Baper untuk Tingkatkan Keaktifan Peserta Didik

 

Baper untuk Tingkatkan Keaktifan Peserta Didik


Oleh: Achmad Fendy Rosyidin, S.Pd.

SDN Gamping 2 Kecamatan Krian

 

            Dalam dunia pendidikan, istilah baper sering diasosiasikan dengan perasaan emosional yang berlebihan. Namun, konsep baper dapat digunakan secara positif untuk meningkatkan keaktifan peserta didik di dalam kelas. Dalam konteks ini, baper bukan hanya tentang melibatkan emosi, tetapi juga menciptakan keterhubungan emosional antara siswa, guru, dan materi pembelajaran.

Pertama, membangun hubungan emosional yang positif antara guru dan siswa dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan menyenangkan. Guru yang mampu memahami kebutuhan emosional siswa dan menunjukkan empati akan membangun kepercayaan yang kuat. Ketika siswa merasa dihargai dan dimengerti, mereka cenderung lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi dan kegiatan kelas.

Kedua, membuat materi pembelajaran relevan dengan pengalaman dan minat siswa adalah cara efektif untuk memicu baper. Misalnya, menggunakan contoh-contoh yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari atau peristiwa yang sedang tren dapat membuat siswa lebih antusias. Ketika siswa merasa materi pelajaran memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka, motivasi untuk belajar akan meningkat secara signifikan.

Selain itu, guru dapat memanfaatkan cerita atau narasi emosional dalam penyampaian materi. Cerita yang menggugah perasaan akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam, sehingga siswa lebih mudah mengingat konsep yang diajarkan. Teknik seperti ini sering digunakan dalam pembelajaran humaniora, tetapi juga dapat diterapkan pada mata pelajaran lainnya untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Mengintegrasikan kerja kelompok dan aktivitas kolaboratif juga dapat memanfaatkan elemen baper untuk meningkatkan keaktifan siswa. Dengan melibatkan emosi seperti rasa tanggung jawab terhadap tim atau rasa bangga akan kontribusi, siswa akan lebih termotivasi untuk terlibat aktif.

Kesimpulannya, baper dalam konteks pendidikan bukanlah hal yang negatif, melainkan strategi untuk membangun keterlibatan emosional yang positif. Ketika guru mampu memanfaatkan emosi untuk menciptakan pengalaman belajar yang relevan, menyenangkan, dan bermakna, keaktifan dan partisipasi peserta didik akan meningkat secara signifikan. Pendidikan yang melibatkan hati dan pikiran sekaligus adalah kunci untuk pembelajaran yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Previous Post Next Post