Rembulan di Sore Hari : Refeleksi Akhir Tahun
Oleh
: Nuraini ,S.Pd., M.Pd.
Unik, pemandangan di
sudat bibir Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo. Rembulan nampak meyembul malu
diantara lembayung senja, kian memperindah suansa sore yang syahdu. Ditambah lagi
jeritan burung Egretta garzetta yang menambah kesan alam liar di
biduk Lapindo. Namun disisi lain masih terbayang bahwa lautan lumpur ini dahulu
adalah sebuah kampung, tempat tinggal warga. Paradoks kehidupan yang membentang
cakrawala peristiwa. Nampak indah, meninggalkan kenangan, namun dibalut dengan
visi ekonomi jangka Panjang.
Begitu pula penulis
menganalogikan kehidupan manusia, penuh panorama, susah, senang, penderitaan,
perjuangan, kemenangan, sakit, kecewa, keberhasilan, semua hanya prepktif budi
dan akal manusia. Hakikatnya tidak ada insan yang benar-benar menderita tanpa
bahagia, pun sebaliknya tidak ada manusia yang benar-benar bahagia tanpa menderita.
Kunci Bahagia sebenarnya sederhana, berasal dari bagian terkecil di dada kita,
yakni hati. Sumber dari berbagai sumber rasa dan kendali ada di sini.
Karl Jaspers memaknai
penderitaan sebagai limit situations atau “situasi batas”, yaitu kondisi
ketika manusia dihadapkan pada keterbatasan eksistensial dirinya, yang
berpotensi melahirkan pemahaman hidup yang lebih mendalam. Pengalaman
penderitaan dapat membentuk dua kemungkinan karakter. Pertama, individu menjadi
lebih tangguh dan mampu belajar dari kesalahan maupun penderitaan yang dialami.
Kedua, penderitaan justru dapat memicu trauma berkepanjangan yang menyebabkan
individu kehilangan daya juang dan menyerah terhadap kehidupan. Dengan
demikian, manusia dihadapkan pada pilihan eksistensial untuk menentukan sikap
hidupnya: tetap menjalani kehidupan secara sadar dan utuh, atau kehilangan
kendali atas dirinya sendiri.
Dalam momentum
pergantian tahun 2026, refleksi atas pengalaman hidup sepanjang tahun 2025
menjadi relevan untuk dilakukan. Pengalaman negatif dapat dijadikan
pembelajaran, sedangkan pengalaman positif perlu dipertahankan dan dikembangkan
sebagai modal menuju keberhasilan. Kesadaran akan keterbatasan manusia,
sebagaimana tersirat dalam ungkapan “tiada gading yang tak retak”, menegaskan
bahwa ketidaksempurnaan merupakan kodrat manusia. Oleh karena itu, meskipun
memiliki keterbatasan, setiap individu tetap memiliki tanggung jawab moral
untuk menghadirkan kebermanfaatan, sekecil apa pun, bagi diri sendiri maupun
bagi orang lain.
