Praktik Baik Pembelajaran Geografi
Berbasis SALTING (Spatial Thinking)
Studi Pembelajaran di SMAN 8
Oleh : Wangsa Jaya
SITUASI
Pembelajaran Geografi di sekolah menengah sering kali terjebak pada penguasaan
konsep secara verbal dan hafalan istilah, sementara esensi utama Geografi—yakni
pemahaman ruang, pola, dan keterkaitan antarfenomena—belum sepenuhnya
berkembang.
Akibatnya,
peserta didik mampu menjawab soal konseptual, tetapi kesulitan menjelaskan
fenomena lingkungan di sekitarnya secara logis dan kontekstual. Tantangan ini
juga dirasakan di SMAN 8, khususnya pada materi yang menuntut kemampuan
analisis keruangan.
Berangkat
dari kondisi tersebut, guru Geografi di SMAN 8 mengembangkan praktik baik
pembelajaran berbasis spatial thinking sebagai upaya meningkatkan kualitas
proses dan hasil belajar. Pendekatan ini menempatkan ruang sebagai kerangka
berpikir utama, sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui “apa” dan
“mengapa”, tetapi juga “di mana” dan “bagaimana keterkaitan antarruang”.
Tujuan Praktik Baik
Praktik
baik ini bertujuan untuk:
1.
meningkatkan
kemampuan berpikir spasial peserta didik,
2.
menguatkan
pemahaman konsep Geografi secara kontekstual, dan
3.
menumbuhkan
keaktifan serta kemampuan analisis peserta didik melalui pembelajaran bermakna.
Landasan Teoretis
Spatial
thinking merupakan kemampuan kognitif untuk memahami lokasi, jarak, pola, dan
hubungan keruangan dalam suatu wilayah. Dalam pembelajaran Geografi, berpikir
spasial menjadi fondasi utama untuk menganalisis fenomena alam maupun sosial.
Pembelajaran
berbasis spatial thinking mendorong peserta didik mengintegrasikan peta, data
visual, dan kondisi lingkungan nyata sebagai sumber belajar, bukan sekadar
pelengkap materi.
Pendekatan
ini sejalan dengan prinsip pembelajaran abad ke-21 yang menekankan keterampilan
berpikir tingkat tinggi, pemecahan masalah, dan literasi spasial sebagai bekal
menghadapi tantangan global.
Metode dan Pelaksanaan
Praktik
baik ini dilaksanakan pada peserta didik kelas X SMAN 8 pada materi analisis Pengetahuan
Dasar Geografi. Model pembelajaran yang digunakan adalah diskusi berbasis
masalah (problem-based learning) dengan penekanan pada eksplorasi ruang.
Tahapan pembelajaran meliputi:
1. Orientasi
masalah: Guru menyajikan fenomena lingkungan sekitar sekolah dan wilayah kota,
seperti pola banjir, perubahan penggunaan lahan, atau persebaran fasilitas
publik.
2.
Eksplorasi
data spasial: Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk membaca peta, sketsa
wilayah, dan data sederhana terkait fenomena tersebut.
3.
Analisis
keruangan: Peserta didik mengidentifikasi lokasi, pola, serta hubungan
sebab-akibat antarruang.
4.
Presentasi
dan refleksi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan melakukan
refleksi pembelajaran.
5.
Guru
berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses berpikir, bukan sebagai
satu-satunya sumber informasi.
Hasil
dan Dampak
Penerapan
pembelajaran berbasis spatial thinking menunjukkan dampak positif terhadap
proses dan hasil belajar. Secara kualitatif, peserta didik lebih aktif dalam
diskusi dan mampu mengemukakan pendapat dengan argumen keruangan yang lebih
logis. Mereka mulai terbiasa menggunakan istilah lokasi, jarak, dan keterkaitan
wilayah dalam menjelaskan suatu fenomena.
Secara kuantitatif, hasil observasi menunjukkan peningkatan keaktifan belajar dari sekitar 60 persen menjadi 75 persen. Kemampuan membaca dan menafsirkan peta meningkat dari 50 persen menjadi lebih dari 70 persen. Selain itu, nilai evaluasi pembelajaran menunjukkan peningkatan rata-rata kelas sebesar 12–15 poin dibandingkan pembelajaran sebelumnya.
Faktor
Pendukung dan Kendala
Keberhasilan
praktik baik ini didukung oleh kesiapan guru dalam merancang pembelajaran
kontekstual serta keterlibatan aktif peserta didik. Lingkungan sekitar sekolah
yang kaya fenomena geografi juga menjadi sumber belajar yang relevan. Adapun
kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan waktu pembelajaran dan variasi
kemampuan awal peserta didik. Namun, kendala tersebut dapat diatasi melalui
pengelolaan waktu yang efektif dan kerja kelompok heterogen.
Refleksi dan Tindak Lanjut
Refleksi
pembelajaran menunjukkan bahwa spatial thinking membantu peserta didik memahami
Geografi secara lebih bermakna. Pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai
kumpulan konsep abstrak, melainkan sebagai alat untuk membaca realitas ruang di
sekitar mereka.
Sebagai
tindak lanjut, praktik baik ini akan dikembangkan melalui pemanfaatan media
digital sederhana, seperti peta interaktif dan proyek pemetaan lingkungan
sekolah. Selain itu, pendekatan spatial thinking akan diintegrasikan secara
berkelanjutan pada materi Geografi lainnya.
Simpulan
Praktik
baik pembelajaran Geografi berbasis spatial thinking di SMAN 8 terbukti
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik. Pendekatan ini
tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan kemampuan
berpikir kritis dan kontekstual. Praktik baik ini layak direplikasi dan
dikembangkan sebagai strategi pembelajaran Geografi yang relevan dengan
kebutuhan peserta didik masa kini.




