Dipertemukan Takdir Literasi


Dipertemukan Takdir Literasi

Oleh: Yayuk Dian Mandasari 

(Kepala SMPN 1 Jabon) 

 

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Menulis, bagi saya dulu, hanyalah pekerjaan tambahan yang terasa berat dan sering kali menyita energi. Semuanya bermula ketika saya dipaksa oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam kegiatan UTC pada tahun 2016. Saat itu, saya lebih sering bergelut dengan rasa malas dan penolakan batin daripada ide dan diksi. Setiap paragraf terasa seperti beban, setiap revisi seperti penghakiman. Konflik pertama saya dengan menulis lahir dari ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa profesionalisme menuntut lebih dari sekadar mengajar di kelas.

  

Gambar1:

Presentasi Kegiatan UTC tentang Media Pembelajaran Konfigurasi Elektron

(Bahan PTK)

Gambar 2:
Kegiatan Pembelajaran Menggunakan Media Pembelajaran Konfigurasi Elektron

(Siklus PTK)

Belum juga rasa enggan itu benar-benar hilang, datanglah paksaan berikutnya. Kepala sekolah meminta saya mengikuti lomba literasi Jawa Pos mewakili sekolah. Permintaan itu terasa seperti mendorong seseorang yang baru belajar berenang ke tengah laut. Saya tahu menulis PTK dan menulis untuk lomba adalah dua dunia yang berbeda. Ada rasa takut ditertawakan, takut gagal, dan takut tidak layak. Namun saya kembali memilih tunduk pada keadaan. Saya menulis dengan tangan gemetar dan hati waswas, lalu mengirimkan naskah itu tanpa keyakinan apa pun.

Hari pengumuman menjadi titik klimaks yang tidak pernah saya bayangkan. Nama saya disebut sebagai Juara Harapan I. Bukan gelar tertinggi, tetapi cukup untuk mengguncang cara pandang saya terhadap diri sendiri. Saat itu saya sadar, tulisan yang lahir dari keterpaksaan ternyata bisa menemukan maknanya sendiri. Ada kepuasan yang aneh, bukan karena menang, tetapi karena berhasil melampaui rasa takut. Saya mulai bertanya dalam hati, jangan-jangan selama ini saya terlalu cepat menolak menulis, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak berani.

 


Gambar 3 & 4:
Pemberitaan di Jawa Pos

Pemenang Lomba Karya Tulis Guru 2017

 

Namun hidup tidak memberi saya waktu lama untuk berpuas diri. Ketika saya dipercaya menjadi kepala sekolah, tuntutan berubah drastis. Jabatan membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar, dan menulis kembali hadir sebagai kewajiban moral. Konfliknya semakin tajam, di satu sisi saya lelah dengan urusan manajerial, di sisi lain saya sadar seorang pemimpin tidak boleh berhenti belajar dan berkarya. Saya tahu, guru dan peserta didik tidak hanya melihat apa yang saya katakan, tetapi apa yang saya lakukan.

Di titik inilah saya mulai memahami bahwa menulis bukan lagi soal prestasi pribadi. Menulis adalah teladan. Saya memaksa diri untuk tetap menulis, meski sering harus mencuri waktu disela-sela kesibukan. Saya mulai mengajak guru untuk menulis bersama, bukan dengan perintah, tetapi dengan contoh. Saya ingin mereka melihat bahwa menulis bukan milik orang berbakat saja, melainkan milik siapa pun yang mau belajar dan berproses.

Perjalanan itu tidak mudah. Ada guru yang menolak halus, ada yang terang-terangan merasa tidak mampu. Peserta didik pun awalnya canggung, takut salah, takut dianggap remeh. Di sinilah konflik kolektif muncul, antara budaya diam dan keberanian bersuara. Saya berkali-kali hampir menyerah, tetapi saya teringat satu hal, jika saya berhenti, maka api kecil yang mulai menyala itu akan padam sebelum sempat membesar.

Dari proses yang panjang dan penuh tarik ulur itulah lahir tiga buku antologi karya guru dan peserta didik berjudul Jejak Adab di Setiap Langkah. Buku-buku itu menjadi saksi bahwa adab, nilai, dan karakter bisa dirawat melalui tulisan. Klimaks berikutnya saya rasakan ketika melihat wajah-wajah bangga para penulis pemula yang akhirnya percaya pada diri mereka sendiri. Saat itu saya sadar, menulis telah menjelma menjadi ruang pembebasan.

Gambar 5:
Buku Antologi Jilid 1, 2 dan 3

 Namun ujian terbesar justru datang di penghujung tahun 2025. Menjelang hari lahir SMP Negeri 1 Jabon, saya mengajukan gagasan yang terdengar nyaris mustahil, yaitu menerbitkan 1054 pentigraf karya seluruh warga sekolah. Bukan hanya guru dan peserta didik, tetapi juga tenaga tata usaha, petugas keamanan, petugas kebersihan, penjaga kantin, hingga saya sendiri. Banyak yang meragukan, bahkan menganggap ide itu terlalu ambisius. Konflik memuncak ketika waktu semakin sempit dan naskah belum terkumpul sepenuhnya.

Hari demi hari kami kejar, kata demi kata kami kumpulkan. Ada yang menulis dengan bangga, ada yang menulis dengan malu-malu, ada pula yang menulis sambil tertawa karena merasa tulisannya sederhana. Ketika angka 1054 akhirnya tercapai, saya terdiam lama. Tema Adiwiyata yang kami usung terasa hidup, dan judul Menanam Harapan dan Menulis Masa Depan bukan lagi sekadar metafora, melainkan kenyataan yang kami bangun bersama.

Dan di sanalah antiklimaks itu hadir dengan tenang. Tidak ada gegap gempita berlebihan. Hanya rasa syukur yang pelan-pelan memenuhi ruang batin saya. Saya menoleh ke belakang dan menyadari betapa jauh perjalanan ini, dari menulis karena terpaksa, menjadi menulis karena tanggung jawab, hingga akhirnya menulis sebagai budaya. Saya tidak pernah bermimpi menjadi penulis, tetapi saya bersyukur pernah dipaksa, karena dari paksaan itulah, kami belajar menanam harapan dan menuliskan masa depan bersama.

Gambar 6:
Pemberitaan di Jawa Pos

Karya 1054 Pentigraf SMP Negeri 1 Jabon

 

 

Previous Post Next Post