
Alkimia Aksara: Cara Guru Kimia Menginfeksi Literasi
Literasi kerap kali terjebak dalam stigma sempit, sering
diidentikkan dengan mereka yang mahir berbahasa, atau sederhananya menjadi
ranah eksklusif para pujangga dan guru bahasa dalam institusi pendidikan.
Padahal, literasi sejatinya adalah oksigen bagi insan dengan segala
kemajemukannya, tak peduli apa latar belakang disiplin ilmunya. Namun, masih
banyak individu yang membangun membran impermeabel dengan menjustifikasi bahwa
mereka tidak memiliki "bakat" menulis. Jika ditilik lebih dalam,
alasan tidak memiliki bakat adalah bentuk kemalasan yang dibungkus rapi dalam
retorika.
Menulis bukanlah sebuah keajaiban yang datang tiba-tiba,
melainkan sebuah kegiatan kontinu yang membutuhkan konsistensi. Menjadi penulis
andal bukanlah tentang menunggu inspirasi jatuh dari langit, melainkan terkait
keberanian merangkai aksara tiada henti. Inspirasi ibarat membuka kran buret
untuk mengeluarkan titran setetes demi setetes hingga terjadi perubahan warna
pada titrat sebagai wujud titik akhir titrasi. Disinilah reaksi intelektual
terjadi, membentuk sebuah produk gagasan yang mengkristal dalam bentuk karya
literasi.
Alkimia
Kata: Menemukan Jiwa di Balik Rumus yang Kaku
Teori pola pemikiran manusia sering kali dikotomikan secara
kaku menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri dianggap
sebagai pusat kendali sains, matematika, dan logika yang presisi, sementara
otak kanan didaulat sebagai ruang bagi bahasa dan ekspresi seni. Keduanya seolah
terpisah oleh jurang lebar tanpa jembatan yang mampu menghubungkannya. Padahal,
pada kenyataannya, keduanya dapat beresonansi secara harmonis melalui aktivitas
literasi yang dilakukan secara konsisten. Dalam pandangan saya, kerja otak kiri
dan otak kanan sebenarnya merupakan sebuah reaksi reversibel yang berlangsung
secara berkelanjutan dalam skala mikroskopis, saling memberi dan menerima
energi demi mencapai kesetimbangan berpikir.
Kimia sebagai cabang Ilmu Pengetahuan Alam memang memuat
teori-teori pasti yang harus dibuktikan melalui riset yang ketat di bawah
pengawasan laboratorium. Hal ini membuat ilmu kimia seolah tampak statis,
begitu pula dengan para pelakunya yang sering dicap sebagai sosok yang kaku dan
mekanis. Padahal, ada keunikan tersendiri ketika seseorang dengan disiplin ilmu
kimia berani menyelami dunia kepenulisan yang dinamis. Keberadaan atom-atom
sebagai penyusun komponen biotik maupun abiotik sebenarnya sedang memerankan
sebuah drama kehidupan yang ideal. Di balik rumus molekul yang rumit, tersimpan
narasi tentang ikatan, perpisahan, dan perubahan wujud yang sangat manusiawi
jika diterjemahkan ke dalam aksara.
Sebagai seorang guru kimia, kegemaran saya menulis bukanlah
sebuah variabel baru yang muncul secara tiba-tiba. Benih kesukaan ini telah
tertanam sejak masa sekolah dasar, bermula dari upaya sederhana menuliskan
kembali alur cerita film kartun di televisi, yang kemudian bermetamorfosis
menjadi karya cerpen dan artikel yang lebih kompleks. Saat diri ini merasa
seolah "larut" dalam rutinitas laboratorium yang padat, dimana
molekul-molekul kejenuhan memenuhi ruang batin hingga melewati batas
kelarutannya, di sanalah terjadi presipitasi, sebuah pengendapan rasa yang
menyesakkan layaknya reaksi argentometri yang membentuk endapan perak klorida.
Dalam kondisi jenuh inilah, menulis hadir sebagai solven yang mampu memberikan
ruang bagi jiwa untuk bernapas kembali.
Menulis bukan sekadar hobi di waktu luang, melainkan telah
menjadi katalisator yang mampu menurunkan energi aktivasi dalam mencapai ekspektasi
hidup. Kimia yang semula terlihat statis dan kaku berubah menjadi dinamis
tatkala dibingkai dalam balutan literasi yang luwes. Di sini, otak kiri yang
logis dan otak kanan yang imajinatif berjalan seirama dalam sebuah reaksi
kehidupan yang harmonis, tanpa perlu terbentuk residu yang melelahkan diri.
Menulis menjadikan setiap rumus tidak lagi sekadar tinta di atas kertas,
melainkan sebuah simfoni yang hidup.
Reaksi
Berantai: Menularkan Virus Literasi dari Guru ke Murid
Saat ini, saya telah menjelma menjadi "virus"
yang berambisi menginfeksi orang lain untuk menyelami dunia kepenulisan. Aksi
pertama membuahkan hasil nyata dalam bentuk buku antologi yang ditulis oleh
para guru lintas Nusantara. Buku tersebut mengisahkan beragam pengalaman di
dalam kelas, ditinjau dari berbagai model dan metode pembelajaran. Aksi
menginfeksi ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam
prosesnya, banyak ditemukan inhibitor yang membuat reaksi kreativitas tidak
berjalan semestinya, mulai dari rasa tidak percaya diri hingga tumpukan beban
administrasi. Di sinilah peran saya sebagai katalisator diperlukan, memberikan
dorongan motivasi guna menurunkan energi aktivasi mereka, serta
"memanaskan" semangat rekan sejawat agar energi kinetik mereka dalam merangkai
kata.
Aksi infeksi virus literasi ini tidak berhenti pada
lingkaran guru, melainkan merambah ke murid dalam ruang kelas kimia. Saya
menginisiasi proyek "Kimia Fiksi" sebagai medium untuk menarik para
murid masuk ke dunia literasi. Mengajak murid kimia yang terbiasa dengan logika
angka untuk merangkai aksara bukanlah perkara mudah. Namun, layaknya sebuah
eksperimen yang harus tuntas, proyek ini terus dijalankan. Saya menghadirkan
reaksi intermediate berupa kuesioner terstruktur untuk membantu mereka melampaui
hambatan awal. Pertanyaan-pertanyaan pemantik seperti, "Kalau ilmu
kimia adalah sebuah petualangan, kamu ingin jadi tokoh seperti apa?"
terbukti efektif. Tanpa mereka sadari, kata demi kata mulai terjalin, menyusun
narasi apik tentang atom dan molekul yang hidup melalui bahasa khas remaja
mereka.
Kini, peran saya kembali bergeser menjadi seorang editor
yang bertanggung jawab dalam tahap finishing. Keberagaman tata bahasa
murid yang masih mentah perlu melewati membran filter penyuntingan agar
menjelma menjadi karya "Kimia Fiksi" yang layak dinikmati publik.
Keterbatasan waktu kurasi dan tenaga seringkali menjadi tantangan kinetik yang
berat. Di saat dunia tertidur, sinar layar laptop saya menjadi saksi bisu di
tengah malam gulita, menerangi ruangan kecil yang sunyi tanpa lampu neon yang
menyala. Guratan lelah di wajah adalah bagian dari dedikasi saya sebagai guru
kimia sekaligus pegiat literasi.
Segala peluh yang menetes dalam proses ini saya yakini
tidak akan berakhir sia-sia. Saya optimis bahwa dalam kurun waktu dua bulan ke
depan, proyek "Kimia Fiksi" ini akan mengkristal menjadi sebuah buku
ber-HAKI yang sah. Saat hari itu tiba, saya bisa membayangkan murid-murid saya
menggenggam buku karya mereka sendiri dengan binar kebahagiaan yang beraneka
warna layaknya indahnya warna nyala pada analisis kation; ada merah stronsium,
ungu kalium, dan hijau barium yang berpendar di mata mereka. Momentum ini akan
menjadi sebuah "prasasti" abadi, sebuah bukti otentik bahwa mereka
tidak hanya berhasil menguasai tabel periodik, tetapi juga telah berhasil
meliterasikan diri mereka sendiri dalam semesta kimia yang luas.
Profil
Penulis
Muashofa Efida yang kerap dipanggil Efi, lahir di Sidoarjo pada 12 Juni 1982. Menempuh program S1 Kimia di Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2000-2004. Tinggal di Krembung, Sidoarjo. Wanita yang telah menikah dan dianugerahi dua anak ini, mengawali karir di dunia industri, selanjutnya mengarungi dunia pendidikan di LBB dan sekolah. Saat ini mengemban tugas mengajar di SMKN 5 Surabaya sebagai guru Kimia Analisis. Aktif menulis, salah satunya di kolom Tribun Academy pada Harian Surya. Pada tahun 2021 mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 dan pada tahun 2022 menerbitkan buku solo berjudul “Jejak Langkah Sembilan Purnama” mengenai perjalanan menempuh pendidikan Guru Penggerak. Pernah meraih juara 1 lomba Essay Kimia tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh UISI pada tahun 2018. Tahun 2022 dinobatkan sebagai The Best Writer oleh website bekelsego.com.
