktik berbagi hati,
berbagi rasa membawa dampak positif, antara lain terciptanya iklim kerja
yang harmonis, meningkatnya rasa saling percaya, serta tumbuhnya semangat kolaborasi
di kedua lembaga. Warga lembaga merasa dihargai dan didengar, sehingga muncul
loyalitas dan komitmen untuk bersama-sama memajukan lembaga.
Selain itu, pemimpin juga belajar untuk terus merefleksikan diri—menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan ketulusan dalam melayani sangatlah penting dalam membangun hubungan yang baik antara PLt dan pejabat definitif, ini berarti berbagi pemahaman dan empati,berbagi informasi dan pengetahuan, berbagi tanggung jawab dan Kerjasama.
Memimpin dua lembaga bukan
tentang membagi diri secara terpaksa, melainkan tentang meluaskan hati untuk
menampung lebih banyak rasa. Melalui praktik baik “Berbagi Hati, Berbagi
Rasa”, kepemimpinan tidak hanya menjadi peran struktural, tetapi juga
perjalanan kemanusiaan yang penuh makna. Dengan hati yang terbuka dan rasa yang
peka, tantangan kepemimpinan dapat diubah menjadi ladang pembelajaran dan
pengabdian.
Buku dengan judul Pelita dari Ruang Kelas, menjadi karya tulisan sebagai saksi atas berbagi hati dengan guru-guru di sekolah saya. Kalau Anda, akan berbagi apa?
Wonoayu.13/12/2025
