Pengembangan Diri vs Tanggung Jawab Mengajar


Pengembangan Diri vs Tanggung Jawab Mengajar

Oleh: Yupiter Sulifan       

(Ketua Bidang Penulisan dan Editing Pengurus GBL Sidoarjo)

 

Menjelang akhir tahun ini, sungguh saat yang bisa dibilang super sibuk. Mulai masuk bulan Nopember hingga pertengahan Desember, banyak kegiatan pengembangan diri untuk guru. Mulai seminar, workshop, pelatihan hingga webinar yang diadakan oleh instansi pemerintah ini wajib diikuti apalagi kalau ada surat tugas dari kepala sekolah.

Ini fenomena yang cukup pelik. Di satu sisi, guru dituntut untuk mengembangkan kompetensi dan kinerjanya melalui pelatihan, workshop, dan seminar, baik daring maupun luring. Namun, di sisi lain, guru juga memiliki tanggung jawab untuk mengajar/membimbing di kelas dan memastikan bahwa murid-muridnya mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Bila kelas tidak ada gurunya, walaupun ada pemberian tugas, apakah bisa kondusif seperti yang diinginkan gurunya? Khan ada guru piket? Padahal jumlah guru piket dengan guru yang tugas luar itu jumlahnya jauh lebih sedikit.

Masalah lain, kegiatan pengembangan diri ini bersamaan dengan pelaksanaan ujian akhir semester. Hampir semua guru mapel ketiban sampur mengikutinya. Padahal, dalam kegiatan ujian ini ada yang menjadi panitia dan pengawas dengan waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan diri yang bersamaan.

Ini masih berlanjut, ujian selesai tugas guru selanjutnya memberi remidi hingga entri nilai di e rapor. Ini dialami penulis, saat ada tugas ke Bekasi dengan empat guru BK Sidoarjo. Dua orang diantara kami harus mengentri nilai selama perjalanan menuju Bekasi.

Bahkan setelah pembagian rapor pun masih ada kegiatan pengembangan diri yang harus diikuti guru.  

Mengikuti kegiatan pengembangan diri dapat membantu guru meningkatkan kompetensi dan kinerjanya, sehingga guru dapat memberikan pendidikan yang lebih baik kepada murid-muridnya. Selain itu, kegiatan ini juga dapat membantu guru memperluas jaringan dan berinteraksi dengan rekan-rekan sejawat, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan semangat kerja.

Namun, mengikuti kegiatan pengembangan diri juga dapat memiliki dampak negatif. Guru yang mengikuti kegiatan ini harus meninggalkan kelas dan murid-muridnya, sehingga dapat mengganggu proses belajar mengajar. Selain itu, kegiatan ini juga dapat memakan waktu dan biaya, sehingga dapat membebani guru secara finansial dan emosional.

Bila ngomong ideal, untuk mengatasi dilema ini, sekolah dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menyediakan kegiatan pengembangan diri yang relevan dan efektif bagi guru-guru. Kegiatan ini dapat diadakan pada hari libur atau di luar jam sekolah, sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar. Selain itu, sekolah juga dapat menyediakan alternatif kegiatan pengembangan diri yang dapat diakses secara daring, sehingga guru-guru dapat mengikuti kegiatan ini dari mana saja dan kapan saja.

Dengan demikian, guru-guru dapat meningkatkan kompetensi dan kinerjanya tanpa harus meninggalkan kelas dan murid-muridnya.

Masih dengan nada kelakar, bila kegiatan pengembangan diri dilakukan saat hari libur sekolah, apakah ada yang rela lagi ikhlas mengikutinya? Apalagi liburan akhir tahun seperti ini, nah.

Previous Post Next Post