MENAUTKAN HATI MELALUI AKSARA
Oleh: Wuri Yeni
(Guru SDN Krian 3)
“Pernahkah anda membaca sebuah kalimat dan seketika
merasa, wah, ini aku banget?” Itulah keajaiban aksara. Ia memiliki cara untuk
memeluk siapapun yang membacanya tanpa perlu raga yang bersentuhan. Tulisan
lahir dari keyakinan sederhana bahwa setiap kata yang ditulis dengan hati akan
selalu menemukan jalannya untuk pulang ke hati yang lain. Mari kita mulai
meniti jembatan ini, helai demi helai.
Kekuatan
di balik sebuah titik
Menulis bukan hanya soal tata bahasa, tetapi soal
mentransfer rasa dari satu perasaan ke perasaan yang lain. Dimana aksara
berfungsi sebagai medium perantaranya.Di era digital yang serba canggih ini,
kita semakin terhubung secara teknologi, namun sering kali merasa jauh secara
emosional. Aksara hadir untuk mengisi celah paradoks jarak tersebut. Aksara
juga menjadi filosofi menautkan, menautkan berarti mengikat dua hal agar tidak
terlepas.
Mengapa
Tulisan Bisa Menautkan Hati?
Aksara memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh
komunisasi lisan
·
Kejujuran
dalam kesunyian: seseorang seringkali lebih jujur saat menulis dari pada saat
berbicara. Kejujuran inilah yang menyentuh hati pembaca.
·
Keabadian
moment: ucapan bisa terlupakan, tetapi tulisan menetap. Tulisan memungkinkan
kita terhubung dengan hatiorang-orang di masa lalu atau masa depan
·
Ruang
interpretasi: pembaca melibatkan perasaan mereka sendiri saat membaca,
menciptakan dialog batin secara personal.
Bagaimana Cara Menulis Dengan Hati?
Untuk
bisa “Menautkan Hati,” sebuah tulisan perlu memiliki tiga eleman
1.
Keaslian
(Otentisitas)
Tulislah apa yang dirasakan, bukan hanya apa yang
ingin didengar orang
2.
Kerapuhan (Vulnerability)
Keberanian untuk menunjukkan sisi manusiawi (kegagalan, harapan, kesedihan)
yang akan membuat pembaca merasa “Saya tidak sendirian.”
3.
Diksi
yang Bernyawa
Memilih kata yang tidak hanya tepat secara logika,
tetapi juga memiliki bunyi di perasaan
Dampak
Koneksi Lewat Aksara
·
Bagi
penulis: Menulis menjadi proses penyembuhan (healing) dan refleksi diri
·
Bagi
pembaca: Merasa dipahami, mendapatkan kekuatan, dan melihat dunia dari
perspektif yang berbeda.
·
Bagi
komunitas: menciptakan jembatan pemahaman ditengah perbedaan
Jangan takut untuk memulai
menulis. Satu kalimat sederhana darimu, bisa jadi adalah jawaban yang dicari
oleh hati orang lain diujung sana. Mari jadikan setiap kata yang kita rangkai
sebagai batu bata untuk membangun jembatan, bukan dinding pemisah.
“Kata-kata mungkin hanyalah simbol hitam diatas putih, namun saat ditulis dengan hati, ia berubah menjadi pelukan hangat tak kasat mata”
