Alkimia Aksara: Cara Guru Kimia Menginfeksi Literasi

 

Alkimia Aksara: Cara Guru Kimia Menginfeksi Literasi

 Oleh: Muashofa Efida

Literasi kerap kali terjebak dalam stigma sempit, sering diidentikkan dengan mereka yang mahir berbahasa, atau sederhananya menjadi ranah eksklusif para pujangga dan guru bahasa dalam institusi pendidikan. Padahal, literasi sejatinya adalah oksigen bagi insan dengan segala kemajemukannya, tak peduli apa latar belakang disiplin ilmunya. Namun, masih banyak individu yang membangun membran impermeabel dengan menjustifikasi bahwa mereka tidak memiliki "bakat" menulis. Jika ditilik lebih dalam, alasan tidak memiliki bakat adalah bentuk kemalasan yang dibungkus rapi dalam retorika.

Menulis bukanlah sebuah keajaiban yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah kegiatan kontinu yang membutuhkan konsistensi. Menjadi penulis andal bukanlah tentang menunggu inspirasi jatuh dari langit, melainkan terkait keberanian merangkai aksara tiada henti. Inspirasi ibarat membuka kran buret untuk mengeluarkan titran setetes demi setetes hingga terjadi perubahan warna pada titrat sebagai wujud titik akhir titrasi. Disinilah reaksi intelektual terjadi, membentuk sebuah produk gagasan yang mengkristal dalam bentuk karya literasi.

 

Alkimia Kata: Menemukan Jiwa di Balik Rumus yang Kaku

Teori pola pemikiran manusia sering kali dikotomikan secara kaku menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri dianggap sebagai pusat kendali sains, matematika, dan logika yang presisi, sementara otak kanan didaulat sebagai ruang bagi bahasa dan ekspresi seni. Keduanya seolah terpisah oleh jurang lebar tanpa jembatan yang mampu menghubungkannya. Padahal, pada kenyataannya, keduanya dapat beresonansi secara harmonis melalui aktivitas literasi yang dilakukan secara konsisten. Dalam pandangan saya, kerja otak kiri dan otak kanan sebenarnya merupakan sebuah reaksi reversibel yang berlangsung secara berkelanjutan dalam skala mikroskopis, saling memberi dan menerima energi demi mencapai kesetimbangan berpikir.

Kimia sebagai cabang Ilmu Pengetahuan Alam memang memuat teori-teori pasti yang harus dibuktikan melalui riset yang ketat di bawah pengawasan laboratorium. Hal ini membuat ilmu kimia seolah tampak statis, begitu pula dengan para pelakunya yang sering dicap sebagai sosok yang kaku dan mekanis. Padahal, ada keunikan tersendiri ketika seseorang dengan disiplin ilmu kimia berani menyelami dunia kepenulisan yang dinamis. Keberadaan atom-atom sebagai penyusun komponen biotik maupun abiotik sebenarnya sedang memerankan sebuah drama kehidupan yang ideal. Di balik rumus molekul yang rumit, tersimpan narasi tentang ikatan, perpisahan, dan perubahan wujud yang sangat manusiawi jika diterjemahkan ke dalam aksara.

Sebagai seorang guru kimia, kegemaran saya menulis bukanlah sebuah variabel baru yang muncul secara tiba-tiba. Benih kesukaan ini telah tertanam sejak masa sekolah dasar, bermula dari upaya sederhana menuliskan kembali alur cerita film kartun di televisi, yang kemudian bermetamorfosis menjadi karya cerpen dan artikel yang lebih kompleks. Saat diri ini merasa seolah "larut" dalam rutinitas laboratorium yang padat, dimana molekul-molekul kejenuhan memenuhi ruang batin hingga melewati batas kelarutannya, di sanalah terjadi presipitasi, sebuah pengendapan rasa yang menyesakkan layaknya reaksi argentometri yang membentuk endapan perak klorida. Dalam kondisi jenuh inilah, menulis hadir sebagai solven yang mampu memberikan ruang bagi jiwa untuk bernapas kembali.

Menulis bukan sekadar hobi di waktu luang, melainkan telah menjadi katalisator yang mampu menurunkan energi aktivasi dalam mencapai ekspektasi hidup. Kimia yang semula terlihat statis dan kaku berubah menjadi dinamis tatkala dibingkai dalam balutan literasi yang luwes. Di sini, otak kiri yang logis dan otak kanan yang imajinatif berjalan seirama dalam sebuah reaksi kehidupan yang harmonis, tanpa perlu terbentuk residu yang melelahkan diri. Menulis menjadikan setiap rumus tidak lagi sekadar tinta di atas kertas, melainkan sebuah simfoni yang hidup.

 

Reaksi Berantai: Menularkan Virus Literasi dari Guru ke Murid

Saat ini, saya telah menjelma menjadi "virus" yang berambisi menginfeksi orang lain untuk menyelami dunia kepenulisan. Aksi pertama membuahkan hasil nyata dalam bentuk buku antologi yang ditulis oleh para guru lintas Nusantara. Buku tersebut mengisahkan beragam pengalaman di dalam kelas, ditinjau dari berbagai model dan metode pembelajaran. Aksi menginfeksi ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam prosesnya, banyak ditemukan inhibitor yang membuat reaksi kreativitas tidak berjalan semestinya, mulai dari rasa tidak percaya diri hingga tumpukan beban administrasi. Di sinilah peran saya sebagai katalisator diperlukan, memberikan dorongan motivasi guna menurunkan energi aktivasi mereka, serta "memanaskan" semangat rekan sejawat agar energi kinetik mereka dalam merangkai kata. 

Aksi infeksi virus literasi ini tidak berhenti pada lingkaran guru, melainkan merambah ke murid dalam ruang kelas kimia. Saya menginisiasi proyek "Kimia Fiksi" sebagai medium untuk menarik para murid masuk ke dunia literasi. Mengajak murid kimia yang terbiasa dengan logika angka untuk merangkai aksara bukanlah perkara mudah. Namun, layaknya sebuah eksperimen yang harus tuntas, proyek ini terus dijalankan. Saya menghadirkan reaksi intermediate berupa kuesioner terstruktur untuk membantu mereka melampaui hambatan awal. Pertanyaan-pertanyaan pemantik seperti, "Kalau ilmu kimia adalah sebuah petualangan, kamu ingin jadi tokoh seperti apa?" terbukti efektif. Tanpa mereka sadari, kata demi kata mulai terjalin, menyusun narasi apik tentang atom dan molekul yang hidup melalui bahasa khas remaja mereka.

Kini, peran saya kembali bergeser menjadi seorang editor yang bertanggung jawab dalam tahap finishing. Keberagaman tata bahasa murid yang masih mentah perlu melewati membran filter penyuntingan agar menjelma menjadi karya "Kimia Fiksi" yang layak dinikmati publik. Keterbatasan waktu kurasi dan tenaga seringkali menjadi tantangan kinetik yang berat. Di saat dunia tertidur, sinar layar laptop saya menjadi saksi bisu di tengah malam gulita, menerangi ruangan kecil yang sunyi tanpa lampu neon yang menyala. Guratan lelah di wajah adalah bagian dari dedikasi saya sebagai guru kimia sekaligus pegiat literasi. 

Segala peluh yang menetes dalam proses ini saya yakini tidak akan berakhir sia-sia. Saya optimis bahwa dalam kurun waktu dua bulan ke depan, proyek "Kimia Fiksi" ini akan mengkristal menjadi sebuah buku ber-HAKI yang sah. Saat hari itu tiba, saya bisa membayangkan murid-murid saya menggenggam buku karya mereka sendiri dengan binar kebahagiaan yang beraneka warna layaknya indahnya warna nyala pada analisis kation; ada merah stronsium, ungu kalium, dan hijau barium yang berpendar di mata mereka. Momentum ini akan menjadi sebuah "prasasti" abadi, sebuah bukti otentik bahwa mereka tidak hanya berhasil menguasai tabel periodik, tetapi juga telah berhasil meliterasikan diri mereka sendiri dalam semesta kimia yang luas.

 

Profil Penulis

Muashofa Efida yang kerap dipanggil Efi, lahir di Sidoarjo pada 12 Juni 1982. Menempuh program S1 Kimia di Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2000-2004. Tinggal di Krembung, Sidoarjo. Wanita yang telah menikah dan dianugerahi dua anak ini, mengawali karir di dunia industri, selanjutnya mengarungi dunia pendidikan di LBB dan sekolah. Saat ini mengemban tugas mengajar di SMKN 5 Surabaya sebagai guru Kimia Analisis. Aktif menulis, salah satunya di kolom Tribun Academy pada Harian Surya. Pada tahun 2021 mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 dan pada tahun 2022 menerbitkan buku solo berjudul “Jejak Langkah Sembilan Purnama” mengenai perjalanan menempuh pendidikan Guru Penggerak. Pernah meraih juara 1 lomba Essay Kimia tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh UISI pada tahun 2018. Tahun 2022 dinobatkan sebagai The Best Writer oleh website bekelsego.com.

Previous Post Next Post