Bukan Sekadar Pemegang Kunci: Reorientasi Pembinaan Tenaga Kependidikan

 

Bukan Sekadar Pemegang Kunci: Reorientasi Pembinaan Tenaga Kependidikan

Oleh: Titien Hardiana, S. Pd., M. Pd

(Pembina GBL | Pengawas Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Sidoarjo)

Dalam ekosistem pendidikan sekolah dasar, terdapat elemen sumber daya manusia yang memegang peranan krusial namun sering kali luput dari skema pengembangan keprofesian formal. Mereka adalah para penjaga sekolah sekaligus petugas kebersihan.

Di jenjang sekolah dasar, kedua peran ini umumnya dipikul oleh satu sosok tangguh: menjadi perawat kebersihan di ufuk pagi, dan menjelma penjaga keamanan saat malam tiba. Melalui dedikasi tanpa jeda ini, mereka sesungguhnya adalah garda terdepan pendidikan.

Proses pendampingan yang saya lakukan menunjukkan bahwa penjaga sekolah adalah personel yang paling memahami kondisi fisik sekolahnya. Bahkan, masa bakti mereka sering kali melampaui masa jabatan kepala sekolah maupun guru.

Mereka adalah saksi hidup perjalanan sebuah institusi. Namun, muncul realitas yang ironis: di tengah masifnya program pembinaan bagi kepala sekolah, guru, hingga operator, ruang pengembangan bagi penjaga sekolah hampir tak pernah ditemukan dalam agenda formal kedinasan. Seolah-olah, profesionalisme hanya milik mereka yang memegang pena dan buku, bukan bagi mereka yang menjaga marwah kebersihan dan keamanan lingkungan.

Sering kali dalam kunjungan ke berbagai sekolah, saya menjumpai aset bernilai sejarah tinggi, seperti lemari arsip kayu jati dan meja-kursi "gandeng" era kolonial. Sangat disayangkan, nilai historis di balik bangku-bangku tersebut sering terabaikan.

Tak jarang saya melihat aset berharga ini tergeletak di luar kelas, bertumpuk dengan furnitur rusak di gudang yang pengap. Padahal, ini adalah kekayaan daerah. Melihat hal ini, saya menekankan pentingnya penyelamatan dan perawatan aset tersebut sebagai bagian dari identitas sekolah.

UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya: Jika bangku tersebut berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, dan memiliki arti khusus bagi sejarah atau pendidikan, maka dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya.

Didasari oleh urgensi untuk mengakui eksistensi dan memberdayakan mereka, saya berkoordinasi dengan Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah( K3S ). Sebuah gagasan menyelenggarakan forum pembinaan bagi para penjaga sekolah di wilayah Tulangan. Atas dukungan kolektif seluruh kepala sekolah, ikhtiar untuk menempatkan mereka sebagai bagian integral dari warga sekolah yang berdaulat ini pun terwujud.

Respons yang muncul sungguh di luar dugaan. Pada hari pelaksanaan, seluruh penjaga Sekolah dari 35 Sekolah hadir. Memasuki ruang dengan pakaian rapi dan formal—sebuah pemandangan kontras dengan keseharian mereka.

Hal ini membuktikan sebuah premis penting: ketika institusi memberikan ruang penghormatan, setiap personel di dalamnya akan merespons dengan standar profesionalisme dan rasa bangga yang tinggi. Forum ini pun bertransformasi menjadi ruang emosional untuk membangun jejaring komunikasi antarsejawat yang selama puluhan tahun bekerja dalam kesunyian.

Dalam proses pembinaan, saya menerapkan metode komunikasi dua arah. Para peserta mendokumentasikan aktivitas keseharian mereka, mulai dari prapembelajaran hingga pintu gerbang terkunci. Lembar refleksi ini bukan sekadar daftar tugas, melainkan cerminan akuntabilitas dan kejujuran nurani dalam mengabdi. 

Proses ini menyingkap potensi luar biasa; mereka mampu berbagi "praktik baik" secara lisan yang sangat inspiratif bagi rekan sejawat dalam meningkatkan kualitas pelayanan di sekolah masing-masing.

Sebagai bentuk apresiasi nyata, kegiatan ditutup dengan pemberian penghargaan bagi empat penjaga sekolah terbaik yang mewakili setiap gugus. Pelibatan kepala sekolah dalam proses kurasi menjadi esensial untuk memastikan bahwa apresiasi yang diberikan bersifat objektif dan berakar pada kinerja nyata di lapangan.

Refleksi di penghujung acara memberikan catatan yang membekas. Seorang penjaga sekolah dengan masa kerja lebih dari dua dekade menyatakan dengan nada bergetar bahwa momen ini adalah pertama kalinya ia merasa dihargai sebagai manusia profesional di bawah naungan Korwil. Kesaksian ini adalah "alarm" bagi kita semua bahwa ada celah psikologis dan administratif yang selama ini memisahkan mereka dari sistem besar pendidikan.

Sudah saatnya pembinaan terhadap penjaga sekolah dan tenaga kependidikan lainnya dilembagakan secara rutin dan berkelanjutan. Profesionalisme mereka adalah prasyarat mutlak bagi terciptanya lingkungan sekolah yang aman, bersih, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak bangsa. 

Pengakuan atas keberadaan mereka bukan hanya soal seremoni, melainkan tentang memperkokoh fondasi operasional sekolah. Semoga langkah kecil dari wilayah Tulangan ini menjadi pemantik bagi lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih inklusif di masa depan.

Tulangan, 27 Desember 2025

 

Previous Post Next Post