TULISAN ITU MENAMPAR NURANI: REFLEKSI AKHIR TAHUN

TULISAN ITU MENAMPAR NURANI: REFLEKSI AKHIR TAHUN
Oleh: Sudarwanti
(Pengurus GBL Bidang Penerbitan)

Akhir Desember bukan sekedar penanda pergantian waktu, tetapi momen untuk menguji kejujuran diri. Apa yang kita jalani, dan bagaimana kita menjalaninya, layak untuk ditanya ulang. Di titik inilah refleksi menemukan maknanya, bukan menyalahkan masa lalu, melainkan untuk memahami diri dengan lebih jujur.
Socrates pernah mengingatkan bahwa “An unexamined life is not worth living.” Sebuah kalimat sederhana, namun dalam, tentang pentingnya keberanian untuk bercermin dan menilai kembali perjalanan hidup yang telah kita tempuh.
Refleksi semacam itulah yang saya rasakan ketika membaca beberapa tulisan dari rekan-rekan pengurus GBL. Ada tulisan yang selesai dibaca lalu hilang begitu saja. Namun ada pula tulisan yang tinggal, menetap dan diam-diam mengusik ruang batin kita.
Beberapa tulisan dari rekan-rekan pengurus GBL yang saya baca belakangan ini termasuk dalam kategori kedua. Ia tidak hadir dengan nada tinggi, tidak pula dengan kalimat yang menghakimi. Justru karena kesederhanaannya, tulisan-tulisan itu terasa menampar – bukan secara fisik, melainkan menampar nurani.
Saya membaca, lalu terdiam. Ada jeda yang tidak biasa. Sebab di antara kalimat-kalimat itu, saya menemukan cermin. Cermin tentang peran, keterlibatan, dan kejujuran dalam memaknai amanah sebagai pengurus. Dari situlah kesadaran itu muncul, mungkin saya sedang berada dalam fase “tidur panjang”.
Tidur panjang di sini bukan berarti abai atau tidak peduli. Justru sebaliknya, ada kepedulian yang tetap hidup, namun tertunda untuk diwujudkan. Ada niat yang baik, tetapi tertahan oleh kesibukan, rutinitas, dan rasa cukup karena merasa sudah berada di dalam lingkaran kepengurusan. Tanpa sadar, kehadiran menjadi formal, dan keterlibatan mulai berjarak.
Tulisan-tulisan itu seolah berkata tanpa suara: bahwa menjadi pengurus bukan hanya soal nama dalam kepengurusan atau hadir dalam agenda. Lebih dari itu, ia adalah soal kesediaan untuk terus bertumbuh, menyumbangkan pikiran, dan berani bersuara ketika dibutuhkan. Di titik inilah nurani saya tersentak. Sebab saya menyadari, diam terlalu lama bisa menjadi tanda berkurangnya kontribusi.
GBL, bagi saya, bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang nilai. Ruang di mana gagasan, kepedulian, dan keberpihakan seharusnya bertemu. Ia hidup bukan karena banyaknya kegiatan, tetapi karena adanya kesadaran kolektif dari para pengurusnya. Kesadaran untuk hadir secara utuh—dengan pikiran, hati, dan tanggung jawab moral.
Membaca tulisan sesama pengurus membuat saya belajar satu hal penting: bahwa keberanian menulis adalah bentuk kepedulian. Menulis bukan untuk terlihat paling aktif, melainkan sebagai ikhtiar menjaga ruh organisasi. Dari sanalah saya tersadar, bahwa tulisan yang baik tidak selalu nyaman dibaca. Kadang ia mengganggu, mengusik, bahkan membuat kita bertanya ulang pada diri sendiri: sudah sejauh apa saya berkontribusi?
Tulisan-tulisan itu menampar nurani saya bukan karena isinya keras, tetapi karena kejujurannya. Ia mengajak tanpa memaksa. Menyadarkan tanpa menuduh. Dan justru di situlah kekuatannya. Saya merasa dipanggil, bukan diperintah. Diajak bangun, bukan disalahkan.
Hari ini saya memilih menulis sebagai bentuk kebangkitan kecil dari tidur panjang itu. Bukan untuk menempatkan diri lebih baik dari siapa pun, tetapi sebagai pengingat bagi diri sendiri bahwa setiap pengurus punya peran yang bermakna. Sekecil apa pun kontribusi itu, ia akan berarti ketika dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan.
Tulisan ini bukan penilaian, melainkan refleksi. Bukan pula pembelaan, melainkan pengakuan. Bahwa GBL layak dijaga bukan hanya dengan kehadiran fisik, tetapi dengan keterlibatan batin. Bahwa organisasi yang sehat membutuhkan pengurus yang terus mau bercermin dan memperbarui niat.
Jika sebuah tulisan mampu membangunkan saya, maka menulis adalah cara saya ikut menjaga kesadaran itu tetap hidup. Hari ini saya memilih bangun. Bukan untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk ikut menjaga masa depan—dengan nurani yang tetap terjaga. Nach?!
Previous Post Next Post