Mengapa Liburan Semester Adalah Investasi Profesional Guru?

Mengapa Liburan Semester Adalah Investasi Profesional Guru?
Oleh: Dra. Edy Suharyati

Kepenatan fisik bisa hilang dengan tidur atau sekedar rebahan tetapi kepenatan pikir,jiwa,emosi takkan bisa hilang hanya dengan diajak tidur. 
Pikiran, jiwa kita perlu bahagia,santai tanpa diganggu oleh rutinisan kerja. Liburan yang saya lakukan sangat murah namun sederhana,dengan cara pulang kampung menjenguk ibu dan menemui teman-teman sekolah putih abu-abu. 
Melihat senyum tawa ibu yang bahagia karena bertemu dengan anak-anaknya sayapun juga sangat bahagia. Saya dengan suami juga ke sekolah tempat kami dipertemukan dalam cinta yaitu SPGN 1 Yogyakarta. Dengan demikian jiwa kami bisa melayang,mengenang masa-masa indah di sekolah.
 Bagi seorang guru, lonceng akhir semester bukan sekadar tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar, melainkan sebuah katup pengaman bagi kesehatan mental. Secara ilmiah, profesi keguruan menuntut emotional labor (kerja emosional) yang tinggi. Menghadapi puluhan, ratusan bahkan ribuan karakter siswa setiap hari dapat menguras cadangan kognitif dan afektif.bagi guru.
Oleh karena itu, liburan semester bukan bentuk "kemalasan", melainkan fase penting untuk mencegah kondisi kelelahan ekstrem secara fisik,emosional, mental akibat stress berkepanjangan untuk meningkatkan keyakinan atau kepercayaan terhadap kemampuannya (burnout) untuk berhasil dalam melaksanakan tugas atau mengatasi situasi tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan (efikasi diri) di semester mendatang.

1. Neuropsikologi dari Istirahat: Memberi Ruang bagi Otak
Saat bekerja, otak kita terus-menerus menggunakan serangkaian ketrampilan koqnitif tingkat tinggi yang mengontrol dan mengelola pikiran, emosi. Tindakan untuk mencapai tujuan seperti merencanakan,memecahkan masalah dan lain-lain atau Executive Function untuk merencanakan materi dan mengelola kelas. Tanpa jeda, otak akan mengalami kelelahan kognitif.
Liburan yang edukatif memungkinkan otak berpindah dari mode "Task-Positive Network" (fokus penuh pada tugas) ke "Default Mode Network" (saat otak beristirahat namun tetap memproses informasi secara kreatif). Di fase inilah biasanya muncul ide-ide segar untuk metode pembelajaran baru.

2. Strategi Liburan "Smart & Fresh"
Agar liburan tetap berbobot namun tidak melelahkan, berikut adalah beberapa aktivitas yang bisa dilakukan:
Wisata Literasi dan Budaya: Mengunjungi museum, situs sejarah, seperti sekolah saya dulu yaitu SPGN 1 Yogyakarta yang merupakan tempat perundingan Budi Utomo ,menghadiri pameran seni bukan hanya menyegarkan mata, tapi juga memperkaya "bank konten" untuk materi ajar di kelas.
Micro-Learning Tanpa Beban: Alih-alih mengikuti pelatihan formal yang kaku, cobalah mempelajari keterampilan hobi yang selama ini tertunda (seperti fotografi, berkebun, atau memasak,menimba air sumur dengan timba kerek tanpa sanyo di desa). Keterampilan baru ini secara tidak langsung melatih elastisitas otak.
Digital Detox secara Parsial: Memberi jarak dari grup WhatsApp sekolah selama beberapa hari dapat menurunkan level kortisol (hormon stres) secara signifikan.

3. Refleksi Tanpa Penghakiman
Liburan adalah waktu terbaik untuk melakukan refleksi pedagogis. Tanpa tekanan administrasi, guru dapat merenungkan:
 Metode mengajar apa yang paling efektif di semester  lalu?
Hubungan dengan siswa yang mana yang  perlu diperbaiki?
Hal baru apa yang ingin dicoba di semester depan?

Kesimpulan
Liburan semester yang berkualitas bagi guru haruslah seimbang antara restorasi fisik dan stimulasi intelektual. Guru yang kembali ke kelas dengan energi penuh dan pikiran yang segar akan jauh lebih inspiratif dibandingkan guru yang memaksakan diri bekerja tanpa henti. Selamat berlibur, Bapak dan Ibu Guru. Anda layak mendapatkannya.
Previous Post Next Post