Kenangan Sang Ayah di Dalam Dada

Kenangan Sang Ayah di Dalam Dada

Oleh: Acmad Fendy Rosyidin


Kenangan yang Belum Usai

Aku duduk di teras sore ini, menatap langit yang berubah warna dari jingga menjadi kelabu. Angin berbisik pelan, membawa aroma hujan yang belum jatuh. Di kejauhan, anak kecil berlarian mengejar layangannya, tertawa riang ditemani seorang lelaki yang dengan sabar mengulur benang. Dadaku tiba-tiba sesak. Sebuah rindu yang akrab datang menyapa, membawa serta bayanganmu, Ayah.

Sudah berapa musim berlalu sejak kepergianmu? Waktu terus bergulir, tetapi di sudut-sudut hati ini, jam itu seolah berhenti berdetak. Masih jelas dalam ingatan, suaramu yang dalam saat membacakan dongeng sebelum tidur. Masih terasa, genggaman tanganmu yang kasar namun hangat saat pertama kali mengajariku mengayuh sepeda. Masih tergurat, senyummu yang sederhana penuh kebanggaan di hari aku wisuda dulu.

Jejak-jejak yang Tak Tergantikan

Aku sering menemukan diriku melakukan hal-hal kecil yang dulu biasa kaulakukan. Mengatur perkakas di garasi dengan rapi seperti kebiasaanmu. Menyiram tanaman di pagi hari dengan ritme yang sama. Bahkan cara memegang sendok saat makan pun tanpa sadar menirumu. Dalam setiap kebiasaan itu, ada upaya untuk tetap merasakan kehadiranmu, untuk membuatmu tetap hidup dalam rutinitas sehari-hari.

Ayah, dunia ini terasa berbeda tanpamu. Tidak ada lagi tempat untuk bertanya tentang kehidupan, tentang bagaimana menghadapi kegagalan, tentang cara menjadi manusia yang baik. Tidak ada lagi tempat berlindung ketika badai dunia terasa terlalu kencang. Telponmu yang selalu siap di ujung garis, nasihatmu yang tepat pada waktunya, semuanya kini hanya tinggal kenangan.

Ruang Kosong di Setiap Peristiwa

Di setiap pencapaian, di setiap momen penting, selalu ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh kehadiranmu. Saat anak pertamaku lahir, aku memandangi wajah mungilnya dan bertanya-tanya bagaimana perasaanmu saat pertama kali memandangiku. Saat aku membeli rumah pertama, aku ingin sekali menunjukkan kepadamu setiap sudutnya, mendengar pendapatmu tentang taman yang akan kubuat.

Aku rindu obrolan santai kita di beranda sambil menyeruput kopi. Aku rindu cara kamu mendengarkan dengan sepenuh hati, tanpa menghakimi. Aku rindu kebijakanmu yang datang bukan dari buku-buku tebal, tetapi dari pengalaman hidup yang dijalani dengan integritas.

Warisan yang Tak Tampak

Kini aku mengerti, bahwa kepergianmu meninggalkan lebih dari sekadar kesedihan. Kau tinggalkan jejak bagaimana menjadi kuat namun lembut, tegas namun pengertian, sederhana namun bermartabat. Dalam diam, aku belajar bahwa rindu ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang mensyukuri bahwa pernah memiliki seseorang yang begitu berarti.

Ayah, meski jarak dan waktu memisahkan kita, cinta dan pelajaran hidup yang kau tinggalkan tetap menyala di dalam hati. Seperti bintang yang terus bersinar meski sang fajar telah tiba, kenangan tentangmu tetap menjadi penerang di langit malam jiwa ini.

Aku akan terus merindumu, dengan senyum di antara air mata, dengan syukur di balik duka. Karena dalam setiap rindu ini, aku menemukan bahwa cintamu masih ada tertanam dalam setiap keputusan baik yang kubuat, dalam setiap nilai luhur yang kujunjung, dalam setiap cara aku mencintai keluargaku.

Sampai kita bertemu lagi, Ayah.

 

Previous Post Next Post