Menulis Sebagai Terapi Emosi: Transformasi Personal Melalui melalui Praktik Literasi

Menulis Sebagai Terapi Emosi: Transformasi Personal Melalui Praktik Literasi
Oleh : Nuraini, S.Pd., M.Pd.
Guru SMPN 1 Gedangan

Kegiatan menulis dalam beberapa dekade terakhir tidak lagi dipandang sekadar sebagai aktivitas akademik atau keterampilan komunikasi, melainkan juga sebagai medium refleksi diri yang memiliki dimensi terapeutik. Pengalaman personal penulis menunjukkan bahwa proses menulis mampu menjadi sarana regulasi emosi sekaligus wahana transformasi kepribadian. Individu yang sebelumnya cenderung mudah berubah suasana hati (moody) dan reaktif secara emosional, secara gradual mengalami perubahan menjadi pribadi yang lebih tenang, sabar, dan mampu mengendalikan respons afektif. Transformasi tersebut tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Pembiasaan menulis  bagi penulis dimulai pada akhir tahun 2024, bertepatan dengan dimulainya studi magister di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Pada fase awal perkuliahan, penulis dihadapkan pada berbagai tugas penyusunan artikel dan jurnal ilmiah. Tantangan utama yang muncul meliputi kesulitan menemukan ide, keterbatasan penguasaan struktur ilmiah, serta kebingungan dalam mengembangkan argumen secara sistematis. Namun demikian, intensitas latihan yang berulang menjadikan proses tersebut sebagai bagian dari rutinitas akademik yang semakin mudah dijalani. Seiring waktu, menulis tidak lagi dipersepsikan sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan intelektual sekaligus ruang ekspresi reflektif.

Momentum penting berikutnya terjadi ketika penulis memperoleh kesempatan untuk membantu ketua program studi dalam pengelolaan konten laman resmi universitas. Keterlibatan dalam penulisan artikel untuk situs web UNESA menjadi titik awal tumbuhnya rasa percaya diri dalam memublikasikan karya. Tema tulisan yang diangkat pada tahap awal masih bersifat sederhana, seperti dokumentasi aktivitas akademik di kampus maupun kegiatan di sekolah. Akan tetapi, pengalaman tersebut memberikan ruang apresiasi terhadap diri sendiri dan memperkuat keyakinan bahwa menulis merupakan kompetensi yang dapat terus dikembangkan.

Perkembangan kapasitas literasi penulis semakin signifikan ketika bergabung dalam komunitas GBL Sidoarjo. Lingkungan komunitas yang produktif dan suportif menghadirkan paparan harian terhadap berbagai karya inspiratif dari para penulis lain. Interaksi intensif serta bimbingan langsung dari pembina komunitas, Pak Makhrus, berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas tulisan sekaligus memperluas perspektif kepenulisan. Pada tahap ini, menulis tidak lagi sekadar aktivitas akademik, melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan intrinsik bahkan dapat disebut sebagai bentuk “keranjingan” dalam makna positif, yakni kecintaan mendalam terhadap proses kreatif literasi.

Konsistensi dalam memublikasikan tulisan pada laman UNESA dan GBL secara tidak langsung membangun rekam jejak literasi penulis. Hal tersebut kemudian diketahui oleh rekan-rekan sejawat di sekolah, sehingga penulis memperoleh kepercayaan untuk mengelola konten berita pada laman resmi sekolah, WEB SPENSAGED. Kepercayaan tersebut disambut sebagai amanah profesional yang harus dijalankan secara optimal. Penulis mulai mendokumentasikan berbagai kegiatan sekolah, seperti kegiatan awal tahun ajaran, pelepasan guru purnatugas, peringatan hari besar keagamaan dan nasional, serta berbagai agenda insidental lainnya.

Dalam praktiknya, proses penulisan tidak terlepas dari kritik, masukan, serta tahapan penyuntingan dan revisi. Namun demikian, dinamika tersebut justru memperkaya kompetensi teknis sekaligus memperkuat sikap profesional dalam menerima umpan balik. Kesadaran bahwa kualitas tulisan merupakan hasil kolaborasi antara penulis dan editor menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran literasi yang berkelanjutan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kompetensi, penulis juga mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik, baik secara daring melalui platform konferensi virtual maupun secara luring melalui pelatihan tatap muka. Upaya tersebut mencerminkan kesungguhan untuk terus mengembangkan kapasitas diri, tidak hanya demi kepentingan personal, tetapi juga untuk memberikan kontribusi nyata bagi institusi. 

Melalui praktik literasi yang konsisten, penulis berupaya mendukung eksplorasi potensi sekolah sekaligus memperkuat citra dan branding kelembagaan.
Pada akhirnya, pengalaman ini menegaskan bahwa menulis memiliki dimensi yang melampaui fungsi komunikatif. Menulis menjadi ruang refleksi, medium regulasi emosi, serta sarana aktualisasi diri. Lebih dari itu, praktik literasi yang berkesinambungan turut berkontribusi dalam membangun budaya sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai literasi, profesionalisme, dan pengembangan diri secara berkelanjutan.
Previous Post Next Post