FILOSOFI KETUPAT

Sumber gambar: https://www.freepik.com

FILOSOFI KETUPAT

Oleh: Oleh : Nuraini, S.Pd., M.Pd.

Guru SMPN 1 Gedangan

 

Ketupat merupakan suatu simbol unik dalam lebaran, makan khas yang dibungkus dari janur ini terbuat dari bhaan dasar beras yang dinnaak secara tanak. Ketupat ini biasanya dimakan dengan opor/lodeh dan juga sambel goreng hati. Namun di balik sisi naikmat makan ini, terdapat banyak filosofi yang bisa kita ambil di dalamnya.

Kupat bermakna “Ngaku Lepat” ( mengakui kesalahan)

Dalam budaya Jawa, ketupat atau kupat merupakan kependekan dari nhaku lepat, yang berarti mnegkui kesalahan. Hal ini menunjukkan kerendahan hati untuk memint amaaf dan memaafkan saaat idul fitri.

Jatining Nur (Cahaya Sejati) : Janur (Daun kelapa muda)  yang digunkana sebagai pembungkus melambnagkan Jatining Nur  atau Cahaya sejati. Bermakan kembalinya manusia ke keadaan suci setelah berpuasa Ramadhan.

Anyaman rumit (Lika-liku hidup)

Anyaman januryang rumit melambangkan kesalahan, dosa, dan liku-liku kehidupan manusia, namun jik adiselesaiakna dengan sabar, akan Kembali menjadi indah.

            Nasi Putih (Kebesaran Hati ) Isi nasi putih yang padat di dlama ketupat, lemabnagkan kesucian hari setelah sebulan berpuasa dan bermaaf maafan.

 

Laku Papat (Empat Tindakan) Selain ngaku lepat, ketupat juga melambnagkan laku papat (empat Tindakan) , selain ngaku lepat ketupat juga melambnagkan Laku Papat (Empat Tindakan)

Lebaran : Pintu ampunna terbuka lebar setlah puasa

Luberan : Bersedekah/ berbagi rezeki (Zakat )

Leburan : Dosa-dosa melebur dan habis karena saling memaafkan

Laburan : menjaga kesucian lahir dan batin (Seperti putihnya kapur/labur)

 

Ketupat juga sering dikaitkan dengan tradisi yang diperkenalkan oleh sunan Kali Jaga di Tanah Jawa.

 

Previous Post Next Post