Oleh : Nadia Sugiarti
(Peserta Workshop Menulis Bersama GBL, Guru
SMP Negeri 2 Sedati)
Tantangan datang ketika dipaksa untuk
menulis apa pun boleh dari berbagai genre tentang Bapak Kadispendikbud
Sidoarjo, Dr.Ng.TIRTO ADI MP, M.Pd. dalam waktu seminggu, yakni dari tanggal 10
April 2026 s.d 17 April 2026. Jujur jika ditanya kapan akan dikumpulkan?
Pastinya saya akan mengumpulkan di hari-hari terakhir menjelang deadline. Bukan
karena apa-apa sih melainkan lebih tepatnya yang ditulis bukan sembarang orang
nih. Sebagai kado terindah dan terspesial menjelang purna tugas beliau, tentunya
saya berpikir kali ini tidak boleh sembarangan menulis dan asal-asalan sehingga
inilah yang cukup membuat saya pusing. Bagaimana tidak? Saya harus menulis
seolah-olah saya adalah orang yang serba tahu tentang beliau mulai dari A
sampai Z. Padahal saya mengenal beliau hanya dari ‘casing’ yang terlihat
saja. Saya tahu beliau hanya pada saat even-even tertentu saja. Dan, bahkan
saya hanya paham beliau sedikit dan sebentar saja pada saat menjadi pembicara
di acara launching buku antologi karya siswa yang berhubungan dengan literasi
di sekolah kami, itu saja. Yah, selebihnya saya banyak melihat dan mengamati
dari pemberitaan di media tentang beliau.
Pak Tirto disebut-sebut sebagai Bapak
Literasi Sidoarjo karena sudah banyak bahkan tak terhitung jumlahnya tulisan
beliau yang di muat baik di media massa maupun di media sosial. Suami dari Ibu
Sudarwanti ini memang langganan juara menulis baik di tingkat daerah maupun
nasional yang menjadi hobinya sejak menjadi mahasiswa. Tulisannya tidak hanya
bergenre opini, ayah empat anak itu juga aktif menulis karya ilmiah di jurnal
kampus, dulu semasa kuliah.
Meski kiprahnya di dunia tulis-menulis
sudah lama dan tulisannya banyak menghiasi judul-judul koran maupun jurnal.
Sayangnya, saya baru mengenal tulisan beliau sejak tulisannya selalu menghiasi
halaman opini di salah satu koran di Jawa Timur, lebih tepatnya yakni koran
Jawa Pos. Ada banyak alasan mengapa saya membaca tulisan beliau : Pertama,
tulisannya sangat-sangat menginspirasi terutama ide-ide cemerlang buat guru di
Sidoarjo. Kedua, tulisannya relevan dan kekinian dengan dunia pendidikan
terutama di daerah Sidoarjo saat ini. Ketiga, penulisnya adalah kepala dinas
dimana tempat saya mengabdi. Sehingga mau tidak mau saya harus tahu apa saja
kebijakan beliau yang tertuang dalam bentuk tulisan-tulisannya itu. Keempat,
tuntutan dari kepala sekolah di tempat saya mengajar bahwa untuk selalu membaca
tulisan Pak Tirto setiap kali dimuat di koran. Pernah suatu hari, ibu kepala
sekolah saya membelikan koran sejumlah guru hanya karena disana termuat berita
tentang kegiatan launching buku antologi siswa di sekolah saya yang dihadiri oleh
Bapak Kadis. Senyumnya yang tak pernah sirna selalu berusaha mendinginkan
suasana, menghiasi halaman depan koran Jawa Pos. Kesan yang ada menurut saya,
tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Jika setiap kali ada
kegiatan literasi, beliau selalu siap dan support sepenuhnya untuk menghadiri.
Sesibuk apapun jika diundang untuk kegiatan literasi selalu disempatkan untuk
hadir. Nah, dari sinilah sedikit demi sedikit saya mengenal beliau melalui performanya
di lapangan dan idenya di goresan pena.
Ada satu tulisan Pak Tirto yang kala
itu lumayan cukup menyita perhatian saya. Tulisan yang mana kah?? Tulisan yang menghiasi
halaman opini Sidoarjo, lebih tepatnya bagian Guru Sidoarjo Menulis, di koran
Jawa Pos tertanggal 15 November 2024. Setelah membaca tulisan beliau, entah
bagaimana saya menjadi terkesima dan timbul niatan untuk lebih intens lagi menulis. Dalam hati saya berkata, “Nih lo
kepala dinasmu aja sudah memberikan ruang gerak untuk menulis terutama
guru-guru di Sidoarjo. Di sini lah tempatnya, untuk menuangkan ide-ide
cemerlang guru-guru yang notabene berada di Sidoarjo. Kapan kamu mau nulis??”.
Judul tulisan Sang Maestro di kolom
tersebut adalah “Guru Penulis, Why Not?”. Dalam tulisan beliau menjelaskan
bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Sidoarjo telah menjalin
kerja sama kemitraan dengan media cetak nasional Jawa Pos. Kerja sama
ini bukan kali pertamanya diadakan. Begitulah bunyi paragraf satu dan dua dalam
tulisan tersebut. Artinya apa? Berarti sebelumnya sudah pernah ada kerja sama
semacam ini antara Dispendikbud Sidoarjo dengan koran Jawa Pos. Pertanyaannya,
mengapa harus diulang lagi?? Sesuatu yang diulang pasti baik dan menghasilkan
manfaat serta memiliki prospek bagus. Inilah yang terbaca oleh Pak Kadis sehingga
merasa optimis bahwa kerja sama ini perlu untuk diadakan kembali.
Dengan adanya kerja sama ini maka guru-guru
Sidoarjo tidak hanya berani dan mampu menulis di koran/majalah saja. Kini,
tidak sedikit yang telah mampu menembus jurnal nasional terindeks Sinta
atau jurnal internasional terindeks Scopus. Banyak pula guru Sidoarjo
yang mampu menulis buku ber-ISBN, baik buku antologi maupun solo. Padahal
sebelum adanya kerja sama, sangat jarang tulisan para guru dimuat di koran atau
majalah, apalagi media level nasional. Bukankah ini pertanda baik? Ya, artinya
dari kerja sama ini, potensi yang selama ini terpendam dapat tergali dan
tersalurkan dengan baik.
Menurut beliau, “Dengan kerjasama ini
kita ingin merawat dan menumbuhsuburkan kembali budaya MAYD-2 (menulis
apa yang dilakukan dan melakukan apa yang ditulis)”. Bukankah ini sudah
menunjukkan keoptimisan sang penulis yang benar-benar optimis
seoptimis-optimisnya bahwa koran Jawa Pos bakalan menjadi ruang gerak yang
sangat bermanfaat buat guru-guru di Sidoarjo dalam hal tulis menulis.
Tidak hanya itu, kawan. Dalam tulisan
beliau, untuk membuktikan bahwa keoptimisannya
itu bukan hanya isapan jempol, beliau juga menjelaskan contoh-contoh even
bergengsi yang didominasi guru Sidoarjo sebagai juaranya. Hingga ada beberapa
nama yang disebut disana sebagai bentuk persuasif pengakuan terhadap publik
yang tujuannya tidak lain supaya bisa menginspirasi dan memotivasi rekan guru
yang lain untuk mengikuti jejak rekan-rekan guru yang telah berprestasi
terutama di bidang literasi. Maka dari itu keluarlah judul dari tulisan beliau
yakni : Guru Penulis, Why Not? Guru menjadi Penulis, mengapa tidak?
Begitulah kira-kira jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
Sejatinya seorang guru yang menjadi
penulis menurut beliau sudah sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali RA yang
berbunyi, “ ikatlah ilmu dengan menulis”. Begitu pula dengan pesan atau pidato
Kaisar Titus di hadapan Senat Romawi yakni, “Verba Volant, Scripta Manent
(segala yang terucap akan menguap, semua yang tertulis akan tetap ada)”. Nah,
dua nasihat inilah yang kiranya menjadi pijakan dalam menuangkan tulisan ini.
Seperti yang tertulis di paragraf terakhir di kolom keenam, yang saya cuplik
secara utuh.
Semoga
dengan hadirnya kolom Guru Sidoarjo Menulis di halaman Opini Sidoarjo
Koran Jawa Pos yang digagas oleh Bapak Literasi kita ini dapat menjadi ladang
pahala bagi beliau yang bisa dikenang sepanjang masa karena sebagai jembatan para
guru, kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah untuk dapat menulis,
menuangkan ide dan gagasan cemerlang atau praktik baik (good practice)
tentang pendidikan baik pembelajaran, manajemen atau supervisi yang inovatif
dan kreatif.
Selamat Mempersiapkan Masa Purna yang Indah dan Bahagia Bersama Keluarga Tercinta, Bapak Tirto. Semoga Bapak senantiasa diberikan Allah keberkahan usia dan rezeki. Serta, semoga tulisan saya ini menjadi salah satu dari beberapa kado terindah yang Bapak impikan selama ini, Aamiin ya robbal alamin.
Profil Penulis
Nadia Sugiarti lahir di Surabaya, 20 Mei 1981. Kini menjabat
sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP
Negeri 2 Sedati. Lulusan Universitas Negeri Surabaya tahun 2004 ini sudah
melanglang buana mengajar sebagai guru honorer dari satu kota ke kota yang
lain. Dimulai di tahun 2005, mengabdi dan mengajar di kota Surabaya tepatnya di
salah satu sekolah swasta di daerah Brawijaya dan Undaan Wetan. Hingga tahun 2014,
setelah menikah memutuskan untuk hijrah ke Kota Malang tepatnya di Singosari
dan mengajar di SMK Penerbangan Angkasa Lanud Abd.Saleh Malang.
Enam tahun lamanya mengajar di sekolah binaan
Angkatan Udara, akhirnya tahun 2020 memutuskan untuk hijrah ke kota Sidoarjo.
Nah, disinilah pengabdiannya mulai dihargai dengan adanya pengangkatan PPPK
secara besar-besaran.
Harapannya kini setelah menjadi guru di SMP
Negeri 2 Sedati, semoga bisa menjadi guru professional, dapat memberikan ilmu
yang bermanfaat untuk peserta didik baik di masa sekarang maupun yang akan
datang.
Keinginan menulis kembali muncul setelah
bergabung dengan tim penggerak literasi SMP Negeri 2 Sedati dengan menulis
karya buku antologi budaya Sedati yang berjudul Melodi Pesisir. Ikut tergabung
menjadi penulis komik Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang ditulis
oleh Dispendikbud Kab.Sidoarjo. Meskipun belum banyak menorehkan tulisan dan
sejenisnya namun penulis akan tetap selalu belajar dan belajar untuk bisa
menulis lebih intens lagi. Bagi saya, menulis adalah misteri.
