Resolusi, Literasi, dan Aksi

Foto suasana perpusda Sidoarjo: dokumen pribadi

Resolusi, Literasi, dan Aksi

Oleh: Abdullah Makhrus

 

“Ketika input bacaan yang masuk ke benak seseorang adalah berkualitas dan berlangsung secara kontinun, tentu akan merangsang dan menginspirasi seseorang untuk memiliki pengetahuan yang luas, pengetahuan batin yang kaya, imajinasi yang visioner, dan intuisi yang tajam.” (Dr. Ng Tirto Adi MP, M.Pd.)

 

HARI ini, tepat di 1 Januari 2026. Kita sudah resmi memasuki tahun baru masehi. Saat ini perlu disadari bahwa kita masuk di era VUCA. Sebuah kondisi  dunia yang ditandai oleh Volatility (Perubahan Cepat), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kompleksitas), dan Ambiguity (Ambiguitas).

Ini menggambarkan kondisi lingkungan apa pun yang berubah sangat cepat, sulit diprediksi, dipenuhi banyak faktor saling terkait, serta informasi yang berubah setiap saat. Namun, sebagai orang yang beriman tentu kita tidak perlu khawatir. Karena ketika kita punya ilmu dan iman, maka semua bisa diselesaikan.

Tentu tidak hanya bermodal keyakinan, tapi ikhtiar maksimal perlu terus diusahakan. Sebagaimana kebiasaan terdahulu, di awal tahun, saya berusaha membuat resolusi sembari mengevaluasi  dan merefleksi. Sembari bertanya pada diri, kenapa resolusi tahun kemarin tidak tercapai dan terpaksa diremidi lagi di tahun ini..

Usut punya usut, terrrnyata pemirs, penyebabnya karena seringnya saya melakukan penundaan. Belajar dari kegagalan tahun lalu, maka sejak akhir bulan di tahun ini, saya mencoba memaksa untuk berbenah diri.

Khususnya di dunia literasi, saya benar-benar merasa “terbakar” setelah mendapatkan triger dari salah satu jurnalis, Pak Ahmad dari radarjatim.id dalam sebuah diskusi ringan di grup WA Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo . Beliau bercerita, “Ada lho Pak, seorang guru di Sidoarjo yang menulis selama 1000 hari tanpa henti.”

Mosok isok (apa bisa)?”, gumam saya dalam hati sambil berdecak kagum dibuatnya. Rupanya cerita itu mengusik ketenangan hati ini. “Kalau dia bisa, kenapa saya nggak?  Coba’en ae dhisik talah (coba saja dulu)”, pikir saya kemudian.

Hari berganti hari, setelah mencoba, tulisan saya akhirnya satu per satu terbit di website www.gblsidoarjoberkarya.com atau di blog saya sebagai tabungan tulisan di www.abdullahmakhrus.com setiap hari. 

Meskipun bisa dikatakan baru melangkah di pertengahan bulan Desember 2025. Nggak peduli dapat komentar atau nggak dari netizen, kudu tetep nulis (harus tetap menulis).

Tujuan saya cuma satu. Untuk tulisan sebulan ini jadi satu tekad. Semoga buku ini bisa segera diterbitkan dan berharap semoga bisa membantu orang-orang yang ingin  tahu cara menerbitkan buku pertama dalam hidupnya.

Di dalam hati terus berkecamuk sambil berujar dalam senyap, “Ora dadi urusanku, sing penting nyoba’o dhisik, Cak. Ben dino nyoba ae nulis. Nek kuat yo dilakoni, yen ora kuat ditinggal ngopi (bukan menjadi urusan saya, yang penting mencoba dulu, Kak. Tiap hari mencoba menulis. Kalau kuat diteruskan, kalau nggak kuat ditinggal cari kopi),” tekad saya sudah mulai membulat.

Maka, resolusi literasi di awal tahun 2026 ini, saya memberi makna angka 2 berarti meningkatkan energi menulis jadi 2 kali lipat. Sedangkan 26 bermakna, target harus menghasilkan total 26 karya.


Foto kover buku solo: dokumen pribadi 


Foto kover Ebook dan daftar buku antologi: dokumen pribadi


Jika hingga akhir tahun 2025 lalu masih mengumpulkan 3 buku solo, 3 ebook, dan 14 buku antologi, totalnya baru 20 karya. Masih harus mengejar taget 6 buku lagi agar genap jadi 26 karya, sesuai angka puluhan dan satuan pada angka tahun 2026.

Lantas apa aksi yang akan saya lakukan? Tentu sebagai bahan olahan membuat tulisan, saya harus banyak membaca. Menyiapkan sebagian dana untuk belanja buku-buku bermutu sebagai tambahan referensi.

Sumber gambar: book.google.co.id

Alhamdulillah, satu buku penting dari guru literasi saya, “Rahasia Top Menulis (RTM)” karya Dr. Much Koiri, M.Si., sudah dalam genggaman. Meskipun dalam bentuk Ebook, tidak jadi masalah. Karena mendapatkan buku fisiknya ternyata tidaklah mudah. Dengan membaca buku ini, saya dan Anda akan mendapatkan banyak  insight untuk mengasah ilmu kepenulisan.

Mengunjungi dan meminjam beberapa dari ratusan bahkan ribuan koleksi yang tersedia di Perpustakaan Daerah Sidoarjo, bagi saya juga bisa menjadi salah satu alternatif solusinya. Bingung juga memilihnya karena saking banyaknya.

Satu hal yang membuat bangga, di hari liburan seperti ini ternyata banyak sekali pengunjungnya. Semoga ini pertanda, gemar membaca terus membudaya di masyarakat kita.

Foto suasana perpusda Sidoarjo: dokumen pribadi


Setelah berkeliling menyusuri rak-rak buku, akhirnya, saya jatuh hati pada buku “Ganti Hati”, tulisan Dahlan. Kemudian, tergoda pula dengan judul unik buku “Menulislah dengan Marah, Kiat Sukses Menulis Opini di Media Massa”, karya Redi Panuju.

Foto kover buku karya Redi Panuju.dan Dahlan Iikan: dokumen pribadi


Terus terang, membaca tulisan jurnalis, ada kenikmatan tersendiri. Penyajian tulisan mereka sangat luwes terutama dalam mengolah kata demi kata. Tak jarang kadang gaya penulisan saya dipengaruhi tulisan-tulisan mereka.  

Di samping itu, saya membiasakan membaca ulang buku-buku yang berisi ilmu kepenulisan dari gurunda. Kadang kala sekadar ingin mencari quote penyemangat dari mereka, menemukan api yang membuat semangat menulisnya terus menyala.



Foto buku-buku referensi bacaan penulis: dokumen pribadi

Dampaknya, tentu akan membawa warna dari setiap tulisan yang kita hasilkan. Merefresh karya mereka, membuat banyak ide-ide terus bermunculan. Hal ini sering kali terbukti secara ampuh membuka kebuntuan atau stag  di dalam pikiran.

Selanjutnya terus berdiskusi dan merencanakan agenda untuk berkolaborasi menulis buku antologi bersama kawan-kawan literasi di grup GBL Sidoarjo.  Kegiatan yang sudah menunggu adalah bedah buku, pelatihan/webinar literasi.  

Tak lupa, menyiapkan program belajar menulis melalui pelatihan-pelatihan dengan penulis-penulis senior rupanya perlu mendapat jadwal khusus. Menjadi haus ilmu literasi ini wajib dilakukan, karena kalau sudah merasa pintar, semangat belajar jadi pudar. Bukankah, masih ada langit di atas langit?

Semoga ikhtiar dan niat yang sudah saya canangkan dibarengi kemudahan dan pertolongan dari Sang Pencipta kehidupan. Doa dilangitkan, ikhtiar dibumikan. Karena di mana bumi berpijak, di situ kita berdiri tegak. Joko Sembung naik becak, gak nyambung yo cak? Apa resolusi Anda di tahun ini? Nach?!


Catatan istilah:

insight: wawasan

triger: pemicu

Cak=Cacak : Sebutan kakak(laki-laki) dalam bahasa jawa

Sidoarjo, 1 Januari 2026

Biodata Penulis

Abdullah Makhrus, M.Pd.

Seorang Writer-Trainer-Teacher. Pengajar di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo. Kepala Bimbingan Belajar Matematika SD "Az Zahro“. Ketua Gerakan Budaya Literasi(GBL) Sidoarjo dan Sekretaris Rumah Virus Literasi(RVL). Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sidoarjo. Buku yang pernah di tulis 3 Buku Solo, 3 E-book, dan 10 Buku Antologi:

Karya Buku Solo

1 Pesan 1 Peristiwa.

2. Rahasia 15 Menit Membuat Blog dan Website Pribadi Bagi Pemula

3. Prau Dolanan Fatih

Karya Ebook

  1. Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 1-2
  2. Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 3-4
  3. Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 5-6

Pernah mendapatkan penghargaan penulis artikel di Jawa Pos berjudul Belajar Matematika dengan Nalar pada lomba Artikel Untukmu Guru 2008. Tulisannya pernah dimuat di harian Republika berjudul Menemukan Motivator Terbaik. Tulisan lainnya juga beberapa kali dimuat di Tabloid PENA Dinas Pendidikan Sidoarjo dan www.gblsidoarjoberkarya.com. Penulis bisa dihubungi di 081333148884. www.abdullahmakhrus.com

 

Previous Post Next Post