Rembulan di Sore Hari : Refeleksi Akhir Tahun

Rembulan di Sore Hari : Refeleksi Akhir Tahun

Oleh : Nuraini ,S.Pd., M.Pd.

Unik, pemandangan di sudat bibir Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo. Rembulan nampak meyembul malu diantara lembayung senja, kian memperindah suansa sore yang syahdu. Ditambah lagi jeritan burung Egretta garzetta yang menambah kesan alam liar di biduk Lapindo. Namun disisi lain masih terbayang bahwa lautan lumpur ini dahulu adalah sebuah kampung, tempat tinggal warga. Paradoks kehidupan yang membentang cakrawala peristiwa. Nampak indah, meninggalkan kenangan, namun dibalut dengan visi ekonomi jangka Panjang.

Begitu pula penulis menganalogikan kehidupan manusia, penuh panorama, susah, senang, penderitaan, perjuangan, kemenangan, sakit, kecewa, keberhasilan, semua hanya prepktif budi dan akal manusia. Hakikatnya tidak ada insan yang benar-benar menderita tanpa bahagia, pun sebaliknya tidak ada manusia yang benar-benar bahagia tanpa menderita. Kunci Bahagia sebenarnya sederhana, berasal dari bagian terkecil di dada kita, yakni hati. Sumber dari berbagai sumber rasa dan kendali ada di sini.

Karl Jaspers memaknai penderitaan sebagai limit situations atau “situasi batas”, yaitu kondisi ketika manusia dihadapkan pada keterbatasan eksistensial dirinya, yang berpotensi melahirkan pemahaman hidup yang lebih mendalam. Pengalaman penderitaan dapat membentuk dua kemungkinan karakter. Pertama, individu menjadi lebih tangguh dan mampu belajar dari kesalahan maupun penderitaan yang dialami. Kedua, penderitaan justru dapat memicu trauma berkepanjangan yang menyebabkan individu kehilangan daya juang dan menyerah terhadap kehidupan. Dengan demikian, manusia dihadapkan pada pilihan eksistensial untuk menentukan sikap hidupnya: tetap menjalani kehidupan secara sadar dan utuh, atau kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

 Sejalan dengan pemikiran tersebut, Jean-Paul Sartre dan Viktor Frankl menegaskan bahwa penderitaan dan duka merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Apabila disikapi secara reflektif dan konstruktif, penderitaan dapat menjadi sarana untuk menemukan makna hidup serta mencapai keotentikan diri. Keotentikan ini menuntut keseimbangan antara rasionalitas dan afektivitas, yakni memberi ruang bagi emosi untuk dihayati secara manusiawi, sekaligus memperkuat kemampuan berpikir positif dan optimis dalam merancang masa depan.

Dalam momentum pergantian tahun 2026, refleksi atas pengalaman hidup sepanjang tahun 2025 menjadi relevan untuk dilakukan. Pengalaman negatif dapat dijadikan pembelajaran, sedangkan pengalaman positif perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai modal menuju keberhasilan. Kesadaran akan keterbatasan manusia, sebagaimana tersirat dalam ungkapan “tiada gading yang tak retak”, menegaskan bahwa ketidaksempurnaan merupakan kodrat manusia. Oleh karena itu, meskipun memiliki keterbatasan, setiap individu tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kebermanfaatan, sekecil apa pun, bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Previous Post Next Post