JEJAK KATA DI PUNGGUNG KOTA
Oleh : Intan
Puspita Sari
(Peserta Workshop Menulis bersama GBL, Guru SMP Negeri 2 Sukodono)
Di
sudut ruang kerjanya yang sederhana, Pak Adhi sering duduk lebih lama dari yang
orang bayangkan. Sebagai kepala dinas pendidikan, ia dikenal banyak orang
sebagai sosok yang tenang, tidak banyak bicara, dan selalu menghindari sorotan.
Padahal, di balik meja kayu yang sudah sedikit usang itu, ia menyimpan dunia
lain dunia yang ia
bangun lewat kata-kata.
Setiap
hari, sebelum para staf datang, Pak Adhi sudah lebih dulu tiba. Ia menyalakan
lampu, membuka jendela, lalu duduk dengan secangkir kopi hitam. Di hadapannya
bukan langsung tumpukan berkas, melainkan sebuah laptop using berwarna hitam.
Di situlah ia menulis.
Tulisan-tulisannya
bukan laporan atau catatan dinas. Ia menulis tentang guru-guru di pelosok yang
ia temui, tentang anak-anak yang berjalan kaki berkilo-kilometer demi sekolah,
tentang harapan yang kadang sederhana tapi terasa berat diperjuangkan. Ia
menulis dengan jujur, tanpa hiasan berlebihan, seperti dirinya sendiri.
“Pak,
rapat jam delapan ya,” ujar Bu Rina, sekretarisnya, suatu pagi.
Pak
Adhi hanya mengangguk sambil menutup laptopnya perlahan. Ia tidak pernah memamerkan kebiasaannya
menulis. Bahkan banyak stafnya tidak tahu bahwa ia pernah mengirim tulisan ke
beberapa media, tanpa mencantumkan jabatannya.
Di
rumah, Pak Adhi adalah sosok yang berbeda. Ia bukan kepala dinas, bukan
pejabat. Ia hanya seorang suami yang sederhana. Istrinya, Bu Tini, sudah
terbiasa melihatnya duduk di teras saat sore hari, menulis sambil sesekali
tersenyum sendiri.
“Apa
lagi yang ditulis hari ini?” tanya Bu Tini suatu sore sambil membawa teh hangat dan ubi kukus.
“Cerita
tentang seorang guru yang tetap mengajar walau muridnya cuma tiga,” jawab Pak Adhi.
Bu
Tini tersenyum. “Kamu selalu bisa melihat hal kecil jadi berarti.”
Pak
Adhi menatap istrinya dengan hangat. “Karena aku belajar dari kamu.”
Bagi
Pak Adhi, Bu Tini adalah rumah. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab yang
besar, ia selalu menemukan ketenangan dalam kehadiran istrinya. Ia tidak pernah
lupa mengabari jika pulang terlambat, tidak pernah lupa menanyakan kesehatan,
dan selalu menyempatkan waktu, meski hanya sebentar, untuk berbincang ringan.
Suatu
hari, dinas pendidikan mendapat sorotan tajam dari media. Ada sekolah yang
rusak parah di daerah terpencil, dan banyak pihak mempertanyakan kinerja dinas.
Beberapa staf panik. Ada yang menyarankan untuk segera membuat klarifikasi besar-besaran.
Pak
Adhi tetap tenang.
“Kita
perbaiki dulu yang bisa kita perbaiki,” katanya singkat.
Tanpa
banyak bicara, ia langsung turun ke lapangan. Ia meninjau sekolah itu sendiri,
berbicara dengan kepala sekolah, guru, bahkan orang tua murid. Ia mencatat
semuanya bukan hanya dalam
laporan resmi, tetapi juga di laptop hitamnya.
Malamnya,
setelah kembali ke rumah, ia terlihat lebih lelah dari biasanya. Bu Tini
menatapnya dengan khawatir.
“Capek
ya?” tanyanya lembut.
Pak
Adhi mengangguk. “Tapi aku jadi banyak belajar hari ini.”
Ia
kemudian duduk dan mulai menulis. Kali ini tulisannya lebih panjang. Ia menulis
tentang bangunan yang hampir roboh, tentang papan tulis yang retak, tapi juga
tentang semangat anak-anak yang tetap datang ke sekolah dengan wajah cerah.
Beberapa
minggu kemudian, sebuah tulisan muncul di sebuah koran nasional. Judulnya
sederhana, tapi isinya menyentuh banyak orang. Tulisan itu menggambarkan
kondisi pendidikan di daerah dengan sangat manusiawi bukan sekadar angka dan data, tetapi
kisah nyata.
Tulisan
itu viral.
Banyak
orang tersentuh, bahkan beberapa relawan dan organisasi mulai bergerak
membantu. Namun tidak banyak yang tahu siapa penulisnya. Nama yang tercantum
hanyalah “A.”
Di
kantor, Pak Adhi tetap seperti biasa. Ia datang pagi, bekerja, dan pulang tanpa
banyak bicara. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada kebanggaan yang
ditunjukkan.
Suatu
siang, Bu Rina datang dengan wajah penasaran.
“Pak,
saya baca artikel di koran itu… rasanya seperti tulisan Bapak,” katanya pelan.
Pak
Adhi hanya tersenyum kecil. “Tulisan itu milik semua orang yang peduli
pendidikan.”
Jawaban
itu membuat Bu Rina mengerti. Ia tidak bertanya lagi.
Di
rumah, Bu Tini sudah lebih dulu tahu. Ia mengenali gaya tulisan suaminya.
“Kamu
tidak pernah berubah ya,” katanya sambil tersenyum.
“Berubah
bagaimana?” tanya Pak Adhi.
“Bisa
saja kamu mengaku, dapat pujian, mungkin penghargaan.”
Pak
Adhi menggeleng pelan. “Yang penting tulisan itu sampai.”
Bu
Tini menatapnya dengan bangga. Baginya, suaminya bukan hanya kepala dinas,
tetapi juga seseorang yang tulus mencintai pekerjaannya dan dirinya.
Malam
itu, seperti biasa, Pak Adhi duduk di teras. Laptop hitamnya terbuka. Ia menulis lagi, kali ini
tentang rasa syukur. Tentang bagaimana hidup tidak selalu harus terlihat besar
untuk menjadi berarti.
Di
dalam tulisannya, ia menuliskan satu kalimat sederhana:
“Menjadi
berguna tidak harus dikenal, cukup dirasakan.”
Ia
menutup laptop
itu perlahan, lalu menatap langit malam. Di dalam rumah, Bu Tini memanggilnya
untuk makan malam.
Pak
Adhi berdiri, tersenyum, dan masuk ke dalam.
Di
dunia yang sering mengukur nilai dari seberapa terlihat seseorang, Pak Adhi
memilih jalan yang berbeda menjadi
berarti tanpa harus terlihat.
TENTANG PENULS
Penulis lahir
di Bumi Roggolawe, Tuban 19 Maret 1995. Menggeluti dunia tulis menulis sejak
mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Antologi pertamanya berjudul ARUNA
yang dimuat bersama penulis nasional lain dalam buku Antologi Sekuntum Melati.
Beberapa kali puisinya juga pernah dimuat di Radar Tuban (2013, 2014, 2015).
Buku keduanya antologi cerpen berjudul SERULING PENGHANTAR KEHANGATAN ditulis bersama
rekan mahasiswa PPG Prajabatan UNESA G1 2013 dan murid SMP Negeri 28 Surabaya.
Saat ini penulis menjadi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2
Sukodono.
