Urgensi Strategi Pembelajaran di Samping Penguasaan Materi
Setelah menyaksikan laga sengit perebutan juara ketiga Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Prancis, saya terenyak oleh keindahan permainan kedua tim, khususnya pada babak kedua. Ini bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah, bukan pula tentang angka di papan skor. Ini tentang bagaimana proses tersebut terjadi dari awal hingga akhir melalui perpaduan kekuatan taktis dan keberanian seorang pelatih.
Pada babak pertama, Inggris mendominasi lapangan dan mencetak empat gol, sehingga unggul telak atas Prancis. Namun memasuki babak kedua, coach timnas Prancis langsung mengambil langkah berani dengan mengganti empat pemain sekaligus. Di sinilah atmosfer pertandingan mulai memanas. Dengan strategi baru, Prancis mampu memberikan perlawanan sengit hingga mengubah skor menjadi 2-4. Setelah itu, kedua tim silih berganti menambah gol—dari 3-4, 3-5, 4-5—hingga peluit panjang berbunyi dengan skor akhir 4-6 untuk kemenangan Inggris.
Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya perubahan strategi dalam mengubah suasana permainan, yang pada akhirnya berdampak langsung pada hasil akhir. Angka-angka di papan skor tercipta karena keberanian pelatih dalam mengubah taktik dan menempatkan pemain di posisi yang tepat, sehingga melahirkan energi baru di lapangan.
Dunia pendidikan pun bisa keluar dari stagnasi jika kita berani mengadopsi mentalitas dan manajemen organisasi sepak bola tersebut. Pendidikan kita sebenarnya telah mengalami banyak perubahan dan memiliki konsep yang luar biasa. Namun dalam implementasinya, kita sering kali masih terjebak pada hasil akhir dan terpaku pada angka, seperti nilai ujian atau target administratif.
Dalam kontek Pendidikan, Expected growth adalah paradigma yang mengukur keberhasilan sekolah bukan berdasarkan pencapaian angka atau nilai akhir yang seragam. Namun konsistensi kemajuan dan perkembangan yang dialami setiap murid dari awal mereka mulai belajar di sekolah. Melalui konsep ini, fokus utama manajemen sekolah bergeser pada penciptaan lingkungan yang kaya memberi peluang belajar serta perancangan proses pembelajaran yang mendalam, aktif, dan bermakna. Hasilnya, kualitas pendidikan tidak lagi dinilai dari seberapa tinggi skor ujian , melainkan dari seberapa jauh setiap individu murid telah tumbuh, berkembang, berdampak, dan mengaktualisasikan potensi uniknya sepanjang proses belajar.
Kepala sekolah bertransformasi menjadi head coach yang turun langsung ke lapangan kelas untuk memetakan, mengasah potensi, dan memberikan instruksi taktis bagi guru. Sementara itu, pengawas sekolah bertindak sebagai pendamping taktis (technical director) yang menganalisis data makro sekolah secara objektif untuk memberikan umpan balik strategis yang membangun.
Kekuatan utama dari ekosistem ini bertumpu pada kerja tim (teamwork) antar-guru melalui Komunitas Belajar. Guru tidak lagi bekerja sendiri-sendiri secara terisolasi, melainkan berkolaborasi aktif membedah materi dan merancang "taktik permainan" berupa strategi pembelajaran mendalam (deep learning) yang kreatif dan bermakna bagi murid. Ketika guru menikmati proses merancang taktik ini, murid pun akan mendapatkan pengalaman belajar yang menantang.
Menariknya, sekolah-sekolah di Sidoarjo saat ini sudah mulai lepas dari jebakan pemaknaan angka administratif yang kaku. Sekolah telah memanfaatkan data Rapor Pendidikan sebagai instrumen utama dalam melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang otentik. Layaknya sebuah tim sepak bola kelas dunia yang menggelar post-match analysis seusai bertanding. Kepala sekolah bersama tim guru duduk bersama di ruang kolaborasi untuk membedah indikator capaian yang belum optimal, seperti skor kompetensi numerasi dan literasi murid yang terekam dalam Rapor Pendidikan, hasil Tes Kemampuan Awal serta platform PMM.
Melalui ruang diskusi ini, mereka tidak fokus mencari siapa yang salah, melainkan merumuskan strategi taktis baru yang konkret. Misalnya dengan menyepakati perubahan model pembelajaran di kelas menjadi berbasis proyek yang lebih kontekstual, serta menggunakan metode mengajar yang lebih bervariasi.
Transformasi tata kelola berbasis data riil inilah yang mengubah angka menjadi narasi perubahan. Strategi dan program kerja sekolah ke depan dapat dirancang secara presisi demi meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang transformatif, serta berdampak nyata bagi perkembangan setiap murid di Sidoarjo.
Refleksi dari laga kelas dunia antara Inggris dan Prancis mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukanlah hasil dari kebetulan pada skor, melainkan buah dari kematangan sistem yang adaptif, keberanian mengubah taktik, dan komitmen penuh terhadap kedalaman proses. Ketika paradigma ini dibawa ke dalam tata kelola sekolah, transformasi mutu pendidikan akan benar-benar terjadi. Sekolah akan siap menanggalkan pola lama, rutin melakukan post-match analysis berbasis data riil Rapor Pendidikan, dan menggeser fokus dari sekadar mengejar angka menuju penciptaan ruang belajar yang otentik, menyenangkan, dan bermakna bagi murid.
Perubahan mutu pendidikan bukanlah tentang meratapi hasil akhir yang berada di luar kendali kita. Namun tentang keberanian menguasai apa yang sepenuhnya ada di dalam kendali. Mengubah arah taktik dan menjaga ketulusan proses belajar hari ini agar kualitas layanan pendidikan tumbuh menjadi lebih baik.( TITIEN_19072026)
Biodata Penulis
No Hp : 081330099420

