
Mengeja
Masa Depan: Saat
Tulisan Menjadi Kekuatan dalam Menggapai Cita-Cita
Oleh : Siti Aminah
"Pena
adalah tongkat sihir yang paling nyata; apa yang saya eja hari ini
adalah skenario yang akan saya perankan di masa depan. Menulis bukan
sekadar merangkai huruf, melainkan cara saya berhenti sekedar bermimpi
dan mulai memerintah diri sendiri untuk bergerak." (
By AmieKidssmart ).
Banyak yang menganggap bahwa literasi hanyalah soal
mengeja huruf atau merangkai kalimat di atas kertas. Namun, bagi saya, literasi
adalah sebuah pondasi perubahan yang paling mendasar. Ia bukan
sekadar kemampuan teknis, melainkan sebuah kekuatan yang memungkinkan seseorang
untuk "mengeja" masa depannya sendiri.
Cita-cita sering kali dimulai dari sebuah imajinasi
yang abstrak. Di sinilah tulisan memainkan peran krusialnya. Ketika kita
menuliskan impian, kita sedang melakukan proses kristalisasi pikiran. Tulisan
mengubah sesuatu yang tadinya "mungkin" menjadi sesuatu yang
"terencana".
Sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Nelson
Mandela:
"Education is the most powerful weapon which you
can use to change the world."
(Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kau
gunakan untuk mengubah dunia.)
Dalam konteks ini, literasi adalah inti dari
pendidikan tersebut. Membaca memberikan kita wawasan tentang bagaimana orang
lain berhasil, sementara menulis memberikan kita ruang untuk merancang strategi
pencapaian kita sendiri. Tulisan berfungsi sebagai kompas yang menjaga arah
langkah kita agar tidak tersesat di tengah riuhnya gangguan zaman.
Di era digital, tantangan dalam menggapai cita-cita
bukan lagi soal kurangnya informasi, melainkan banjirnya informasi. Tanpa
pondasi literasi yang kokoh, kita akan mudah hanyut oleh narasi yang salah atau
terjebak dalam arus tren yang dangkal.
Literasi memberikan kita kemampuan berpikir kritis. Ia
menjadi saringan yang memisahkan mana informasi yang memberdayakan dan mana
yang sekadar kebisingan. Tokoh literasi Indonesia, Pramoedya Ananta Toer,
pernah berpesan dengan sangat kuat:
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama
ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis
adalah bekerja untuk keabadian."
Pesan ini mengingatkan kita bahwa untuk menggapai
cita-cita dan memberi dampak, kita harus berani menuangkan gagasan ke dalam
tulisan agar pikiran kita tidak lumat oleh waktu.
Sejarah mencatat bahwa perubahan besar selalu dimulai
dari tulisan. Para pendiri bangsa ini mengawali perjuangan mereka bukan dengan
senjata, melainkan dengan pena. Mereka menuliskan gagasan tentang kemerdekaan
jauh sebelum kemerdekaan itu mewujud.
Seseorang yang literat tidak akan membiarkan
lingkungan atau keadaan mendikte siapa mereka di masa depan. Literasi memberi
kita keberanian untuk menulis ulang takdir. Seperti yang dikatakan oleh filosof
Francis Bacon, "Knowledge is
power" Pengetahuan adalah kekuatan. Dan gerbang utama
menuju pengetahuan tersebut adalah literasi yang mumpuni.
Mengeja masa depan berarti bersiap untuk terus belajar
dan beradaptasi. Literasi adalah pondasi yang membuat bangunan cita-cita kita
tetap tegak meski dihantam badai perubahan. Ketika kita menjadikan literasi
sebagai gaya hidup, maka setiap kata yang kita baca dan setiap kalimat yang
kita tulis akan menjadi anak tangga yang membawa kita lebih dekat ke puncak impian.
Sebab, pada akhirnya, masa depan adalah milik mereka yang mampu membacanya hari
ini dan berani menuliskannya untuk hari esok.
By. AmieKidssmart,