Membangun Habituasi dengan Aplikasi dan KolaborasiOleh: Abdullah Makhrus
MALAM itu masuk pesan wali murid dalam chat WA saya. Isinya kurang lebih tentang curhatan bahwa anaknya masih agak sedikit sulit disuruh salat dan berkata kotor kalau lagi marah.
Indikasinya cukup jelas diceritakan. Masih sering molor dan berulang-ulang kali harus diingatkan ketika akan salat. Kode permintaannya pun, singkat dan padat.
"Biasanya kalau sama gurunya, dia lebih nurut, Pak. Mohon bantuannya agar bisa dinasehati ya, Pak!"
"Baik bunda, akan saya ajak diskusi ananda besok," ujar saya kemudian.
Dari sini saya kemudian berpikir. Apa ya yang bisa saya lakukan untuk membantu anak ini agar terbentuk kebiasaan salat tanpa disuruh?
Lantas saya mencoba membuat sebuah aplikasi yang sederhana. Berbekal ilmu kecerdasan buatan yang pernah saya pelajari beberapa waktu lalu bersama sahabat saya, Bu Ema, saya membuat aplikasi sederhana.
Aplikasi laporan harian kebiasaan baik yang dikerjakan siswa di rumah. Inti aplikasi ini berisi tools yang menginformasikan kebiasaan baik yang sudah dan belum terbiasa dikerjakan dalam keseharian.
Di antaranya adalah laporan kebiasaan salat, apakah sudah mandiri atau masih sering disuruh dan diingatkan. Surah apa saja yang dibaca saat murajaah harian. Terakhir, apa yang sudah dilakukan sang anak untuk membantu orang tuanya di rumah.
Tiga poin ini menurut saya penting, karena murid saya ada di kelas tahfidz. Kelas yang semestinya menjadi kelas percontohan perubahan perilaku terjadi. Dan, tentu menjadi harapan orang tua saat memilih kelas ini saat memasukkan anaknya di sekolah SD Muhida.
Tidak mudah memang membangun kebiasaan baik buat anak. Butuh kerjasama orang tua, siswa, dan guru. Karena memang kebiasaan tidak bisa terbentuk seutuhnya jika mengandalkan di sekolah. Harus ada kesinambungan program kebiasaan yang harus dikolaborasikan dengan orang tua.
Bagi orang tua yang sangat kooperatif, beberapa diantara mereka melaporkan dengan kabar yang menggembirakan. Anaknya banyak berubah. Kini salat tak perlu lagi disuruh. Pun, juga aktif murajaah dan membantu orang tua. Melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukan seumur hidupnya. Meskipun hanya menyapu rumah.
Kebiasaan kebaikan kecil, yang akan membentuk mental dan perilaku baik kelak di masa mendatang. Memang tidak semua orang tua bisa menyempatkan melaporkan tiga kebiasaan yang saya rencanakan. Mungkin karena kesibukan dan kelelahan setelah bekerja bisa menjadi pemicunya. Tidak masalah bagi saya, toh itu akan kembali kebaikannya untuk anaknya juga.
Saya juga berpikir. Berapa lama saya akan menguji coba program laporan harian kebiasaan baik itu? Setelah membaca salah satu refrensi jurnal saya mendapatkan sebuah jawaban.
Berapa lama sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk membangun kebiasaan baru?
Phillippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan di University College London mengungkapkan hasil penelitiannya.
Dalam sebuah studi penelitian berjudul How are habits formed: Modelling habit formation in the real world yang diterbitkan di European Journal of Social Psychology, Lally dan tim risetnya menemukan sebuah data menarik.
Rata-rata, dibutuhkan lebih dari 2 bulan sebelum perilaku baru menjadi otomatis — tepatnya 66 hari. Dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru dapat sangat bervariasi tergantung pada perilaku, orangnya, dan keadaan.
Dalam studi Lally, dibutuhkan waktu antara 18 hari hingga 254 hari bagi orang-orang untuk membentuk kebiasaan baru. (Sumber: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ejsp.674)
Saya kira relevan dengan rerata kebiasaan yang akan kita jalani dalam puasa Ramadan sebulan penuh. Jika dibiasakan dengan persiapan puasa di bulan Sya'ban dan enam hari di bulan Syawal, maka puasa yang awalnya berat akan jadi terasa ringan karena sudah menjadi kebiasaan.
Ya, membangun habituasi baik memang penuh tantangan. Namun, jika kita bersungguh-sungguh, jangan khawatir. Tantangan sulit pun akan kita taklukkan. Asal ada kemauan.
Bukankah kita senang jika anak kita memiliki kebiasaan salat tanpa lagi disuruh. Murajaah(mengulang) hafalan Alquran secara istikamah. Dan, membantu orang tuanya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ringan secara rutin di rumah.
Jika, itu bagian dari proses membentuk kebiasaan baik, tidak ada salahnya untuk mencobanya. Menaklukkan tantangan membangun kebiasaan baik ananda di rumah selama 18 hari hingga 254 hari.
Anda ingin tahu cara membuat aplikasinya? Atau ingin tahu aplikasi yang saya buat. Anda bisa mencobanya sendiri dengan cukup klik di sini https://monitoringibadah.oneapp.dev/
Biodata Penulis
Abdullah Makhrus, M.Pd.
Seorang Writer-Trainer-Teacher. Pengajar di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo. Kepala Bimbingan Belajar Matematika SD "Az Zahro“. Ketua Gerakan Budaya Literasi(GBL) Sidoarjo dan Sekretaris Rumah Virus Literasi(RVL). Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sidoarjo. Buku yang pernah di tulis 3 Buku Solo, 3 E-book, dan 10 Buku Antologi:
Karya Buku Solo
1 Pesan 1 Peristiwa.
2. Rahasia 15 Menit Membuat Blog dan Website Pribadi Bagi Pemula
3. Prau Dolanan Fatih
Karya Ebook
- Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 1-2
- Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 3-4
- Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 5-6
Pernah mendapatkan penghargaan penulis artikel di Jawa Pos berjudul Belajar Matematika dengan Nalar pada lomba Artikel Untukmu Guru 2008. Tulisannya pernah dimuat di harian Republika berjudul Menemukan Motivator Terbaik. Tulisan lainnya juga beberapa kali dimuat di Tabloid PENA Dinas Pendidikan Sidoarjo dan www.gblsidoarjoberkarya.com. Penulis bisa dihubungi di 081333148884. www.abdullahmakhrus.com

